Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 5 April 2017 | 13:06 WIB
  • Di Ujung Mimpi yang Akhirnya Dapat Terwujud

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Unut Sapitra
Di Ujung Mimpi yang Akhirnya Dapat Terwujud
Photo :
  • Pixabay/Startupstockphoto
Ilustrasi pria.

VIVA.co.id – Dalam sebuah keluarga, ada 8 orang bersaudara. Anak pertama sampai keempat sudah menikah dan mempunyai anak. Sedangkan aku adalah anak kelima. Namaku Unut Sapitra, tinggal di Kampung Ondok, Lebak, Banten. Aku lahir pada tanggal 15 November 1997 tepatnya di malam qunut awal fitrah.

Aku punya harapan yang sangat besar di antara keluargaku lainnya. Seingatku, saat aku mulai masuk Sekolah Dasar pertama kali, aku diantarkan ibuku yang sangat sayang kepadaku. Beliau bernama, Umayah. Tepatnya tahun 2004, aku mulai aktif sekolah dengan rasa semangatku. Tahun ke tahun, dari kelas 1 sampai 6 SD aku selalu meraih prestasi di dalam kelasku.

Saat aku naik ke kelas 4 SD, aku bertemu dengan seorang guru yang sangat memberikan inspirasi kepadaku. Namanya Ihat Solihat. Ia mengajar bahasa Inggris di kelasku. Lama kelamaan, aku mengenal dia seperti sosok ibuku yang  kedua. Aku diajarkannya dengan penuh kasih sayang dan terngiang kata-kata dari beliau untukku pribadi, “Nut, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Saat itu, saya belum terlalu paham apa maksud perkataannya.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai tidak mengenal sosok ibuku yang dulu selalu memberi kasih sayang kepadaku. ”Kemana ibuku?” Iya, dia ada tapi beliau tidak seperti dahulu lagi. Tanpa terasa, aku pun mulai memasuki SMP. Jarak dari rumahku ke sekolah sekitar 14 km. Jarak yang begitu jauh, dan aku hanya mampu 6 bulan saja bersekolah di sana.

Alhamdulilah di depan rumahku, tepatnya di sebelah SD-ku dulu dibangun SMP. Mungkin ini jalan dari Allah agar aku tidak perlu jauh-jauh menimba ilmu karena keluargaku tergolong keluarga yang kurang mampu. Ayahku hanyalah seorang buruh. Dia hanya bekerja jika ada yang membutuhkannya, jika tidak ada paling beliau hanya melihat-lihat sawah saja. Ayahku bernama Emed, dan aku sering bersamanya bermain-main di sawah.

Saat duduk di bangku SMP 5 Leuwidamar, aku tetap selalu meraih prestasi dan mendapat juara terus. Bahkan aku selalu ikut kegiatan seperti OSIS, karate, pramuka, dan paskibra. Alhamdulillah lagi, ternyata bu guru Ihat Solihat juga mengajar di SMP itu. Menjadi tambah semangat hidupku.

Tahun kedua di SMP, aku berhasil menjabat sebagai Ketua OSIS. Prestasiku pun menjulang, sehingga aku diberi gratis biaya sekolah sampai lulus SMA. Tapi rasa frustrasi di dalam diriku ternyata ada dan terus ada. Karena aku ingin semua hadiah-hadiah yang berhasil kuraih, ibu yang mewakili untuk mengambilnya. Tapi, itu hanyalah suatu khayalan yang tak pasti yang tak mungkin terwujud.

Ya, ibuku sakit. Lantunan doa sering aku panjatkan untuk ibuku yang terbaring. Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku sampai di penghujung sekolah SMP-ku. Tepatnya pada tahun 2013. Saat itu aku merasa kebingungan. Aku bimbang antara bekerja atau meneruskan sekolahku.

Di tengah kebimbanganku, Allah ternyata mempertemukanku dengan Ibu Wati. Beliau adalah salah seorang pedagang tanpa suami yang mempunyai anak kelas 6 SD yang bernama Geger Giat Agustina. Aku mulai akrab dengan anaknya, sehingga aku sering disuruh beliau untuk bantu-bantu di warung. Lama kelamaan aku semakin akrab dengan anaknya, sampai ke mana-mana ia selalu ingin denganku.

Aku diberi arahan kembali oleh Ibu Wati, “Nut, kamu sekolah saja. Semangatlah untuk melanjutkan sekolahmu. Sayang prestasimu selama ini,” ujar Ibu Wati. Akhirnya pada bulan Juli 2013, menjelang penutupan pendaftaran sekolah untuk Negeri, aku beranikan diri mendaftar di SMAN 1 Leuwidamar, Lebak, Banten.

Saat dua hari menjelang Ospek, aku harus mulai membayar biaya sekolah. Aku bingung, dan ternyata Ibu Wati memberiku uang untuk pemasukan awal sebesar Rp 300,000. Aku bangga dan sangat bersyukur kepada Allah. Saat aku mulai dewasa, aku baru sadar di balik sikap ibuku yang seperti itu, aku begitu dicintai banyak orang, bahkan sampai diangkat anak. Saat itu juga, aku baru sadar kalau ibuku ternyata sakit jiwa. “Bu, aku sayang Ibu. Ibu kenapa seperti itu?”

Ternyata cobaan yang harus aku lalui tidak berhenti sampai di situ. Saat penghujung SMA, tepatnya sekitar satu minggu menjelang ujian akhir dan tepat sembilan tahun ibuku sakit, Allah menguji keluargaku. Rumahku terbakar habis tanpa sisa, tepatnya pada 29 Maret 2016. Akhirnya nilai ujianku sangat rendah dan mendapat predikat yang jauh dari harapan. Karena jujur, aku merasa sangat depresi atas kejadian itu.
 
Saat tiga bulan waktu libur, dan menjelang pembukaan kuliah, aku merasa sangat bingung. Tiba-tiba aku teringat kembali perkataan guruku, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.” Akhirnya, tanpa bilang kepada orang tuaku, aku mencoba mengikuti seleksi kuliah. Tapi sayang, sampai tiba saat pengumuman, ternyata aku tidak berhasil lolos.

Aku pun mencoba mendaftar di IAIN SMH BANTEN melalui jalur PCMB. Jalur terakhir  yang sebenarnya aku tidak mau. Aku ikut bimtes KAMMI, dan akhirnya lolos. Alhamdulillah, sampai sekarang aku masih berkuliah di tempat ini. Cerita ini aku buat agar bisa menjadi motivasi bagi semua orang.

Aku berusaha bersekolah setinggi mungkin karena harapanku dari mulai SD sampai sekarang ingin menjadi dosen serta mendapat gelar yang baik. Karena besarnya harapan itu, aku selalu berusaha mewujudkannya untuk keluargaku. (Tulisan ini dikirim oleh Unut Sapitra, Serang, Banten)