Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 4 April 2017 | 07:10 WIB
  • Bahan Baku Langka, Pengrajin Layangan Beralih Jadi Petani

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Rosyidi
Bahan Baku Langka, Pengrajin Layangan Beralih Jadi Petani
Photo :
Pengrajin layang-layang di Gondang Wetan. (Foto U-Report)

VIVA.co.id – Semakin berkurangnya bahan baku untuk membuat layang-layang membuat para pengrajin layang-layang yang berada di Desa Sekarputih, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan memilih menjadi buruh pabrik dan buruh tani. "Hampir empat tahun ini banyak yang gulung tikar para pengrajin layangan di sini, mungkin sekitar 40 persen. Soalnya bambu yang digunakan sebagai bahan pokok sudah mulai langka," kata M Samsul A, Sekretaris Desa Sekarputih, Jumat (31/3).

Ia menambahkan, faktor lain yang membuat pengrajin di desanya gulung tikar yakni banyaknya bermunculan pengrajin layang-layang di desa lain. "Kan biasanya mereka hanya kirim bambunya ke sini, tapi sekarang yang kirim bambu itu malah membuat sendiri layangan. Selain itu juga, ada persaingan yang tidak sehat dari para pengepul," ungkapnya.

Sama halnya dengan M Jaimi, salah seorang pengrajin layang-layang yang sempat sukses. Ia mengaku dulu pengiriman layang-layangnya per hari mencapai 25 ribu layang-layang. "Kalau dulu saya setiap hari mengirim 25 ribu layangan. Tapi saat ini, karena sudah banyak pengrajin dari daerah lain jadi saya kirimnya per hari hanya 4 ribu layangan," ungkapnya.

Jaimi mengaku, dulu semasa sukses layangan sampai mengisi penuh ruangan di rumahnya. Sampai ia membangun rumahnya agar lebih megah untuk tempat layangan. "Ini sampai tidak muat dan saya bangun rumah ini hanya agar bisa lebih luas untuk menaruh layangan," tuturnya. (Tulisan ini dikirim oleh Rosyidi)