Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 15 Maret 2017 | 07:50 WIB
  • Suratinah, Potret Kemiskinan Petani Gunung Kidul

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta Guslia
Suratinah, Potret Kemiskinan Petani Gunung Kidul
Photo :
Suratinah, potret kemiskinan petani Gunung Kidul.

VIVA.co.id – Desa Banyusoco, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta dihuni mayoritas warga yang berada di bawah garis kemiskinan. Sebagian besar lahan Gunung Kidul terisi area pertanian seperti sawah dan kebun berkarakteristik tadah hujan atau yang hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber pengairannya.

Denyut kehidupan warga bergantung pada alam dengan menjadi petani, tepatnya buruh tani penggarap sawah. Status lahannya dimiliki oleh pemerintah, pihak swasta dan sebagian perorangan. Penghasilan diperoleh dari hasil kerja mereka selama menggarap sawah. Itupun jumlahnya sangat kecil dan tidak menentu.

Banyak hal yang terjadi di luar sana yang tidak berpihak pada Suratinah, perempuan berusia 58 tahun. Seorang mustahik di desa ini. Kepala Cabang Rumah Yatim Yogyakarta, Arifin menyaksikan perihnya kehidupan ibu lima anak yang bekerja keras menjadi buruh tani. Ia berjumpa saat Suratinah sedang memberi  pupuk di sawah.

Pada kesempatan lain, tepatnya saat distribusi bantuan, Arifin bertandang ke rumahnya. Tinggal di sebuah rumah yang terbuat dari bambu. Sudah tampak reyot di sana-sini yang terlihat nyaris rusak. Jika ada angin kencang, rumah ini akan miring dan menimpa penghuninya. “Ibu sedang memasak apa?” tanya Arifin penasaran. “Ah, bukan apa-apa Pak. Cuma ini saja,” katanya.

Arifin yang penasaran memperhatikan apa yang dimasak perempuan paruh baya ini. Suratinah memasak dedaunan khas tanaman pegunungan, seperti daun pepaya dan daun singkong, yang ditanamnya sendiri di dekat rumah. Kadang ia makan dari hasil menggarap sawah. Semua yang dimakannya bersama suaminya, Wiyono dan anak-anaknya itu tanpa lauk pauk lainnya.

“Jangankan ikan, daging, atau telur, tahu tempe pun mereka tak dapat makan. Tak sanggup mereka membelinya termasuk lauk-pauk paling murah seperti tahu tempe,” ucap Arifin. Sang suami berprofesi sama, dengan penghasilan yang tak jauh beda dengannya. Uang yang mereka dapat hanya untuk makan ala kadarnya.

Mereka dikaruniai lima anak, diantaranya sudah dewasa, dan si bungsu masih sekolah kelas 5 SD. Keempat anaknya hanya berpendidikan setinggi-tingginya sampai tingkat SMP saja. Walau sedikit, anak-anaknya masih mendapat uang dari hasil mereka bekerja secara serabutan. Baru dua orang anaknya yang bekerja. Anak-anak mereka yang lainnya hanya sebatas membantu mereka di rumah atau di sawah.

Kabupaten Gunung Kidul dihuni oleh mayoritas warga menengah ke bawah. Lahan tadah hujan mayoritas diisi sawah dan lahan perkebunan milik pemerintah. Sepengetahuan Arifin, wilayah ini hanya masuk bantuan berupa beras raskin dari pemerintah. Dan belum terdengar dari lembaga sosial lain yang menyambangi daerah ini.

Pertama kali mengetahui masyarakat miskin sebagai sasaran mustahik dengan menghimpun banyak informasi. Salah satunya mengakses Badan Pusat Statistik setempat secara online. Dari sanalah Arifin mempelajari kondisi ekonomi dan kependudukan Gunung Kidul dari data statistik. Ia pun melanjutkan surveinya ke kecamatan, hingga ke beberapa desa dan dusun. Tingkat ekonomi yang termasuk rendah saling berkaitan ke banyak masalah sosial dan budaya lainnya.

Suratinah masih terbilang beruntung, dibanding salah satu rekannya. Seorang janda yang ditinggal suaminya. Angka perceraian di sini terbilang tinggi, bahkan kerap ditemukan warga yang belum genap 20 tahun tapi sudah menjanda. Kasus pernikahan dini yang dipicu kehamilan di luar nikah tak jarang terjadi. Sungguh kenyataan yang sangat memprihatinkan.

Sampai di era ini, posisi perempuan dalam masyarakat masih dianggap ‘kelas dua’. Seolah menjadi lingkaran setan kemiskinan. Dimana perempuan dianggap percuma mendapat pendidikan karena perannya seputar dapur.

Melalui potret Suratinah, Arifin memanjatkan harapan munculnya kepedulian yang tak hanya mengandalkan dari penguasa saja. Lebih dari pada itu, kepedulian yang ikhlas datang dari setiap elemen di masyarakat yang akan memutus rantai penderitaan mereka. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)