Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 13 Januari 2017 | 18:05 WIB
  • Sosok Muslimah Cerdas Harapan Bangsa

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Syifa Nur Maulidia
Sosok Muslimah Cerdas Harapan Bangsa
Photo :
Diah Retno Yuniarni, di antara teman-temannya.

VIVA.co.id – Seorang perempuan Muslimah yang mempunyai rantai impian dan visi yang matang untuk masa depannya. Pemikirannya yang terbuka membuat banyak orang yang mengaguminya. Rantai impian yang sudah ia susun sangat rapi menjadi motivasi hidupnya untuk mencapai kesuksesan.

Ia adalah Diah Retno Yuniarni. Anak pertama dari 2 bersaudara yang masih berusia 22 tahun. Ia bertempat tinggal di asrama rumah kepemimpinan PPSDMS Nurul Fikri. Ia adalah seorang yang mempunyai impian yang akan selalu berusaha diwujudkannya.

Sejak pertama kali berhasil masuk UI, ia ingin sekali membuat karya sebanyak-banyaknya yang dapat bermanfaat untuk orang banyak. Salah satu yang sudah ia wujudkan adalah Rumah Belajar. Yaitu tempat belajar untuk anak-anak kurang mampu.

Karena fakultas lainnya sudah memiliki Rumah Belajar, maka ia mempunyai motivasi dan ide FMIPA UI juga ikut memilikinya. “FMIPA itu sangat potensial dan banyak anak-anak FMIPA yang mengajar di tempat les. Dan yang aku selidiki, juga banyak anak-anak FMIPA yang mengajar di Rumah Belajar fakultas lain,” kata Diah.

Karena rasa peduli terhadap fakultasnya, ia mencetuskan dan menemui orang-orang yang mempunyai visi dan pemikiran sama dengannya. Sampai akhirnya terbentuk menjadi sebuah tim, dan launching-lah Rumah Belajar pada tahun 2016.

Satu per satu impian yang ia susun tercapai sesuai rencana. Tak berpuas diri dengan Rumah Belajar, ia bersama timnya membuat karya kedua yaitu Forum Muslimah angkatan FMIPA UI atau yang disebut Pohonrindang.net. Terobosan baru yang sangat luar biasa dari para mahasiswa Muslim.

Dari hobinya yang suka menulis, ia menunjukkan bahwa sebagai Muslim ia bisa berkarya dan mempunyai karya. Pohonrindang.net berfungsi sebagai penampung teman-teman Muslim khususnya Muslimah FMIPA UI agar mereka dapat menyebarkan syiar-syiar Islam dengan science. Seperti bagaimana menentukan hilal secara fisika. Ataupun ada pula renungan-renungan dan kisah-kisah Muslim dengan bahasa yang simpel dan mudah dimengerti. Sehingga bisa dinikmati semua orang, terutama kalangan mahasiswa.

Mempunyai rantai impian yang sudah matang mengharuskan ia belajar bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Dengan mengikuti beberapa organisasi yang ada di tempat menimba ilmunya sekarang. Seperti BEM FMIPA UI Deputi Keilmiahan, Lembaga Dakwah Salam UI bagian Deputi Kemuslimahan, dan menjadi salah satu bagian dari staff Departmen Sosial dan Lingkungan di BEM FMIPA UI membuat pengalamannya selalu bertambah untuk bekalnya kelak.

Mengikuti BEM dengan misi untuk mewujudkan impian-impiannya, ia dan timnya memasuki lingkup departemen sosial lingkungan. Sehingga impiannya (gagasan) dapat menjadi terwujud. Menurutnya, semuanya harus seimbang. Rohis, lembaga dakwah, dan kegiatan kualiahnya agar semuanya sesuai dengan apa yang sudah direncanakan.

“Aku merasa iri. Apa yang sudah bisa aku lakukan untuk Indonesia?” itulah yang ia katakan saat menyadari bahwa teman-temannya telah mempunyai sebuah karya. Sampai akhirnya ia mengundurkan diri dari kerja dan memulai petualangan hidup yang baru. Ia merasa impian untuk merangkai segala hal yang besar untuk Indonesia ada di dalam PTN, khususnya di Universitas Indonesia. Karena ia ingin mempunyai suatu karya yang dapat bermanfaat bagi orang Indonesia.

Banyak hal yang membawa proses untuk mencapai semuanya. Jumlah ilmuwan yang semakin sedikit di Indonesia, terutama ilmuwan Muslim salah satunya. Ia mengajak mahasiswa-mahasiswa khususnya mahasiswa Muslim untuk ikut berkarya bersama. Menghasilkan ilmuwan-ilmuwan Muslim yang berpikiran modern. Mempunyai misi yang mantap, yaitu mensyiarkan Islam melalui science di Eropa.

Tahun 2017 nanti, ia akan menjalankan misinya dan menunjukkan pada dunia bahwa, “Aku muslim dan aku berprestasi”. Walaupun ia menggunakan hijab, itu tidak menjadi penghalang untuk dirinya terus berprestasi.

Mengembangkan teknologi dan riset di Indonesia, dan menjadi muslimah yang berpengaruh dalam mencetak generasi Islam yang cendekia menjadi misi selanjutnya yang akan dia wujudkan. Menjadi hafidzah pada tahun 2025, adalah keinginan terdalamnya untuk bekal di akhirat kelak. Ia ingin membuat seorang Muslim menjadi sosok yang berprestasi. Bahkan, bukan hanya Muslim saja tetapi ia juga mengajak orang-orang non-muslim untuk berprestasi.

Mengikuti segala macam kompetisi lomba, seperti mahasiswa prestasi (mapres), lomba konferens seperti di Rusia dan Malaysia, memenangkan science debat juara 5 menjadi bukti lainnya bahwa Muslim dapat terus berkembang dalam hal akademik. Ia bisa dan kuat karena ia menemukan dan dikelilingi orang-orang yang mempunyai pikiran maju untuk Indonesia ke depannya.

Ia mempunyai cita-cita menjadi salah satu bagian dari Kemenristek RI agar dapat memberikan perubahan untuk Indonesia dalam hal riset yang semakin lama semakin meresahkan. Kurangnya apresiasi-apresiasi dari para stakeholder menjadi salah satu motivasinya untuk memaksimalkan potensinya dalam birokrasi terkait minat bakat. Agar para pembuat karya mendapatkan apresiasi yang sudah menjadi haknya.

“Hasil tidak akan mengkhianati usaha”, itulah yang pepatah katakan. Dari kegigihannya, akhirnya ia bisa menghasilkan banyak karya yang sangat bermanfaat. Tetap rendah hati, selalu berusaha dan berdoa menjadi kunci utama untuk mencapai prestasi itu semua. (Tulisan ini dikirim oleh Syifa Nur Maulidia, mahasiswa Universitas Pancasila, Jakarta)