Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 14 Desember 2016 | 15:38 WIB
  • Semalam Tanpa Azan di Pulau Kenawa

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • zharnd
Semalam Tanpa Azan di Pulau Kenawa
Photo :
  • U-Report
Pemandangan Kenawa dari menara air.

VIVA.co.id – Katanya, Sumbawa itu panas. Katanya, Sumbawa itu seribu pulau, seribu sapi. Katanya, Sumbawa itu gersang. Katanya, Sumbawa itu mahal. Dan katanya, Sumbawa itu jauh.

Katanya, Pulau Kenawa itu indah. Katanya, Pulau Kenawa itu menantang. Katanya, Pulau Kenawa itu menarik. Dan katanya, Pulau Kenawa itu ada di Sumbawa.

Suatu siang saya menghabiskan waktu di Perpustakaan Pusat UIN Malik Ibrahim Malang lantai tiga bersama Mbak Jule. Berawal dari celetukan ingin main ke Pulau Lombok dan kemudian merembet cetusan main ke Pulau Kenawa akibat blogwalking. Di mana? Di Sumbawa. Lebih jauh lagi menyeberang semakin ke timur Indonesia.

Bagi saya seorang pejalan pemula, bagai serbuk sari bunga Anggrek. Kecil hampir tak terlihat, namun memesona menarik saya untuk menyipitkan mata melihat detailnya. Memang bisa ya sampai sana? Harus lompat berapa pulau? Manusianya bagaimana? Mari awali dengan bacaan Basmalah.

Memilih jalur lewat Kota Mataram yang tertempuh sekitar satu setengah jam dari pelabuhan Bangsal, kemudian saya mengambil alih kemudi menuju pelabuhan Kayangan dengan estimasi waktu tempuh tiga jam. Seiring berputarnya roda motor dan waktu melintasi jalanan di sisi lain pulau Lombok. Sebenarnya tak terlalu berbeda dengan keadaan di Jawa, namun pikiran tetap melompat-lompat, bermotor ke pelosok Lombok menuju Sumbawa.

Serasa melayang beradu dengan truk-truk besar yang sepertinya baru menyeberang dari pulau seberang. Juga mengejar waktu agar tidak perlu menunggu waktu menyeberang seperti di pelabuhan Bakauheni, Lampung. Ternyata di Pelabuhan Kayangan ini, penyeberangan tersedia 24 jam. Waktu terus bergulir seiring bertambahnya papan penunjuk arah menuju Pelabuhan Kayangan yang terlewati.

Nama Pelabuhan Kayangan terdengar di telinga saya bagai datang dari negeri dongeng. Namun, kemudian sisi kanan kiri jalan mulai renggang. Rumah penduduk pun kemudian tergantikan oleh padang ilalang kering kecoklatan ber-aura padang Afrika yang biasa saya tonton di National Geographic. Ditambah segaris laut biru tua. Kalau jantung saya bisa bicara, pasti sudah teriak “huwaa huwaa huwaaa,” sambil lompat ke sana ke mari.

Tak lama kemudian, di depan sana, semakin dekat terlihat gerbang selamat datang di Pelabuhan Kayangan yang menyambut kami dalam diam. Untuk menyeberang dengan motor terkena biaya Rp 50.000, dan harga bervariasi tergantung jenis kapasitas mesin motor. Setelah membayar, kami mengantre menunggu giliran masuk ke dalam anjungan kapal.

Aku terakhir kali menyeberang laut adalah ketika Januari awal tahun ini menuju Lampung bersama dengan Mbak Jule juga. Mengumpulkan memori lebih jauh lagi. Lompat ke waktu lampau, zaman ketika umi dan abi dinas di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Kapal dan laut. Jawa, Sulawesi, Lampung, Lombok, Sumbawa. Itulah Indonesia yang disebut negara kepulauan dengan belasan ribu pulaunya.

Kapal menderu meninggalkan Pelabuhan Kayangan. Seinci demi seinci kapal dengan muatan truk-truk besar di bagian bawah menuju ke sana. Sambil berpikir mengenai otak manusia. Sesederhana menerima kapal kayu nelayan dapat membawanya mencari ikan di laut tanpa tenggelam. Kemudian beberapa truk besar sekian ton dapat terangkut di atas kapal. Teknologi. Terberkahilah bagi yang memanfaatkan kemampuan otak, mengeksplorasi ilmu yang terserak di bumi luas ini.

Mengamati penumpang lain dalam kapal. Beberapa bule tampak asyik mengamati perjalanan dengan travel bag besar di samping mereka. Apakah kami memiliki tujuan yang sama? Seorang bapak-bapak kemudian bernyanyi sebuah lagu candaan dengan lantang. Beberapa penumpang tertawa. Ada yang memalingkan wajah seperti terganggu dengan suara yang tidak bisa dibilang indah tersebut. Ironi mencari nafkah.

Bosan duduk di kursi, saya pun bergeser duduk di lantai dekat teralis. Sedikit-sedikit dataran Sumbawa mulai terlihat. Pulau tempat beberapa teman kuliah berasal. Mempunyai teman berasal dari Bima yang dalam pikiran saya, ah entah di mana tempat itu. Saya tidak memiliki bayangan sejauh mana Pulau Sumbawa apalagi Kota Bima. Barulah saat ini saya berpikir betapa jauh perjalanan darat mereka untuk menuntut ilmu di Malang.

Setelah dua jam berlayar dan satu jam menunggu antre sandar di pelabuhan Poto Tano, kami sampai di daratan Sumbawa. Kalau diukur, sebenarnya lebih jauh jarak perjalanan ke Lampung. Bahkan bila dihitung singkatnya waktu karena kami menaiki pesawat dari Surabaya saat menuju Lombok. Namun, secara suasana hati, merasakan degupan jantung yang lebih. Tak sampai lima menit kami sudah sampai di gerbang dermaga Poto Tano yang berseberangan dengan Kantor Jembatan Timbang.

Kebetulan kami bertemu dengan bapak-bapak yang sedang santai di sebuah pos. Bertanya apakah ada yang bisa mengantarkan kami ke Kenawa. Ternyata salah satu dari tiga bapak-bapak tersebut adalah nelayan yang bersedia mengantarkan kami ke Kenawa, yang kemudian kami ketahui bernama Pak Cau. Setelah sedikit tawar-menawar, kami mendapat harga dua ratus ribu rupiah.

Sumbawa menunjukkan keramahannya. Bapak-bapak tersebut menyambut kami dengan hangat setelah tahu kami hanya berdua dari Malang. Bertukar cerita mengenai Pulau Kenawa yang sudah terkenal sampai ke Negeri Jiran. Sebelum ke pulau Kenawa kami terlebih dulu membeli makanan dan minuman untuk buka puasa sekalian sahur. Kami juga menyewa google glass, snorkel, dan pelampung di salah satu warung dekat dermaga dengan harga tiga puluh ribu rupiah.

Jajaran rumah penduduk di dekat dermaga Poto Tano sebagian berdinding tembok. Namun, sebagian besar masih beratap seng, berdinding kayu. Saya melihat beberapa anak bermain perahu-perahuan dari styrofoam besar di kubangan air kotor yang dibendung karena sampah rumah tangga. Senyum bahagia anak-anak kecil yang kontras dengan lalat berterbangan di antara tumpukan sampah, yang tentunya berpotensi menimbulkan penyakit.