Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 9 Januari 2017 | 16:41 WIB
  • Ketika Cinta Berbuah Nyata

  • Oleh
    • Syahdan Nurdin,
    • sarimona
Ketika Cinta Berbuah Nyata
Photo :
  • Kunci Sukses
Ilustrasi Kunci Sukses

VIVA.co.id – Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat bayangkan bahwa setiap hari orang-orang pasti mengunyah camilan alias makan makanan ringan di kantor, di rumah, di sekolah, dan hampir di manapun sebagian besar pasti ada camilan. Hal ini dikarenakan semua orang pasti senang camilan, pasti suka ngunyah makan-makanan yang sifatnya renyah, manis, asin, pedas dan lainnya.

Dan peluang inilah yang mampu dilihat oleh seorang anak muda asal Bandung, anak muda yang tidak memiliki pengalaman di bidang camilan dodol sama sekali. Hanya dengan bertekad semangat dan kerja keras serta tidak banyak memikirkan yang aneh-aneh, dia berhasil memperoleh untung dari peluang tersebut.

Dia adalah Linggabuwana Pratama, lelaki yang lancar berbahasa Sunda inipun menjadi sosok yang terkenal dan hebat dengan kemampuan wirausahanya. Lingga kecil berkembang dan bersekolah di daerah Antapani, dia adalah anak pertama dari tiga bersaudara.

Lingga tidak hidup bersama orang tuanya, ia tinggal dan dibesarkan oleh nenek dan kakeknya. Di masa remajanya dia berusaha mencoba mencari apa tujuan dalam hidupnya, dengan mulai mencari nafkah sendiri, berusaha mencoba berbagai macam kerja serabutan. Lulus dari SMA tahun 2006, Lingga mencoba berjualan barang klontong dan lainnya. Namun sayangnya, itu semua usaha milik orang lain.

Kurang lebih empat tahun ia menghabiskan waktu untuk berjualan produk-produk orang lain. Hingga akhirnya ia menemukan bisinis yang tepat baginya, yakni berjualan dodol dengan berbagai varian rasa. Jadi dengan kehadiran usaha barunya inipun Lingga tidak sempat untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, karena sudah sibuk mengurus bisnis dodol yang setiap hari makin berkembang pesat.

“Aku itu lulus sekolah tahun 2006, empat tahun aku nganggur. Baru kuliah itu tahun 2010. Tapi dalam empat tahun nganggur itu aku jual beli barang klontong dan barang harian. Semua aku jual. Akhirnya sekarang aku punya produk sendiri,” jelasnya.

Bisinis dodol menjadi jalan hidupnya kini. Berbagai pengalaman berjualan yang telah ditekuninya, Lingga akhirnya mencoba berbisnis dodol beraneka rasa, tepatnya tahun 2011. Awalnya hanya iseng-iseng mengisi waktu luang membantu neneknya membuat dodol yang akhirnya ia tekuni untuk dijadikan bisnis.

Usaha dodolnya tersebut ia beri nama “Dodol Nyaik”. Dodol pada dasarnya adalah makanan kampung biasa yang sering dijumpai. Akan tetapi Lingga mengolahnya sedemikian rupa agar dapat menjadi suatu dodol yang istimewa sehingga dapat menarik minat pembeli.

Dodol Nyaik pun ia patenkan untuk dijadikan brand makanan miliknya. Ia memakai nama nyaik yang berartikan nenek karena memang inspirasi yang ia dapatkan berasal dari neneknya. Makanya ia menamai usaha dodolnya menjadi Dodol Nyaik yang berartikan Dodol Nenek.

Awal mula ia membuka usaha dengan meminjam modal kepada Bank sebesar 15 juta dan produksi 80 pcs per hari. Varian rasa awalnya hanya rasa durian dan nanas saja dan dipasarkan secara berkeliling. Lingga tidak kehabisan akal dalam memproduksikan usahanya dengan memanfaatkan media sosial. Ia melakukan berbagai promosi di beberapa akun media sosial yang ia miliki.

Pada pertengahan tahun 2012 usahanya diliput oleh salah satu TV lokal yang ikut mempromosikan usahanya. Dan pada akhirnya Dodol Nyaik pun terus berkembang pesat setiap harinya. Lingga dengan tekun mengembangkan usahanya ini, ditemani oleh neneknya beserta tim yang bekerja sama, Lingga mampu membuat produk sendiri.

“Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Selagi kita mau berusaha dan bekerja keras, gak ada yang gak mungkin,” jelasnya. (Tulisan ini dikirim oleh Sari Mona Pratama, Fikom, Universitas Pancasila, Jakarta)