Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 28 Februari 2017 | 12:35 WIB
  • Harapan Siswa Indonesia di Jeddah pada Kunjungan Raja Salman

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Abdullah M Umar
Harapan Siswa Indonesia di Jeddah pada Kunjungan Raja Salman
Photo :
Kondisi Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ) saat ini. (foto u-report)

VIVA.co.id – Jika tidak ada aral melintang, Rabu, 1 Maret 2017, Raja Arab Saudi Salman Bin Abdul Aziz akan menapakkan kakinya di tanah air Indonesia. Kunjungan tersebut  dapat dikatakan sebagai kunjungan yang fenomenal dalam sejarah hubungan diplomatik RI-KSA yang sudah dimulai sejak 1 Mei 1950. Untuk itu, patut kita acungkan jempol kepada para diplomat kedua negara yang telah berupaya keras dalam merealisasikan kunjungan ini.

Kunjungan Raja Arab Saudi tersebut merupakan puncak dari berbagai terobosan diplomasi yang sejak lama dilakukan. Terobosan diplomasi yang telah lama dirajut diantaranya adalah keberhasilan Kementerian Pendidikan Nasional melalui Universitas Indonesia yang telah memberikan anugerah kehormatan berupa Gelar Doktor Honoris Causa di bidang perdamaian dan kemanusiaan (Dr HC) kepada Raja Abdullah pada Agustus 2011.

Kemudian kunjungan kenegaraan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Arab Saudi pada bulan September 2015, dan menerima penghargaan King Abdulaziz Medal, Order of Merit. Ini adalah penghargaan tertinggi bagi pemimpin negara sahabat yang merupakan bentuk apresiasi luar biasa dari Kerajaan Arab Saudi kepada Presiden dan Pemerintah Republik Indonesia.

Belum genap satu bulan setelah itu, diikuti dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir ke Indonesia pada Oktober 2015 yang ternyata merupakan salah satu kunjungan bersejarah bagi hubungan Indonesia-Arab Saudi dalam kurun waktu 45 tahun terakhir. Dan yang paling mutakhir adalah kunjungan Pangeran Arab Saudi, Prince Alwaleed Bin Talal Bin Abdulaziz Alsaud pada bulan Mei 2016. Berbagai terobosan diplomatik tersebut menandakan prospek hubungan yang lebih baik dan erat antar kedua negara.

Seiring dengan terjalinnya hubungan baik antar kedua negara, maka keberadaan masing masing warga negara di Indonesia maupun di Arab Saudi terus meningkat dari waktu ke waktu. Terlebih lagi keberadaan WNI di Arab Saudi. Arab Saudi merupakan negara tujuan umat Islam karena adanya dua kota suci Mekkah dan Madinah. Di samping sebagai negara tujuan penempatan TKI yang sudah berlangsung sejak tahun 1970-an.

Di Indonesia, sebagaimana kita ketahui, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah memiliki gedung sekolah bahkan beberapa universitas megah di berbagai kota besar di Indonesia. Namun, tidak demikian halnya dengan Pemerintah RI yang sampai saat ini belum memiliki gedung sekolah di Arab Saudi. Padahal jumlah WNI yang bermukim di Arab Saudi tidak kurang dari 800 ribu orang. Inilah salah satu sebab timpangnya hubungan antar kedua negara. Sehingga terkesan bahwa Saudi kerap merasa lebih tinggi dari Indonesia.

Hal ini diperburuk lagi dengan miringnya citra masyarakat Indonesia di Arab Saudi yang identik dengan pembantu rumah tangga. Meskipun Pemerintah RI masih memberlakukan moratorium tenaga kerja informal di Timur Tengah termasuk Arab Saudi.

Untuk itulah diperlukan terobosan diplomatik melalui pendidikan. Yaitu dengan membangun sarana pendidikan bagi para anak WNI usia sekolah yang bermukim di Arab Saudi. Selain sebagai fasilitas belajar, sekolah juga dapat dijadikan simbol kemajuan Indonesia di bidang pendidikan yang dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia di Arab Saudi.

Berubahnya status Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ) dari sekolah komunitas menjadi sekolah Perwakilan RI pada tahun 2015 patut mendapatkan apresiasi. Diharapkan dengan status tersebut, Perwakilan RI menjadi lebih leluasa mengelola sekolah. Dengan demikian wajah sekolah adalah wajah Perwakilan RI. Sekolah menjadi salah satu simbol Pemerintah RI di Arab Saudi.

Secara etimologis, istilah simbol diserap dari kata symbol dalam bahasa Inggris yang berakar pada kata symbolicum dalam bahasa Latin. Sementara dalam bahasa Yunani, kata symbolon dan symballo, yang juga menjadi akar kata simbol memiliki beberapa makna generik. Yakni “memberi kesan”, “berarti”, dan “menarik”.

Dalam sejarah pemikiran, simbol memiliki dua pengertian yang sangat berbeda. Dalam pemikiran dan praktik keagamaan, simbol lazim dianggap sebagai pancaran realitas transenden (pengertianahli.com). Sehingga sekolah akan memancarkan realitas tentang Indonesia. Sebagai simbol Indonesia di Arab Saudi, nantinya sekolah ini juga dapat dijadikan sebagai pusat promosi budaya Indonesia di Arab Saudi sehingga dapat membantu menjalankan misi Perwakilan RI di bidang promosi budaya dan diplomasi publik.

Permasalahannya adalah, SIJ saat ini sangat jauh dari realitas Indonesia yang indah, berbudaya, dan bangsa yang besar, bahkan sebagai anggota G-20 bersama Arab Saudi. Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ), sejak berdirinya 52 tahun lalu telah empat kali melakukan pindah gedung. Saat ini SIJ menempati gedung sewaan yang kondisinya kurang layak dari sisi keselamatan dan keamanan. Sehingga wajar saja jika tidak pernah dikunjungi oleh para Presiden RI dalam kunjungan resmi mereka ke Arab Saudi. Ditambah lagi dengan kurangnya kelas yang ada saat ini.

Gedung yang disewa SIJ hanya memiliki 23 kelas. Sedangkan SIJ saat ini memiliki 46 rombongan belajar untuk menampung sebanyak 1440 siswa lebih. Para siswa belajar secara berdesak-desakan. Sehingga harus disiasati dengan membaginya menjadi tiga shift, yaitu pagi, siang dan sore. Para guru pun terpaksa harus mengajar dari pagi hingga sore, mulai pukul 07.00 hingga 17.00.

Dengan jumlah murid sebanyak 1440 siswa lebih, sekolah yang berdiri sejak tahun 1964 ini idealnya membutuhkan gedung yang memiliki 50 kelas lebih. Sehingga dapat menampung siswa secara keseluruhan yang jumlahnya terus bertambah. Akibat dari kurangnya kelas dan fasilitas yang ada pada SIJ, maka seluruh kegiatan ektrakulikuler tidak dapat dilaksanakan secara maksimal. Padahal siswa SIJ memiliki potensi yang sangat besar untuk bisa menguasai lebih dari sekadar kurikulum nasional.

Para murid mestinya dapat diberikan mata pelajaran bermuatan lokal seperti bahasa Arab, hafalan Alquran, manasik haji dan umrah, serta sejarah dan budaya Saudi, dll. Sehingga lulusannya dapat bersaing dengan lulusan sekolah negara lain di Jeddah yang sudah memiliki sekolah internasional. Seperti Bangladesh Internasional School, Pakistan Internasional School, India Internasional School, bahkan Ethiopian Internasional School untuk menghadapi visi baru Arab Saudi 2030 yang menaruh perhatian lebih terhadap pembangunan SDM.

Para guru pun tidak memiliki kantor yang nyaman. Sehingga persiapan belajar dan mengajar banyak dilakukan di rumah masing-masing. Belum lagi permasalahan kapasitas tenaga pengajarnya yang masih jauh dari standar, buku pegangan, disiplin, dll. Upaya pencarian gedung baru untuk disewa sudah dilakukan sejak delapan tahun lalu namun belum mendapatkan hasil. Sebab mencari gedung sekolah untuk kapasitas 1440 murid tidaklah mudah. Selalu saja terbentur dengan masalah persyaratan standar sekolah dan biaya yang tampaknya sulit dipenuhi.

Namun, masalah ini harus mendapatkan solusi. Jika tidak, maka dikhawatirkan akan banyak anak usia sekolah WNI yang hanya bisa mengikuti program kejar paket ABC saja karena gedungnya over kapasitas. Atau orang tua murid khawatir untuk menyekolahkan anaknya karena gedungnya tidak layak dari segi keselamatan dan keamanan. Maka memiliki atau membangun gedung memiliki tingkat urgensi yang sangat tinggi di samping melakukan perbaikan terhadap tata kelola SIJ.

Untuk itu membangun atau memiliki gedung sekolah sendiri merupakan salah satu terobosan diplomasi bagi Perwakilan RI di Arab Saudi untuk mensejajarkan hubungan kedua negara. Sekaligus memberikan perlindungan terhadap WNI di bidang pendidikan yang merupakan amanah UUD 45 pasal 31. Semakin lama menunda investasi pada gedung sekolah, maka semakin mahal biaya yang akan ditanggung di kemudian hari. Mengingat harga properti yang terus mengalami kenaikan.

Belum lagi ditambah dengan social cost yang dialami oleh anak bangsa. Anak para pahlawan devisa yang menghasilkan tidak kurang dari 20,7 triliun rupiah lebih per tahun (remitensi dari Arab Saudi, data BI th 2014) bagi Republik Indonesia. Dengan kebutuhan kurang lebih 7500 m2 untuk tanah dan bangunan (sesuai standar persyaratan Pemkot Jeddah) dengan asumsi harga tanah dalam kota Jeddah sekitar SR 4000 per meter persegi sama dengan SR 30 juta atau sekitar 100 miliar rupiah (perlu kajian lebih lanjut), tampaknya tidak menjadi masalah bagi negara besar seperti Indonesia.

Diharapkan dengan kunjungan Raja Salman ke Indonesia, pemerintah RI tidak lupa untuk memasukan agenda membangun sarana pendidikan bagi para anak WNI usia sekolah yang bermukim di Arab Saudi. (Tulisan ini dikirim oleh Abdullah M Umar, Ketua Komite Sekolah Indonesia Jeddah)