Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 28 Desember 2016 | 13:34 WIB
  • Kisah Kakek Tua Penjual Pisang Keliling

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Azhar Achirul Muchlis
Kisah Kakek Tua Penjual Pisang Keliling
Photo :
Pak Musstofa, penjual pisang keliling.

VIVA.co.id – Di tengah hujan yang membasahi tubuh, serta di bawah terik panasnya matahari, bapak yang dikenal dengan nama Mustofa mencari nafkah dalam kesehariannya dengan mendorong gerobak yang berisikan dagangan pisang. Tidak pernah berubah profesi Pak Mus, panggilan Mustofa, yang selalu semangat mencari nafkah untuk membiayai kelima orang anaknya yang sedang menjalani masa-masa pendidikan.

Dalam kesehariannya, Pak Mus selalu berjalan berkeliling menjajakkan pisangnya. Dengan usia yang sudah menginjak 68 tahun, Pak Mus selalu sabar dan tabah menghadapi kerasnya kehidupan. Dengan rambut yang sudah memutihi seluruh kepala, dan kulit yang nampaknya terlihat keriput, tidak sama sekali terpikirkan olehnya untuk bersantai di usia senjanya. Karena tanggungan hidupnya yang masih amat sangat berat.

Dua belas tahun ditinggal oleh istrinya, kini Pak Mus selalu merangkap menjadi bapak serta ibu dari kelima anaknya. Mungkin berat untuk Pak Mus membiarkan anak-anaknya untuk memilih jalan sendiri-sendiri. Pak Mus selalu tersenyum setiap kali ia sampai di rumah petakan yang ia tempati. Sering terucap dari bibir bapak kelima anak ini, “Tua atau muda, bagiku sama saja. Masih harus bisa berpikir layaknya seorang lelaki yang kuat. Kuat dalam segala hal,” ucapnya lirih.

Lama sudah Pak Mus menjalani usaha yang terlihat sebelah mata ini. Namun, di situlah ia selalu mendapat pujian dari para tetangga serta pembelinya. Seorang pria tua yang mampu menghidupi lima orang anak dan bertanggung jawab membiayai anak-anaknya untuk dapat mengenyam bangku pendidikan yang lebih dari orang tuanya. Puluhan tahun Pak Mus berjualan pisang, tidaklah ia berniat mengganti gerobak yang sudah lama menemaninya berkeliling. Hujan dan panas sudah dirasa. Pahitnya penghasilan yang tidak menentu sudah dialami Pak Mustofa.

Pak Mustofa dikenal sebagai bapak tua yang ramah, santun, serta jujur. Ia tidak pernah mengeluh apapun yang ia dapati. Pagi hari selalu menjadi saksi kegigihannya untuk berjalan mencari nafkah. Dan sore pun selalu menjadi waktu penutupnya berjualan.

Tidak hanya pagi sampai sore, namun malam pun masih menuntutnya untuk bercakap kepada anak-anaknya. Kebiasaan yang selalu Pak Mus lakukan kepada lima orang anaknya, kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Bagaikan pohon yang selalu memberikan angin kepada orang yang singgah di bawahnya.

Pendapatan Pak Mus terbilang sangatlah rendah, dengan 80 ribu sampai 130 ribu rupiah per hari. Bersyukur adalah kunci yang ia jalani. Alhamdulillah Pak Mus sudah berhasil membuat anak-anaknya mengenyam bangku pendidikan.

Alya adalah anak pertamanya yang sudah menjadi seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Bogor. Alya adalah anak perempuan Pak Mus yang menjadi orang kedua dalam menjaga adik-adiknya. Selain itu, Alya juga yang membantu perekonomian keluarga Pak Mus.

  • AMSA Indonesia Apresiasi dan Dukung Komitmen Kemenpora
    AMSA Indonesia Apresiasi dan Dukung Komitmen Kemenpora
  • Tanamkan Cinta Alquran, Polisi Ini Ajari Anak-anak Mengaji
    Tanamkan Cinta Alquran, Polisi Ini Ajari Anak-anak Mengaji
  • Sosok Pengusaha Muda yang Tak Kenal Menyerah
    Sosok Pengusaha Muda yang Tak Kenal Menyerah
  • Disaster Nursing Indonesia Gelar Pelantikan dan Rapat Kerja
    Disaster Nursing Indonesia Gelar Pelantikan dan Rapat Kerja
  • Aku Ingin Masuk Televisi
    Aku Ingin Masuk Televisi
  • Menjajakkan Rokok Demi Anak Istri
    Menjajakkan Rokok Demi Anak Istri