Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 3 April 2017 | 16:08 WIB
  • UI Kukuhkan Dua Dokter Spesialis Anak Jadi Guru Besar

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Rifelly Dewi Astuti
UI Kukuhkan Dua Dokter Spesialis Anak Jadi Guru Besar
Photo :
Guru Besar UI Sukman Tulus Putra dan Badriul Hegar Syarif. (Foto U-report)

VIVA.co.id – Universitas Indonesia (UI) kembali menambah jumlah guru besar tetapnya dengan mengukuhkan dua profesor bidang ilmu kedokteran. Mereka adalah Prof. Dr. dr. Sukman Tulus Putra, SpA(K) dan Prof. Dr. dr. Badriul Hegar Syarif, PhD, SpA(K). Kedua guru besar ini telah mendalami dan mengembangkan ilmu kedokteran spesialisasi anak di Fakultas Kedokteran UI (FKUI).

Rektor UI Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met memimpin upacara pengukuhan guru besar pada Sabtu (1/4) di Aula IMERI FKUI, kampus Salemba, Jakarta. Dalam prosesi pengukuhannya, Prof. Sukman menyampaikan pidato bertajuk “Identifikasi dan Intervensi Faktor Risiko Aterosklerosis pada Anak dan Remaja: Upaya pencegahan penyakit kardiovaskular pada usia Dewasa”.

Prof.Sukman memaparkan, Penyakit Jantung Koroner (PJK) akhir-akhir ini menjadi penyebab kematian yang cukup tinggi di seluruh dunia. Baik di negara maju maupun negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia. Organisasi kesehatan sedunia, WHO memperkirakan pada tahun 2020 PJK akan menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Pada tahun 1999 hanya menempati penyebab kematian di urutan ke-6.

Penyakit kardiovaskular khususnya PJK disebabkan oleh suatu proses aterosklerosis berupa penyakit pada lapisan dalam pembuluh darah arteri yang berlangsung lama. Proses tersebut berjalan perlahan-lahan, tidak menimbulkan gejala dan keluhan. Namun, sampai pada akhirnya, setelah usia di atas 30-40 tahun dan selanjutnya bila tidak teridentifikasi  akan menyebabkan penyumbatan pembuluh koroner jantung dan terjadilah infark miokard yang disebut serangan jantung.

Bila terjadi penyumbatan pembuluh darah di otak akibat aterosklerosis akan menyebabkan stroke yang juga mempunyai angka kematian yang cukup tinggi. Sejumlah faktor risiko yang harus dihindari pada usia anak dan remaja di antaranya obesitas (kegemukan), dislipidemia (kadar lipid/kolesterol yang tinggi), diabetes mellitus, rokok (terpajan tembakau), tekanan darah tinggi, dan aktivitas fisik yang kurang (in-aktivitas).

Di samping itu, terdapat juga faktor risiko yang tidak dapat diubah seperti genetik dan lingkungan. Untuk menghindarinya, Prof. Sukman menganjurkan mengatur pola hidup (lifestyle) dan makanan sehari-hari sejak dini serta meningkatkan aktivitas olah raga. Lebih lanjut, dalam pengukuhannya sebagai guru besar bidang Pediatric Gastroenterologist, Prof. Badriul menyampaikan pidato berjudul, “Kesehatan Saluran Cerna di Awal Kehidupan untuk Kesehatan di Masa Mendatang”.

Prof. Badriul menjelaskan, kondisi kesehatan saat ini sangat erat kaitannya dengan kondisi saluran cerna di awal kehidupan. Mikrobiota sangat berperan dalam mewujudkan kesehatan saluran cerna. Sistem kekebalan tubuh berkembang tidak normal bila saluran cerna tidak dikolonisasi oleh mikrobiota. Kelahiran prematur, bedah caesar, pemberian susu formula, terapi antibiotika terlalu dini, kekurangan gizi, kebersihan bahkan hewan peliharaan merupakan faktor yang dapat menganggu perkembangan mikrobiota saluran cerna bayi.

Saat ini, terminologi yang ada menjadi kelemahan tersendiri bagi masyarakat awam. Semua produk yang mengandung bakteri diberi nama probiotik. Padahal kualitas sebagian besar dari produk tersebut tidak terkontrol karena dikomersialisasikan sebagai suplemen makanan. Meski  
mikrobiota memberikan hasil positif hanya pada beberapa keadaan, tetapi pada kenyataannya saat ini mikrobiota diberikan kepada berbagai keadaan lain tanpa bukti ilmiah kuat yang mendukung penggunaannya.

Prof.Badriul mengembangkan pemikiran akan intervensi mikrobiota pada awal kehidupan yang mungkin dapat mengubah komposisi mikrobiota saluran cerna pada bayi baru lahir. Serta memberi peluang sebagai pendekatan preventif untuk mengatasi ketidakseimbangan mikrobiota bayi. (Tulisan ini dikirim oleh Rifelly Dewi Astuti, SE, MM, Kepala Humas dan KIP Universitas Indonesia)