Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 16 Juni 2017 | 10:46 WIB
  • Kirab Seribu Tumpeng di Solo Sambut Lailatul Qadar

  • Oleh
    • Tasya Paramitha,
    • Fajar Sodik
Kirab Seribu Tumpeng di Solo Sambut Lailatul Qadar
Photo :
  • VIVA.co.id/Fajar Sodiq
Kirab Seribu Tumpeng di Solo.

VIVA.co.id – Keraton Solo menggelar kirab malam selikuran untuk menyambut datangnya malam lailatul qadar pada bulan suci Ramadan. Kirab malam selikuran tersebut mengusung sebanyak seribu tumpeng yang selanjutnya direbutkan abdi dalam dan warga di Joglo Sriwedari, Solo, Kamis malam, 15 Juni 2017.

Ratusan peserta kirab yang terdiri dari abdi dalem dan prajurit Keraton Solo mulai keluar berbaris dari pintu kori kamandungan. Barisan pertama merupakan drum band keraton, yang dilanjutkan dengan para prajurit keraton. Setelah itu barisan abdi dalem keraton yang membawa ancak cantoko yang berisi seribu nasi tumpeng.

Selanjutnya, di belakangnya terdapat iring-iringan abdi dalem yang membawa lampion serta lampu ting. Tak ketinggalan barisan abdi dalem yang membawa perangkat gamelan yang juga ditabuh selama prosesi kirab berlangsung.

Iring-iringan kirab seribu tumpeng dalam menyambut malam selikuran kali ini rutenya berbeda. Kalau tahun lalu dari leraton menuju Masjid Agung, kini beralih dari Keraton Solo menuju Joglo Sriwedari yang berjarak sekitar tiga kilometer.
 
Di sepanjang rute yang dilalui kirab yang melintasi Jalan Slamet Riyadi Solo, warga terlihat berjajar menonton iring-iringan kirab. Tak hanya itu, para pengendara kendaraan, baik roda dua maupun roda empat ikut mengabadikan momen langka tersebut.

Setelah prosesi kirab seribu tumpeng tiba di Sriwedari, selanjutnya dilakukan serah terima oleh pihak keraton kepada ulama keraton. Sebelum diperebutkan oleh para abdi dalam dan warga, bungkusan nasi tumpeng yang diberi wadah ancak cantaka itu didoakan terlebih dahulu.

Selanjutnya acara puncak dari prosesi malam selikuran adalah merayah nasi tumpeng. Begitu doa selesai dibacakan, abdi dalem dan warga langsung bergerak menuju wadah nasi tumpeng. Mereka berebut untuk mendapatkan nasi tumpeng yang dianggap oleh sebagian abdi dalem memiliki tuah. Hanya dalam hitungan lima menit, seribu nasi tumpeng itu ludes.

Kirab Seribu Tumpeng di Solo.

Makna di balik kirab seribu tumpeng

Salah satu abdi dalem dari Klaten, Marinem mengaku cukup senang karena dalam rayahan nasi tumpeng berhasil mendapatkan dua nasi yang dibungkus di dalam plastik. Bungkusan nasi tumpeng itu terdiri dari nasi gurih, telur puyuh, kedelai hitam, cabai hijau, mentimun dan lainnya.

"Ini dapat dua, satu dimakan di sini dan satunya dibawa pulang untuk diberikan kepada anak-anak di rumah," kata dia usai rayahan nasi tumpeng.

Ia pun mengaku jika nasi tumpeng pada kirab malam selikuran Keraton Solo dipercaya memiliki tuah. Untuk itu, Marinem pun berharap dengan memakan nasi tersebut bisa diberi keselamatan, keberkahan, sehat dan umur panjang.? "Ya, kami percaya jika nasi ini diberkahi," ucapnya.

Turun-temurun

Sementara itu, Humas Keraton Solo, KP Bambang Pradotonagoro mengatakan, kirab malam selikuran memiliki makna bahwa kegiatan ini digelar untuk menyambut malam seribu bintang dalam lailatul qadar. Acara ini telah dilakukan secara turun-temurun di Keraton Solo setiap datangnya malam kedua puluh satu dalam bulan Ramadan.

"Malam lailatul qadar dianggap sebagai malam penuh berkah, untuk itu keraton pun menggelar acara syukuran dengan memberikan seribu tumpeng bersama masyarakat," katanya.

Dalam kirab malam selikuran kali ini, Bambang mengatakan jika rute kirab berbeda dengan prosesi malam selikuran pada tahun lalu. Rute yang dipilih pada saat ini dikembalikan seperti pada masa Raja Pakubuwono X yang mengambil rute dari keraton menuju Bonrojo di Sriwedari.

"Kita kembalikan rutenya seperti pada masa pemerintahan Sinuhun Paku Buwono X dari keraton ke Sriwedari," ucapnya.

Dalam kirab malam selikuran ini, disebutkan dia ada 700 peserta yang ikut. Mereka adalah para ulama abdi dalem dan prajurit. Para peserta kirab berjalan kaki dari keraton menuju Sriwedari.

"Selain itu, peserta kirab terdiri dari prajurit 8 bergodo dan penabuh gamelan," ujarnya menambahkan. (ren)