Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 23 Desember 2016 | 07:34 WIB
  • Menjajakkan Rokok Demi Anak Istri

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Stevino Julio
Menjajakkan Rokok Demi Anak Istri
Photo :
  • VIVAnews/Maryadie
Pedagang asongan di jalan Jakarta

VIVA.co.id – Semangat pantang menyerah. Mungkin kata-kata itu cocok untuk Sarno yang menjajakkan rokok demi dapat bertahan hidup dan membahagiakan anak dan istrinya. Sarno (45), bapak dari dua anak ini salah satu penjual rokok di bilangan Jalan Sudirman, Jakarta. Sarno sendiri berasal dari Solo. Dia memilih datang berjualan di Jakarta karena menurutnya di Jakarta keuntungan yang dia dapatkan lebih banyak. Sehingga cukup untuk menghidupi dua anaknya yang saat ini masih sekolah TK dan SD.

Awalnya, Sarno bingung mencari bidang usaha yang ia harus tekuni. Pilihannya pun jatuh pada rokok. Karena saat itu ia menerima ajakan dari temannya yang sudah lebih lama berjualan rokok. Walaupun penghasilan yang ia dapatkan dari hasil berjualan rokok hanyalah cukup untuk biaya makan sehari-hari, namun ia tidak pernah bersungut atau pun menyesali hidupnya yang serba kekurangan.

Setiap pukul. 05.00 pagi ia sudah harus bergegas dari kontrakannya yang kecil meninggalkan anak dan istrinya yang masih terlelap tidur. Dia pergi untuk segera berjualan menjajakan dagangannya hingga pukul lima sore. Penghasilan yang ia peroleh tidaklah sebanding dengan cucuran keringat yang sudah ia teteskan.

Penghasilan yang ia peroleh setiap harinya hanyalah Rp350,000. Akan tetapi kadang ia berjualan sampai malam. Keuntungan yang ia dapatkan bila berjualan sampai malam bisa mencapai Rp600,000. Sarno pun harus pintar-pintar membagi penghasilan. Saat ditanya apakah uang segitu cukup, “Ya, besar pasak daripada tiang,” katanya, sambil membasuh mukanya yang kusam.

Dia juga mengatakan kalau ia harus pintar-pintar membagi uang. Karena ia harus menanggung uang makannya sehari-hari, ditambah dengan biaya untuk kontrakan yang harus ia bayarkan sebesar Rp500,000 per bulan. Belum lagi biaya untuk pulang ke kampung halaman dan memberi nafkah kepada anak istrinya.

Mujiono adalah salah satu sahabat Sarno yang juga berjualan rokok. Menurutnya Sarno orangnya baik.  Dia mengaku bahwa hubungan mereka sesama penjual rokok sangat terjaga. “Ya, sesama rekan kerja kalau ada apa-apa ya dibantu,” ujar Mujiono dengan senyum simpulnya.

Sarno mengaku sangat senang berjualan di sekitar Jalan Sudirman, Jakarta. Karena selain orangnya ramah-ramah dia juga menemukan pengalaman yang berwarna-warni. Walaupun tidak tinggal di kampungnya sendiri, namun ia dapat bermasyarakat dengan baik. Sehingga ia tetap semangat mencari nafkah demi menghidupi anak dan istrinya.

Dia juga berharap agar kelak nanti kedua anaknya tidak perlu lagi bersusah payah untuk berjualan rokok. Cukup ayahnya saja yang merasakan betapa kerasnya hidup dalam mencari uang untuk menghidupi anak dan istri. (Tulisan ini dikirim oleh Stevino Julio, mahasiswa Universitas Nasional, Jakarta)