Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 7 Februari 2017 | 13:14 WIB
  • Hujan adalah Kekasihku

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • TitinWidyawati
Hujan adalah Kekasihku
Photo :
  • U-Report
Hujan.

VIVA.co.id – "Hujan adalah segala-galanya bagiku. Kau tak mampu membuatku hidup sementara hujan mampu membuatku hidup. Jadi, untuk apa aku pertahankan cintamu? Itu tidak masuk akal!"

Kala langit hitam dalam gambaran awan kelam. Mereka menangis dan merunduk di emperan pertokoan. Jikalau petir menyambar-nyambar tiang listrik dalam kegundahan insan. Maka mereka mengatupkan daun telinganya yang kedinginan. Mereka akan menangis menekuk wajahnya.

Kenapa hujan harus datang memeluk kabut dan menutup lengkungan janur senja di ufuk barat? Jikalau tetesnya deras tak beraturan, maka mereka akan menarik gasnya kencang menerobos tetesan langit yang tak jua bermuara. Desember musim penghujan.

Sebagian orang akan memasang wajah cemberut lantaran bagi mereka itu adalah sebuah bencana. Memperlambat kegiatan yang ada. Mengundurkan rencana. Masuk sekolah selalu terlambat. Alasan hujan. Sepatu basah enggan memakainya, akhirnya hujan membuahkan hukuman. Pekerja bangunan masuk angin lantaran dipeluk hujan. Permasalahan kacau jika mandor tahu mereka beristirahat, sementara proyek pembangunan harus segera diselesaikan.

Waktu pun muram. Pulang kerja kelamaan. Lantaran hujan tak mereda. Anak dan istri pun dipasung cemas di dalam rumah menanti kegelapan. Hujan adalah sebuah musibah kecil yang merisaukan. Lagi-lagi hujan dipermasalahkan. Seolah hujan selalu salah.

Tapi kalau kemarau datang, hujan menjadi kerinduan. Entahlah, otak insan memanglah membingungkan. Katanya di kepala, namun praktiknya di lutut atau malah di telapak kaki. Hey! Jangan mempermasalahkan hujan. Tak ada pengadilan yang mau menangani masalah hujan. Tentulah karena mereka tahu bahwa hujan tak pernah salah. Jadi tak pantas ia menjadi bahan pokok perbincangan. Hujan dan payung adalah sahabat sejati. Jadi jikalau kau hadirkan sahabatnya sebelum hujan turun, itu tak akan mengeluarkan penderitaan bukan?  Itu sebuah argumen kecil yang telah familiar di endapan siput telinga insan.

Tapi, ada hal yang menarik. Lihatlah dirimu. Jika hujan turun dari atap Tuhan. Saat jubah langit itu terbentang dalam balutan awan yang menakutkan. Tatkala petir bersahut-sahutan. Atau bahkan jikalau angin meniupkan dedaunan kering di angkasa. Dan burung-burung akan pulang ke sangkarnya. Bumi dilumuri kekelaman saat mereka melangkah porak-poranda menuju rumah impian, kau malah menyambut hujan dengan penuh kebahagiaan.

Hujan membawa berkah. Hujan adalah sahabat sejatimu. Kau amatlah bersyukur karena mampu hidup di negara yang memiliki dua musim ini. Saat proses kondensasi berubah menjadi presipitasi maka kau meloncat-loncat girang. Setiap hari dari bingkai jendela matamu nanar menunggu hujan. Jika langit sudah disetubuhi awan-awan yang hitam, kau keluar di halaman rumah. Berdiri dan berteriak.

"Terimakasih Tuhan. Kau turunkan hujan hari ini," katamu lalu bersujud syukur. Tak peduli jidadmu kotor dicium tanah. Tak peduli telapak kakimu dirayapi cacing yang saat ini kau injak. Tak peduli tetangga menatapmu gila karena keanehanmu yang bagaikan menjemput datangnya kekasih saat hujan turun.

Kau menari-nari di pusar halaman rumah. Bermain riang bersama air. Tak pernah berhenti meski flu merajai kepalamu. Membuat wajahmu lesu. Lagi-lagi kau terus setia dengan hujan. Kauanggap ia benar-benar kekasihmu. Sampai tak hiraukan kau diputus oleh kekasihmu karena terlalu lama mencumbu hujan.

"Bagaimana aku bisa hidup dengan pria sepertimu yang tergila-gila dengan hujan? Orang tuaku akan menganggapku gila. Aku memanglah mencintaimu. Tapi jika kamu masih seperti ini, maaf aku pilih untuk pergi. Tapi kekasihmu berhenti berkata. Sejenak ia seka air matanya. Kau terpaku menggenggam erat jemarinya.

"Aku tetap akan mencintaimu,"
"Kalau kau mencintaiku, maka pertahankanlah diriku,"
"Tidak bisa, aku tidak bisa jika kau masih setia dengan hujan!"
"Pergilah, aku tetap akan setia dengan hujan. Jauhi aku. Aku bukanlah lelaki yang pantas menjadi sandinganmu. Selamanya aku akan mencintai hujan. Aku akan setia dengan hujan. Karena hujan yang memberiku roh kehidupan. Tumbuhan yang aku makan akan subur karena hujan, dengannya ia membuatku hidup. Hujan mengalirkan air di dalam bumi yang menjadi mata air. Dengan itu aku bisa menyerapnya untuk kehidupan. Minum, mandi, mencuci, jikalau tanpanya aku akan lesu. Tak pantas aku memiliki perempuan yang tak suka dengan hujan. Sebaiknya kau pergi saja. Hujan adalah segala-galanya bagiku. Hujan pulalah yang bisa membuatku makan. Mengapa kau mempermasalahkan hujan jikalau kau mencintaiku?" rajukmu sambil menatap paras kekasihmu yang lembut, putih mulus dibaluti bedak dan gincu merah muda yang baru saja diimpornya kemarin.

"Bukan itu, tapi dengan caramu makan karena hujan. Aku tidak bisa hidup seperti itu,"
"Sudahlah, payung adalah sahabat hujan. Dan hujan adalah anugerah bagiku. Pergilah, aku akan menjalankan rutinitasku saat hujan datang,"
"Tapi aku masih mencintaimu, apakah kau tak bisa mengerti perasaanku? Kau pilih hujan daripada aku?"
"Hujan adalah segala-galanya bagiku. Kau tak mampu membuatku hidup sementara hujan mampu membuatku hidup. Jadi, untuk apa aku pertahankan cintamu? Itu tidak masuk akal!"
"Kau gila!"
"Sebutan yang menarik. Sekarang, KAU PERGI!!"

Akhirnya kekasihmu lari menerobos hujan. Membiarkanmu terpaku dalam keheningan. Dan kini kau gila di bawah guyuran air hujan mengenang masa lalumu yang amatlah menyakitkan. Kau tepis bayangan tersebut dalam-dalam. Langkah kau berdirikan. Mengambil payung usai mengganti pakaian basah dan menyamarkannya dengan sweater tebal. Lantas kau menyusuri pusat keramaian.