Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 8 Maret 2013 | 08:07 WIB
  • Clara Ng, Menulis Demi Kebahagiaan (II)

  • Oleh
    • Wuri Handayani,
    • Rizky Sekar Afrisia
Clara Ng, Menulis Demi Kebahagiaan (II)
Photo :
Clara Ng, tak pernah membayangkan dirinya sebagai penulis.

VIVAlife - Mungkin Anda merasa tidak pernah pandai menuliskan sebuah cerita. Tapi istilah 'bisa karena biasa' seperti memang benar adanya. Ini juga yang dianut Clara Ng, novelis yang sudah berhasil menelurkan 12 novel poluler, beberapa kumpulan cerita pendek, 6 antologi sastra, dan 5 buku dongeng. Hebatnya, karya ini juga sudah menyeberang ke Asia dan Eropa.

Padahal, sebelumnya ia hanyalah seorang pekerja kantoran di bagian sumber daya mansuia di sebuah perusahaan shipping Korea. Ia menjalani fase baru hidupnya sebagai penulis pada tahun 2000. 

Clara kecil bahkan tak pernah bercita-cita menjadi penulis, ataupun membayangkan seperti apa profesi penulis itu. Pada VIVAlife, Clara menceritakan bagaimana ia mencari cinta sejatinya. Kecintaan yang ternyata ia jatuhkan pada menulis, menulis, dan menulis.
 
Konsisten

Clara percaya bahwa ada orang-orang yang memang memiliki bakat menulis. Namun, jika tidak dilatih, itu tidak akan matang. "Tanpa latihan terus menerus, tanpa dorongan, tanpa obsesi yang berlebihan terhadap menulis, bakat itu tidak akan tumbuh dan hidup," tutur wanita yang mengaku mengagumi banyak penulis dunia ini. 

Hal penting lainnya setelah berlatih menulis, adalah menjaga konsistensi. Tak jarang, di tengah proyek sebuah penulisan, Clara merasa buntu. Itu wajar. Ia bahkan mengibaratkannya dirinya sedang sakit.

"Caranya ya diobati, jangan dibiarkan makin lemah dan akhirnya sakit parah," katanya beranalogi. Ia memulihkan mood menulis dengan membaca buku atau menonton film. Dari situ, ia bukan hanya sekadar mendapat ide, tetapi juga punya dorongan untuk kembali menulis. 

Sampai mati

Dari sekian banyak penulis di dunia, masing-masing punya tujuan berbeda dalam tulisannya. Pramoedya Ananta Toer misalnya, ia pernah mengungkap tujuannya menulis adalah: agar suaranya tak pernah padam sampai kapanpun.

Berbeda dengan Clara, ia menulis untuk tujuan yang sederhana. Kebahagiaan. 
Karenanya, ia selalu mengawali menulis dengan rasa bahagia. Clara mengaku tak pernah menyematkan misi apapun dalam tulisannya. Ia menulis dengan ringan, bebas, dan rasa bahagia tersebut.

"Saya menulis apa yang saya senang, saya gelisahkan, dan yang ingin saya suarakan. Jadi kayaknya nggak ada ciri khas tertentu ataupun tujuan tertentu. Saya menulis dengan melepaskan beban-beban, bahwa menulis harus seperti ini dan itu. Yang jelas, cerita apapun selalu saya tuliskan dengan gaya fiksi," tegas wanita yang terpilih sebagai 15 most inspired women 2010 versi majalah franchise Amerika: More.

Selain menulis Clara tak memiliki passion lain dalam hidupnya. Menulis saja sudah membuatnya bahagia, sehingga ia tak punya tujuan lain.

"Saya akan menulis sampai nanti mati," ujarnya yakin. Memang, di luar menulis ia tak memiliki pekerja lain. "Selain menulis ya menjadi ibu, dan itu sama sekali tidak mengganggu," ucapnya sambil tersenyum.

Hidupnya memang untuk menulis, tapi ia tidak lantas mewajibkan kedua anaknya menuruni jalan hidup yang sudah dipilihnya. Ia sama sekali tidak mengarahkan anaknya menjadi penulis, atau apapun yang ingin dicapainya. Mereka dibiarkan bebas menjadi apa yang diinginkan. 

Novel populer Clara Ng:

1. Tujuh Musim Setahun - 2002
2. Seri Indiana Chronicle: Blues - 2004
3. Seri Indiana Chronicle: Lipstick - 2005
4. Seri Indiana Chronicle: Bridesmaid - 2005
5. The (Un)Reality Show - 2005
6. Utukki: Sayap Para Dewa - 2006
7. Dimsum Terakhir 2006
8. Tiga Venus -  2007
9. Gerhana Kembar - 2007
10. Tea for Two - 2009
11. Jampi-Jampi Varaiya - 2010
12. Ramuan Drama Cinta - 2011

Video wawancara, dan cerita lain Clara baca melalui tautan ini.