Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 14 Maret 2017 | 12:34 WIB
  • Papuq Nyase, Nenek Tua yang Hidup Sebatang Kara

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta Guslia
Papuq Nyase, Nenek Tua yang Hidup Sebatang Kara
Photo :
Papuq Nyase yang hidup sebatang kara.

VIVA.co.id – Koran selalu memberikan informasi dan inspirasi bagi pembacanya. Bahkan tak hanya itu, koran pun mampu menggerakkan hati pembacanya untuk berbuat kebaikan. Seperti Jajang Khoeruman, Kepala Cabang Rumah Yatim Nusa Tenggara Barat khususnya. Usai membaca koran yang memuat tentang kehidupan seorang nenek yang hidup sebatang kara, Jajang pun langsung mencari alamat tersebut dan menemui si nenek untuk diberikan bantuan peduli sesama.

Dialah Papuq Nyase (70). Setelah memastikan kebenarannya, Jajang langsung menuju ke rumah Papuq Nyase yang ada di Dusun Ketirik, Desa Jembatan Kembar Lobar. Sesampainya di sana, Jajang sangat terharu. Rumahnya yang berukuran 2x2 meter hanya bisa terisi ranjang kasur untuk membaringkan tubuhnya yang ringkih dan sudah tak berdaya akibat lumpuh.

Rumah tersebut adalah rumah peninggalan suaminya. Dia hidup sebatang kara sejak suaminya meninggal dunia bertahun-tahun lamanya. Tak memiliki anak, hanya memiliki saudara yang rumahnya berjarak berpuluh-puluh kilo jauhnya. Hingga jarang sekali dia bertatap muka dengan keluarganya tersebut. Hanya mengandalkan kasih sayang tetangganyalah dia hidup. Baik itu untuk makan maupun ingin mandi, dan lain sebagainya.

Karena kebaikan di masa mudannya Nyase masih diberikan limpahan kasih sayang dari tetangga tersebut. Namun satu hal yang tidak mampu tetangganya lakukan yakni membiayai perawatan Nyase yang sudah harus intens diperiksa ke dokter. Karena kian hari kesehatannya kian memburuk. Untuk itu dia harus memiliki jaminan sosial. Namun, karena kini Nyase tak memiliki Kartu Keluarga bahkan KTP, akhirnya pihak lingkungan pun tak bisa mengurusnya.

“Sebenarnya dulu Papuq Nyase punya jaminan kesehatan. Tapi pada saat ke rumah sakit lagi, jaminan kesehatan tersebut sudah tidak berlaku,” papar Jajang bersumber dari Nyase dan tetangganya.

Mendengar keluhan tersebut, Jajang pun langsung berkoordinasi dengan pihak Dinas Sosial Provinsi NTB dan meminta bantuan kepadanya untuk mengurus Jaminan sosial tersebut. Agar Papuq Nyase bisa mendapatkan perawatan gratis tatkala dia sakit. “Alhamdulillah, kini sedang menunggu hasilnya. Mudah-mudahan lancar,” harap Jajang.

Selain hal tersebut, Jajang pun berencana akan memberikan sembako setiap bulannya. Agar Nyase tak merasakan lagi kekurangan pangan di masa tuanya. “Insya Allah, sembako rutin setiap bulan akan kami berikan untuk Papuq Nyase,” tutup Jajang. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)