Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 16 Juni 2017 | 09:55 WIB
  • Tak Mudah Pulihkan Anak Korban Pornografi dan Kejahatan Seks

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Zahrul Darmawan (Depok)
Tak Mudah Pulihkan Anak Korban Pornografi dan Kejahatan Seks
Photo :
Ilustrasi kekerasan seksual terhadap anak.

VIVA.co.id – Angka kejahatan seksual yang melibatkan anak di bawah umur di Indonesia kian mengkhawatirkan tiap tahunnya. Data Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebut kan bahwa dalam sehari ada 25 ribu orang mengupload pornografi anak.

Selain itu asisten deputi perlindungan anak dalam situasi darurat dan pornografi, Valentina Ginting pada menyebutkan pada 2016 selama 2 bulan ada beberapa ribu orang terkait dengan tweet pornografi anak. Hingga akhirnya beberapa waktu lalu Presiden Jokowi menyebutkan bahwa kejahatan seksual anak adalah kejahatan luar biasa. 

Seperti rantai yang sulit diputus, tindak kejahatan seksual (termasuk paparan pornografi) yang terjadi pada anak-anak akan terus berlanjut, meninggalkan kesan traumatik yang sulit dihilangkan atau dipulihkan kondisinya. 

Lebih lanjut, Valentina menyebutkan bahwa anggaran pemerintah sangat terbatas untuk upaya pemulihan korban kekerasan seksual anak. Karenanya dibutuhkan upaya ekstra dari beberapa pihak. 

“Paling sulit bagi kami adalah untuk mengbalikannya. Negara kita lagi dihitung nih sama Unicev, dan habis pun uang Negara mungkin tidak akan cukup untuk memulihkan kondisi si anak,” ujar Valentina saat ditemui di Pondok Pesantren Nuruz Zahroh, Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu..

Terkait permasalahan tersebut, Valentina menyebut jika Microsoft dan Facebook Indonesia telah ikut ambil bagian menekan ruang gerak pelakunya.

“Microsoft sudah mulai melakukan tindakan, siapa yang mendownload akan ditutup. Siapa penggunanya akan ditutup. Artinya mereka sudah berperan dan KPAI juga sudah berkoordinasi dengan Facebook Indonesia untuk melakukan pemblokiran pada siapapun terkait pornografi anak,” ujarnya.

Sedangkan pihaknya, kata Valentina, juga terus aktif melakukan penanggulangan.  Salah satunya dengan kampanye Berlian yakni Bersama Lindungi Anak. 

Kegiatan tersebut mulai aktif sejak Ramadan dan saat ini di fokuskan di lingkungan pondok pesantren, salah satunya di Pondok Pesantren Nuruzzahroh, Depok.

“Kegiatan ini dilakukan untuk memberikan pemahan khususnya anak-anak santri yang ada di Depok ini terkait dengan perlindungan anak agar mereka mengerti tentang hak-hak dan kewajiban, serta bisa memproteksi diri terhadap kekerasan maupun kejahatan seksual, " ujarnya.

Selain itu, Veronica mengaku bahwa kegiatan ini adalah yang pertama dilakukan, sehingga harapannya tahun depan bisa terus berlanjut.

" Ini pertama kali kamu lakukan, selain itu kami juga sudah membentuk kader-kader di tiap provinsi untuk ikut melakukan program perlindungan terhadap anak agar acara ini terus berlanjut,” ujarnya.