Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 31 Januari 2017 | 13:41 WIB
  • Surat untuk Luis Milla

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • M Baihaqi Nabilunnuha
Surat untuk Luis Milla
Photo :
  • ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Luis Milla Latih Timnas Indonesia

VIVA.co.id – Jumat, 12 Januari 2017, PSSI secara resmi menunjuk Luis Milla sebagai pelatih baru Timnas Indonesia menggantikan Alfred Riedl. Pria kelahiran Teruel, Spanyol, 12 Maret 1966 ini ditunjuk menjadi arsitek Timnas senior sekaligus Timnas U-22. Hal tersebut tentu melengkapi jajaran pelatih Timnas kita, setelah beberapa hari sebellumnya PSSI sudah menunjuk Fahcri Husaini sebagai arsitek Timnas U-16 dan Indra Sjafrie sebagai pelatih Timnas U-19.

Pria Spanyol bernama lengkap Luis Milla Aspas ini boleh dibilang sebagai seorang yang sukses bertransformasi. Dari seorang pemain profesional menjadi seorang pelatih top. Ketika masih aktif bermain, selain membela CD Teruel, klub tanah kelahirannya, Luis Milla juga pernah memperkuat Barcelona, Real Madrid, dan akhirnya pensiun di Valencia pada 2001.

Karier kepelatihannya dimulai di Getafe musim 2007-2008. Milla menjadi  asisten dari mantan rekan se-timnya di Madrid dan Barcelona, Michael Laudrup. 2009 ia sukses mengantarkan Spanyol U-19 menjadi runner up EURO U-19. Dan puncaknya pada 2011, Milla Sukses mengantarkan Spanyol sebagai juara EURO U-21.

Dengan beberapa catatan prestasinya, tentunya masyarakat Indonesia punya ekspektasi yang sangat tinggi untuk the iberian man yang terakhir menangani Real Zaragoza ini. Bukan cuma itu, Milla sendiri nampaknya punya ekspektasi besar untuk sepakbola Indonesia. “Kita (pemain dan pelatih) harus kerja keras, dan saya akan memberikan latihan-latihan seperti gaya saya melatih Spanyol dengan gaya penguasaan bola dan juga pressing ketat,” Itulah salah satu perkataan Milla ketika ia resmi ditunjuk menjadi arsitek Timnas Indonesia.

Indah bukan kedengarannya? Namun Luis Milla nampaknya harus mengetahui beberapa hal tentang kondisi sepakbola Indonesia. Ada dua hal yang menjadi catatan saya ketika Milla ingin memainkan gaya possession ball dan pressing ketat.

Mengenai gaya pressing ketat, ini jelas membutuhkan stamina dan pemahaman rule of the game dari setiap pemain. Seperti yang sudah kita lihat, selama ini stamina selalu menjadi masalah besar Timnas kita. Kalau kita lihat di AFF 2016, jelas sekali faktor stamina pemain Timnas kita menjadi titik lemah.

Riedl yang memainkan pola dasar 4-4-2 dengan mengoptimalkan serangan balik jelas butuh stamina pemain yang bisa bermain penuh tenaga selama 90 menit. Namun, ketika masuk menit 70, fisik sebagian besar para pemain kita sudah mulai mengendur dan mulai kehilangan konsentrasi.

Yang kedua, bermain possession football ala Luis Milla, jelas bukan hanya sekadar menguasai bola seperti pola permainan Louis Van Gaal. Milla adalah orang spanyol yang memaknai possession football dengan bermain menguasai bola dan juga ruang dengan indah. Pola permainan ini jelas butuh pemahaman mendasar pemain mengenai bagaimana menyusun serangan dari lini paling belakang permainan tim. Dan juga butuh penguasaan konsep ruang dalam sepakbola. Masalahnya, bagaimana pemahaman para pemain kita mengenai dua hal tersebut?

Kalau boleh jujur, hampir sebagian besar para pemain di negara ini kurang begitu menguasai dua hal tersebut. Kita lihat saja, bagaimana kiper-kiper kita masih menganggap kalau bola ditendang jauh melebihi garis tengah adalah hal yang benar, meskipun bola itu jatuh ke penguasaan lawan. Lalu bagaimana barisan defender kita memahami peran bek dalam membangun serangan, terutama peran mendasar bek tengah? Masih sangat minim.

Bicara penguasaan ruang, para pemain tengah kita sendiri kadang tidak bisa mencari ruang kosong, apalagi menciptakan ruang. Para striker kita juga kerapkali terlihat kebingungan jika dimarking dengan ketat oleh barisan belakang musuh. Baik man to man marking maupun zona marking.

Yang jelas, tulisan ini bukan bentuk pesimisme apalagi sinisme. Tapi sebenarnya saya ingin Luis Milla tahu, jika sebelum dia menerapkan apa yang sudah dia punya dan dapatkan dari sepakbola Eropa, mau tak mau dia harus sedikit ikut campur dalam hal-hal teknis mendasar dalam permainan sepakbola yang sebenarnya bukan tugas dia. Karena jika dia ingin menerapkan permainan seperti yang diinginkannya, hal tersebut menjadi syarat mutlak.

Harapan besar masyarakat Indonesia ada padamu, Luis Milla Aspas. Nikmati tugasmu yang baru mulai 8 Februari nanti. Salam satu jiwa, Indonesia! (Tulisan ini dikirim oleh M Baihaqi Nabilunnuha, Kediri)