Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 18 April 2017 | 16:30 WIB
  • Bobroknya Pendidikan di Indonesia

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Jaya Nug Miharja
Bobroknya Pendidikan di Indonesia
Photo :
  • Pixabay
Ilustrasi Sekolah, Ruang Kelas

VIVA.co.id – Betapa mengusik hati apa yang terjadi dengan pendidikan di bumi pertiwi ini. Kiprah pendidikan dengan tujuan memanusiakan manusia tak ubahnya seperti menunjuk bulan dengan jari hingga menjadi ironi.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa manusia-manusia hasil rekayasa pendidikan Indonesia tidak jarang selalu unggul dalam hal mencetak manusia yang koruptif, manipulatif, berhubungan dengan praktik penyalahgunaan jabatan, tindak kejahatan, kriminalitas, pencabulan anak, bahkan geng motor yang acapkali menjadi langganan kejahatan di kehidupan masyarakat.

Celakanya, Departemen Agama sendiri menjadi salah satu lembaga negara paling korupsi. Anggota dewan dari partai yang mengganggap dirinya agamis dan religius, malah ketahuan menonton film porno saat sidang paripurna.

Kerusakan moral kini bukan hanya terjadi di kalangan birokrasi pemerintahan dan aparat penegak hukum, melainkan juga sudah meracuni seluruh aspek kehidupan masyarakat. Jika kondisi ini dibiarkan, negara bisa menuju ke arah jurang kehancuran. Salah satu faktor utama pemicu keterbelakangan ini adalah kepemimpinan bangsa ini tak mampu melakukan pembangunan karakter.

Dampak bobroknya pendidikan karakter terkhusus kaum pelajar saat ini identik dengan tindakan tawuran, korban budaya cinta-cintaan, dan lain-lain. Apalagi berbicara dengan sosok anak didik di perguruan tinggi swasta atau negeri yang bernama mahasiswa.

Kalangan yang dulu sejak awal dikenal sebagai agen perubahan intelektual, pembela rakyat, dan lain-lain, kini karakternya kian jauh di ujung harapan. Jika zaman dulu mahasiswa identik dengan jiwa heroik sebagai garda terdepan, namun kini masyarakat sering melihat citra buruknya semata.

Hal ini terbukti dari mata telanjang penulis sendiri, yang melihat banyak mahasiswa yang diusir dari kosnya oleh masyarakat setempat karena kos-kosannya dicurigai digunakan untuk kegiatan seks bebas atau narkoba. Berikut ini ada beberapa faktor utama yang menimbulkan bobroknya pendidikan.

Kapitalisme Pendidikan

Merupakan salah satu ideologi ekonomi politik yang membentangkan paham individualisme yang dilakoni oleh aktor pemilik modal dengan bebas demi meraih keuntungan sebesar-besarnya. Dalam hal ini, negara memberikan kebebasan kepemilikan perorangan kepada sang beruang atau pemilik modal dalam sektor pendidikan sebagai penyelenggara penyedia jasa pendidikan.

Namun pengelola pendidikan pun menawarkan harga tanpa memikirkan kemampuan dari pihak pengguna jasa pendidikan. Jelas ini akan memunculkan kesenjangan-kesenjangan bahwa orang kayalah yang bisa mendapatkan pendidikan. Pendidikan eksklusif dan elitis hanya akan menjadi santapan lezat bagi yang mampu membelinya. Dan hak-hak setiap orang untuk mendapatkan sekolah diingkari karena persoalan ekonomi lemah.

Apa jadinya? Perguruan Tinggi akan diisi anak-anak manja yang memiliki sudut pandang borjuis (kaum beruang) dan anti perubahan. Kebanyakan dari mereka datang ke kampus hanya untuk menunjukkan status sosial dan gaya hidup.

Sangat berbeda jika dibandingkan dengan anak-anak orang miskin (kaum prasejahtera) yang bukan hanya sekadar meraih status mahasiswa, melainkan datang untuk membaca sudut pandang perubahan, karena mereka lebih merasakan arti penindasan.

Pendidikan elitis merupakan bagian dari sistem pendidikan yang sengaja disetting untuk melanggengkan penindasan. Yang tujuannya memproduksi manusia menjadi individualistik, materialistik, konsumeristik dan hedonistik. Paling bisa dilihat dari segi penggunaan gadget, kendaraan, fashion, pergaulan, dan sebagainya.