Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 16 Januari 2017 | 12:40 WIB
  • Jatuh Bangun dan Sepak Terjang PMII Rayon FKM UMI Makassar

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Muh. Dasrifal Tamim
Jatuh Bangun dan Sepak Terjang PMII Rayon FKM UMI Makassar
Photo :
PMII FKM UMI saat menggelar pengajian bersama.

VIVA.co.id – Di tengah-tengah arus pergolakan organisasi, PMII Rayon FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat) UMI Makassar tetap eksis menunjukkan taringnya. Walaupun selalu dibungkam oleh kaum fanatisme sempit. Itu semua dihadapi dengan kekentalan PMII akan romantisnya sebuah persahabatan, konsisten, saling membantu dan melindungi. Sebagaimana laksana filosofi yang tertera pada logo perisai biru kuning.

Dari akar sejarah PMII Rayon FKM UMI lahir dan membentangkan sayap di era sahabat Nur Khalik sebagai ketua pertama. Dan dengan silih bergantinya waktu, PMII Rayon FKM UMI pernah mengalami mati suri pada tahun 2012. Namun selang waktu beberapa tahun, mulailah tumbuh bibit-bibit yang akan meneruskan dan membangun rayon FKM dari tidurnya.

Tepat pada tahun 2014, PMII rayon FKM mulai mendeklarasikan dirinya berkat dorongan dari sahabat se-rayon komisariat UMI. Ketua umum cabang Makassar, Basri. L mendapatkan restu dari sahabat Rasyid Tunny sebagai mantan ketua rayon PMII FKM UMI pada periode 2008-2009. Dan pada saat itu terpilih sahabat Julkarnain Rajak sebagai ketua yang menjadi penerus tonggak gerakan PMII rayon FKM.

“Untuk membangun kembali rayon tidaklah mudah seperti membalikkan sebuah telapak tangan. Dengan jumlah kader hanya segelintir dan minim, tapi tidak menjadi sebuah persoalan untuk membangun kembali peradaban yang pernah runtuh,” tutur ketua PMII Cabang  Makassar, Basri L. Dia juga mengatakan bahwasanya, kami ini adalah perintis (pelopor) bukan penikmat organisasi. Tentunya membangun kembali organisasi tidaklah mudah dalam menghadapi banyaknya tantangan.

Persaingan simbol bendera antar organisasi menjadi tantangan terbesar PMII rayon FKM.  Pada saat itu, ada salah satu tetangga organisasi yang dianggap kelas kakap yang akan mencekal dengan bertopeng dan berselimut pada salah satu organ intra kampus. Mereka mencoba merobohkan mental kami. Tetapi sahabat-sahabat sang perintis saat itu tetap teguh dalam pendirian dan tak goyah dari ancaman. Sempat tertutur kata dari mulut harimau mereka, “Di FKM, kami adalah mayoritas. Kalian tidak akan bisa besar!”

Perkataan mereka tidak sedikitpun melunturkan semangat juang kami saat itu.  Bahkan itu kami jadikan sebuah batu loncatan untuk bersaing secara sehat menjadi organ yang akan selalu eksis dan menunjukkan taring masing-masing. “Sebelum mengamanahkan jabatan sebagai ketua rayon FKM UMI, saya akan membirukuningkan FKM,” ujar Julkarnain Rajak

Selanjutnya roda organisasi PMII FKM UMI hingga saat ini dipimpin oleh Dasrifal Tamim sebagai ketua rayon periode 2016-1017.  Yang baru saja terpilih melalui Rapat Tahunan Anggota Rayon (RTAR) yang digelar di Masjid Al-Adewiyah, Perumahan Dosen UMI, Jl. Reacing Centre, Makassar, pada Minggu, 18 Desember 2016 lalu.

Pada pengurusan ini diharapkan mampu memberikan perubahan dua kali lebih baik dari pengurusan sebelumnya. Untuk tetap eksis dalam roda gerakan organisasi, PMII Rayon FKM UMI menciptakan program-program unggulan baru yang diharapkan mampu menjadi daya tarik terhadap kader. Seperti Sekolah Kesehatan Rakyat, jurnalistik, dan pelatihan tenaga kesehatan sirkumsisi (sunat/khitan).

Sekolah Kesehatan Rakyat merupakan momentum untuk tiap kader dalam menerapakan disiplin ilmu masing-masing. Serta menjadi salah satu pengabdian PMII rayon FKM terhadap masyarakat. Jurnalistik adalah salah satu keahlian yang harus dimiliki tiap kader PMII rayon FKM  dalam mengekspresikan dan memperkenalkan PMII rayon FKM di khalayak media. Baik media cetak maupun media online. Sedangkan, pelatihan tenaga kesehatan sirkumsisi  ini dilakukan untuk menciptakan tenaga medis mandiri yang profesional dalam melakukan pelayanan atau pembedahan sunat/khitan. Selain itu juga dipersiapkan untuk  melakukan baksos kemanusiaan jika diperlukan jasanya.

Kegiatan kemanusiaan dan pengabdian terhadap masyarakat tetap menjadi sebuah program wajib rayon FKM  di setiap kepengurusan. Penulis mengingat sebuah pengabdian salah satu sang Guru Bangsa yang biasa disapa Gus Dur. Beliau mengajarkan untuk selalu menanamkan cinta terhadap semua insan dan tak mengenal sebuah perbedaan. PMII harus meneruskan perjuangan beliau yang humanis dan plural.

Tak ada gading yang tak retak. Tak ada pula semangat pergerakan yang luntur. Inilah kami wahai Indonesia. Tangan terkepal dan maju ke muka. Mundur selangkah adalah pengkhianatan. Dzikir, pikir, dan beramal soleh. (Tulisan ini dikirim oleh Muh. Dasrifal Tamim, Ketua Umum PMII rayon FKM UMI Makassar)