Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 31 Maret 2017 | 11:37 WIB
  • Semangat Sodik untuk Keluar dari Keterbatasan

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta Guslia
Semangat Sodik untuk Keluar dari Keterbatasan
Photo :
  • sp2010.bps.go.id
Ilustrasi anak-anak Sekolah Dasar.

VIVA.co.id – “Cita-cita kamu mau jadi apa?” tanya Syahid, Kepala Asrama BSD suatu hari. “Mau jadi guru, Bi,” jawab Sodik. “Memang apa alasannya kok kamu mau jadi guru?” tanya Syahid lagi. “Ya, saya ingin jadi guru karena bisa membagi ilmu saya,” ujarnya.

Percakapan suatu hari antara Syahid, biasa dipanggil Abi, dan salah satu anak asuhnya yang berprestasi, Sodik, menjadi awal mula Syahid mengenal mimpi anak asuhnya itu. Sodik, biasa ia disapa, punya nama lengkap Sodikin. Remaja asal Sasak Gantung, Tajur Halang, Kabupaten Bogor ini lahir sebagai anak kelima dari delapan bersaudara.

Pembawaannya yang aktif dan semangat kontras dengan kondisi keluarganya yang begitu sederhana, diakui Syahid menjadi ciri khas pribadi Sodik sehari-hari. Walau datang dari kalangan kurang mampu secara ekonomi, Sodik tidak pernah terlihat minder.

Kemiskinan bukanlah sesuatu yang terus ia ratapi. Bahkan, siswa kelas 7 SMP yang berayahkan seorang pedagang dan sang ibu yang hanya ibu rumah tangga biasa ini mendapat suntikan semangat hidup dari keduanya. Kekurangan harta tak menghalanginya maju melangkah ke masa depan. Sudah tertanam dalam hatinya, ia tak akan pernah menyerah pada keadaan.

Dukungan moral kedua orang tuanya diperkuat oleh salah satu kakaknya yang lebih dulu berhasil. Dialah Dede Junaidi, salah satu alumni Asrama Rumah Yatim Rawasari. Berkaca pada sang kakak, ia terinspirasi mengikuti jejak kesuksesannya.

Syahid mengisahkan, Sodik mengagumi kakaknya yang telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di bidang hukum, Universitas Al Azhar, Jakarta. Kini, Dede sudah bekerja meniti kariernya. Baginya, Dede adalah wujud nyata dari doa orang tuanya selama ini. Kesuksesan dapat dimiliki siapapun di muka bumi ini tanpa terkecuali.

Sejak pertama kali melangkahkan kaki ke Asrama Rumah Yatim, Syahid merasakan energi yang terpancar dari sosok Sodik yang membuatnya berbeda dari anak seusianya. Meskipun tampak dari luar, Sodik yang kala itu masih duduk di kelas 5 SD masih seperti bocah yang ceria, tak mau diam, dan sedikit jahil. “Semakin hari,  kepercayaan dirinya semakin tumbuh, dan punya kemampuan public speaking yang baik,” ungkapnya.

Mengamati potensinya itu, Syahid memberikan kesempatan kepadanya untuk sering terlibat pada kegiatan asrama. Baik acara bersama donatur, lomba, atau tampil di panggung sekolah. Pribadinya yang supel dan akrab membuatnya mudah dikenal oleh para guru SMP Al Hasahiyah tempatnya menutut ilmu, dan teman-temannya.

Alhasil, berkat sifat percaya diri ini pula yang menunjangnya meraih prestasi cemerlang di sekolah. Ia meraih juara 2 di kelasnya, dan tidak pernah lepas dari urutan 5 besar. Sebagai seorang yang berprestasi, ia sendiri menganggapnya sebagai karunia Allah atas doa orang tuanya selama ini. Padahal, ia mengaku tidak terlalu berambisi harus jadi juara.

“Prestasi belajar di sekolah termasuk baik, namun secara rata-rata dalam setiap pelajaran tidak ada yang begitu menonjol. Kelihatannya semua pelajaran bisa dia ikuti. Begitu pula di asrama, hafalan Alqurannya termasuk baik dan semangat pula dijalaninya,” kata Syahid.

Yang tertanam dalam hatinya ialah membanggakan dan membahagiakan keluarga. Termasuk keluarga barunya di asrama serta orang-orang yang mendukungnya selama ini. Amanah orang tua telah terpatri,menjelma sebagai kunci suksesnya. Persembahan terbaik dari keluarga membuktikan ia dapat sukses dari apa yang dijalaninya dan tetap menjadi hamba Allah yang soleh.

Apa yang dibuktikan Sodik memberikan sebuah pemahaman baru tentang prestasi. Berangkat dari tekad untuk keluar dari lingkaran kesulitan dan keterbatasan. Ia meyakini Allah begitu dekat menuntunnya kepada cita-cita. Menurutnya, tak ada yang lebih bermakna dengan menjadi sebaik-baik manusia yang hidupnya bermanfaat bagi sesama dan lingkungannya. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)