Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 26 April 2017 | 10:57 WIB
  • Meski 20 Tulangnya Patah, Bocah Ini Ingin Jadi Guru Ngaji

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta Guslia
Meski 20 Tulangnya Patah, Bocah Ini Ingin Jadi Guru Ngaji
Photo :
Fahri, bocah penderita kelainan tulang.

VIVA.co.id – "Kalau sudah besar nanti aku mau jadi seorang guru ngaji," ungkap Muhammad Fahri Asidiq, bocah penderita penyakit Osteogenesis Imperfecta. Sudah tujuh tahun bocah berusia 11 tahun ini menderita penyakit yang telah membuat tulangnya rapuh. Sebanyak 20 tulangnya patah akibat penyakit langka ini.

Ditemui tim Rumah Yatim dan anggota dari Dinsos Jabar, Sri Astati Nursani, ibunda Fahri mengatakan bahwa penyakit yang diderita putranya tersebut bermula ketika putranya yang masih berusia 4 tahun terjatuh saat bermain yang mengakibatkan tulang kaki Fahri patah.

Sejak kejadian itu, tulang Fahri mulai rapuh. Hanya karena terbentur mainan saja kakinya bisa patah. Tidak hanya itu, kaki Fahri pernah patah cuma karena tertimpa bantal ringan yang terjatuh ke pahanya.

Saking rapuhnya, tulang rusuk depan bisa patah akibat Fahri batuk. "Dalam sebulan pasti Fahri kena batuk. Kalau dia batuk, pasti ada tulang yang patah. Kekebalan tubuh Fahri lemah, jadinya dia sering kena sakit," ujar ibunda Fahri. "Fahri harus digendong dengan hati-hati. Kalau salah pegang, bisa bikin tulangnya patah," tambahnya.

Ketika Fahri berumur lima tahun, ia pernah dirawat selama satu tahun di salah satu rumah sakit swasta di Bandung. Dalam satu bulan, hanya satu minggu Fahri tinggal di rumah. Sisanya ia dirawat di rumah sakit.

Fahri sering merasa sakit akibat enam patahan tulang rusuk depan, empat patahan tulang kering, beberapa patahan di bahu kiri dan kanan, rusuk, siku, dan juga paha. Terkadang rasa sakit itu membuat Fahri lelah.

Sekarang Fahri tidak bisa beraktivitas seperti anak seusianya. Penyakit tersebut membuat Fahri tidak bisa menopang tubuhnya sendiri. Meskipun hanya bisa duduk saja, namun Fahri tidak pernah berhenti untuk belajar dan mengaji.

"Sekarang aku sudah kuat. Kalau mama bawa aku ke bengkel tulang, aku sudah enggak nangis lagi. Semoga aku bisa sembuh biar bisa bermain bola dan kelereng kayak dulu,” ungkap bocah yang tinggal di Jalan Cipadung, RT 02 RW 04, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung ini.

Fahri tidak ingin membuat cemas ibundanya. Ketika tulangnya patah, Fahri sudah tidak menangis lagi. Ia hanya berteriak dikarenakan tidak kuat menahan sakit. Ibunda Fahri yang bekerja sebagai penjual tisu di beberapa titik di kota Bandung ini hanya bisa pasrah dengan kondisi putranya. Ia hanya berharap bisa terus bekerja agar bisa mengobati putranya meskipun penghasilannya belum mencukupi. Ia pun berharap agar putranya bisa menggapai cita-citanya menjadi seorang guru ngaji.

Untuk meringankan beban ibunda Fahri dan memberikan semangat untuk Fahri, Rumah Yatim area Jabar memberikan santunan tunai peduli sesama kepada Fahri. "Semoga santunan ini bisa menjadi manfaat dan penyemangat buat Fahri. Terus belajar ya, Nak. Jangan menyerah untuk menggapai cita-cita," ungkap Sani, Kepala Cabang Rumah Yatim Jawa Barat.

Dengan sumringah Fahri tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kepedulian Rumah Yatim dan Dinsos kepadanya. ”Terima kasih ya,” katanya. "Terima kasih kepada Rumah Yatim karena selalu siap membantu kami meringankan beban mereka. Semoga Rumah Yatim semakin dipercaya masyarakat," tutup Yayah Kepala Perizinan Dinsos Jabar. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)