Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 9 Desember 2016 | 12:37 WIB
  • Mahasiswa President University Pelajari Politik Praktis

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Mohammad Shihab
Mahasiswa President University Pelajari Politik Praktis
Photo :
Para pembicara dalam talkshow yang diadakan President University.

VIVA.co.id – Jelang pemilihan kepala daerah serentak, para mahasiswa President University menyelenggarakan acara talkshow "Indonesian Youth for Future Political Generation". Acara ini menghadirkan para praktisi komunikasi dan pengamat politik dari berbagai institusi, ratusan mahasiswa, dan masyarakat umum. Mereka belajar bagaimana pola-pola tim kampanye politik mendekati masyarakat.

Mahadi Rahman Harahap, koordinator Program Akar Rumput Strategic Consulting menuturkan pengalamannya sebagai manajer kampanye Dimas Oky Nugroho, salah satu kandidat Wali Kota Depok tahun 2015. “Dalam pilkada ada peperangan di darat dan udara. Tim kampanye kami hanya 11 orang, sedangkan ada 2,2 juta jiwa penduduk kota Depok yang harus didekati dalam waktu 2-3 bulan. Untuk memperkenalkan kandidat, kami mulai dari para tokoh agama karena Depok adalah kota yang agamis,” kata Mahadi, di XO Function Hall, Jakarta Barat, Kamis (8/12).

Menurutnya, kampanye di darat membutuhkan biaya yang lebih bila dibandingkan dengan kampanye udara melalui media sosial dan media massa. Padahal, dana kampanye perlu diefisiensi. “Kami datang salat subuh dan salat lainnya di masjid-masjid. Datang ke pasar dan ke acara-acara pernikahan. Semua kegiatan ini gratis. Paling bayar infak ke masjid dan beli sedikit saat di pasar. Kami juga gencarkan serangan ‘udara’ yaitu media massa dan media sosial Facebook. Karena di Depok, Facebook lebih kuat dibanding Twitter. Serangan di darat dan udara harus sama-sama diintensifkan,” lanjut Mahadi.

Sementara itu, pengamat politik dari Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago menyatakan para kandidat akan saling menyerang pribadi masing-masing. Ia juga menilai cuaca politik masih sangat dinamis. “Misalnya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Elektabilitas dia sangat tinggi. Lembaga-lembaga survei menyebut elektabilitasnya mencapai 40-50%. Sayang, peristiwa di Pulau Seribu merobohkan bangunan elektabilitasnya. Ini memang bukan hari kiamat bagi Ahok, namun ia perlu kerja keras,” kata Pangi.

Diskusi politik ini merupakan proyek kolaborasi mahasiswa antar mata kuliah di program studi ilmu komunikasi. "Acara ini bertujuan untuk berbagi dengan generasi muda mengenai politik praktis dan peran-peran kehumasan dalam aktivitas praktis tersebut," ujar Achmad Supardi, salah satu dosen President University yang menggagas acara ini.

Selain konsultan politik, lebih dari 200 mahasiswa dari berbagai universitas di Jakarta dan masyarakat umum juga mendengarkan paparan revolusi Riza Zulverdi, Kepala News Gathering CNN Indonesia dan Raditya Putra Pratama, Kepala Departemen Kajian Kerjasama Luar Negeri Partai Gerindra. (Tulisan ini dikirim oleh Mohammad Shihab, M.I.Kom, President University)