Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 21 November 2016 | 12:09 WIB
  • Jerih Payah Seorang Tukang Sol Sepatu

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Muhammad Nur Taaufiqul Hafizh dan Satrio Pribadi
Jerih Payah Seorang Tukang Sol Sepatu
Photo :
Tukang sol sepatu

VIVA.co.id – Usianya yang menginjak 50 tahun memang sudah tidak muda lagi. Membuat fisiknya tak sebugar waktu ia muda dulu. Meskipun begitu, niatnya untuk mencari pelanggan tak kunjung padam. Butir-butir air yang menetes di dahinya melengkapi langkahnya  mulai dari satu daerah ke daerah lain. Hal ini ia lakukan sejak matahari terbit hingga menjelang padam.

Dua buah kotak yang berisikan benang dan jarum jahit ia pikul. Menggunakan setangkai bambu yang diikatnya melintang di atas bahu. Satu demi satu sepatu mulai ia rajut guna mempercantik sepatu para pelanggannya.

Seorang istri dan dua orang anak yang sedang menunggu di rumah selalu mendukung dan berdoa atas usaha yang dilakukannya. Selembar kertas yang bernominalkan mulai ia kumpulkan untuk kepentingan masa depan anak-anaknya.

Bertahun-tahun ia menjalankan usaha ini dengan semangat ihklas dan sepenuh hati. Mengingat istri dan anaknya yang selalu mendoakan supaya ayah mereka cepat pulang sesuai dengan harapan yang mereka inginkan.

Dua orang anaknya yang semakin dewasa menambah beban biaya hidup keluarganya. Hal inilah yang menyebabkan dirinya semakin bergelora untuk menciptakan sebuah usaha baru dengan menggunakan hasil jerih payahnya saat menjadi tukang sol sepatu.

Dengan luas tanah yang tidak begitu besar, berkisar antara 6x6 meter persegi, ia mulai berani memberikan modal usaha untuk kedua anaknya. Berdirilah sebuah tenda yang ia peruntukkan sebagai rintisan usaha dalam memperbaiki keuangan keluarganya.

Dua tahun berlalu, usaha yang telah dirintis keluarganya sebagai warung pecel lele itu membuahkan hasil. Keuntungan yang diperoleh semakin membuat ia berani untuk membuka cabang baru di beberapa tempat di Kabupaten Bogor. Usaha ini dipegang penuh oleh kedua anaknya yang masing-masing membuka cabang sendiri.

Dengan usahanya yang memiliki keuntungan lebih tidak lantas membuat mereka lupa akan usaha yang dilakukan oleh orang tuanya. Dan orang tuanya sendiri masih tetap menjajakan jasa sebagai tukang sol sepatu keliling. (Tulisan ini dikirim oleh Muhammad Nur Taaufiqul Hafizh dan Satrio Pribadi, mahasiswa Universitas Pancasila, Jakarta)