Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 9 Maret 2017 | 14:28 WIB
  • Pelayanan Kesehatan Cuma-cuma untuk Warga Krisis Kesehatan

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta Guslia
Pelayanan Kesehatan Cuma-cuma untuk Warga Krisis Kesehatan
Photo :
Bantuan pelayanan kesehatan gratis di Warungkiara Sukabumi. (foto u-report)

VIVA.co.id – Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi menetapkan status krisis kesehatan di seluruh kecamatan di Kabupaten Sukabumi. Dari 47 kecamatan, yang paling rawan terjadi gangguan kesehatan ada di Kecamatan Warungkiara. Wilayah ini berada di penjuru Kota Sukabumi.

Rumah Yatim dengan program pemberdayaan berupaya membantu pemerintah untuk mengentas kasus tersebut. Dalam beberapa bulan ini, Rumah Yatim menyambangi wilayah Warungkiara untuk menggelar kegiatan santunan biaya hidup, santunan kesehatan dan pelayanan kesehatan.

Di awal bulan ini, Rumah Yatim menggelar kegiatan pelayanan kesehatan. Berbagai tantangan harus dilewati Sinu Tontori selaku manajer kesehatan Rumah Yatim bersama tim kesehatannya untuk bisa sampai wilayah tersebut. Mereka harus melewati jalan setapak sempit penuh gelombang bebatuan yang bercampur lumpur. Selain itu, mereka harus menempuh perjalanan selama enam jam lamanya.

Sinu bersama tim tidak menggubris hal tersebut. Animo memberikan sumbangsih kepada warga Warungkiara jauh besar daripada harus menghadapi tantangan tersebut. “Dari Bandung kami berangkat pukul 22.00 dan sampai Warungkiara pukul 04.00 pagi WIB,” Kata Sinu, Selasa (07/03).

Pukul 08.00 WIB, mereka mulai menjalankan aksi mulianya. Dibantu mitra dan pemerintah sekitar, mereka menggelar kegiatan penyuluhan, pemeriksaan, dan pengobatan cuma-cuma untuk masyarakat Warungkiara. “Alhamdulillah mereka menyambut kami dengan antusias. Mereka sudah menunggu kami dari pukul tujuh. Mereka sangat antusias ingin diperiksa,” ungkap Sinu.

Sebanyak 143 warga dari berbagai usia telah mendapat pelayanan kesehatan yang digelar di SDN 3 Ubrug, Kampung Girijaya, Warungkiara. Berbagai keluhan dilontarkan warga. Mulai dari ISPA, gatal-gatal, diare, asam urat, bahkan gizi buruk yang dominan menimpa anak-anak. Tidak hanya itu, ada sebagian kecil anak yang menderita polio dan hidrosefalus.

Faktor utama yang menyebabkan kasus ini terjadi adalah faktor ekonomi. Rata-rata warga bekerja sebagai buruh tani dan serabutan yang membuat mereka harus hidup di bawah garis kemiskinan. Selain itu, akses menuju Puskesmas yang jauh membuat mereka enggan memeriksakan keluhannya.

“Tidak hanya itu, kesehatan warga pun tidak ditunjang dengan kondisi air. Karena sebanyak 90 persen warga harus mengonsumsi air kotor,” kata Febriansyah, salah satu warga Warungkiara. Febriansyah mengungkapkan bahwa sebulan yang lalu ada satu orang anak yang masih berusia 13 tahun. Ia meninggal dunia akibat gizi buruk. Pihak keluarga yang tidak mampu belum bisa membawa anak tersebut ke rumah sakit.

“Alhamdulillah, saya sangat mengapresiasi aksi Rumah Yatim yang sudah jauh-jauh datang ke sini. Semoga Rumah Yatim bisa rutin digelar supaya warga Warungkiara dapat merasakan manfaat dari kegiatan ini,” papar Febriansyah.

Untuk ke depannya, selain menggelar kembali kegiatan serupa, Rumah Yatim berencana menyalurkan bantuan air bersih dan membangun beberapa toilet umum untuk warga Warungkiara. “Mohon doanya supaya rencana kami dapat terealisasi dengan sukses dan lancar,” tutup Sinu. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)