Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 18 Mei 2017 | 11:26 WIB
  • Ini Ancaman Rokok pada Paru-paru Kita

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • erwinmutalib
Ini Ancaman Rokok pada Paru-paru Kita
Photo :
  • Pixabay/karosieben
Ilustrasi merokok

VIVA.co.id – Perilaku hidup sehat adalah wujud keberdayaan masyarakat yang sadar, mau,dan mampu mempraktikkan lima program prioritas sehat, yaitu kesehatan ibu dan anak (KIA), gizi, kesehatan lingkungan, gaya hidup, dan dana sehat/asuransi kesehatan/JPKM. Dengan demikian, upaya untuk meningkatkan sikap dan tindakan dalam menciptakan suatu kondisi kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat dapat dilakukan secara berkesinambungan.

Rokok merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia dan merupakan satu-satunya produk legal yang membunuh sepertiga hingga setengah penggunanya, dengan korban rata-rata meninggal 15 tahun lebih cepat.

Menurut WHO, tahun 2008 diperkirakan 5,4 juta orang meninggal per tahunnya karena rokok. Sedangkan di Indonesia, menurut laporan Badan Khusus Pengendalian Tembakau Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (TCSC- IAKMI) diperkirakan 427.948 kematian per tahunnya. Atau dalam sehari ada sekitar 1.172 orang meninggal karena rokok.

Seperti diketahui, bahwa di dalam asap rokok terdapat kurang lebih 4.000 zat kimia beracun yang dapat merusak lapisan saluran nafas dan paru. Selain itu, juga dapat memicu pertumbuhan kanker di organ paru. Kerusakan di saluran nafas dan paru dapat menyebabkan gejala sesak napas. Jika pengaruh asap rokok terjadi di pembuluh darah dan jantung, dapat mengakibatkan serangan jantung yang juga gejalanya bisa seperti napas berat atau sensasi sesak.

Zat berbahaya itu antara lain hydro cyanida (racun yang dipakai untuk hukuman mati), ammonia (zat pembersih lantai), toluena (pelarut industri), arsenic (racun semut putih), butane (bahan bakar korek api) DDT (racun serangga), aceton (penghapus cat), methanol (bahan bakar roket), napthalane (kapur barus), cadmium (dipakai pada accu mobil), carbon monoksida (gas yang keluar dari knalpot), vinyl clorida (bahan plastik PVC), dan masih banyak lagi zat beracun lainnya.

Dalam kasus yang berhubungan dengan penyakit paru-paru, terutama TBC paru, perokok yang menderita TBC angka kesembuhannya sangat lambat daripada yang bukan perokok. Sehingga sebuah anekdot mengggambarkan andaikan paru-paru perokok direndam di dalam baskom yang berisi air putih, maka air itu akan berubah menjadi hitam. Sebegitu parahkah paru-paru perokok dibanding yang bukan perokok?

Mungkin banyak yang tidak menyadari hal tersebut. Meskipun bertahun-tahun mereka merokok, pada suatu saat mereka akan sadar kalau rokok tidak lagi menyenangkan yang bisa membuat jalan pikiran terbuka, tetapi rokok menjadi suatu ancaman yang menakutkan. Sesaknya memang tidak terlalu mengganggu, tapi setiap kali habis berjalan ia baru merasakan.

Memang bagi perokok apalagi yang kelas berat, keluhan selalu berhubungan dengan pernafasan. Dan tanpa disadari, keluhan itu akan cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Lebih celaka lagi, bukan cuma si perokok aktif yang merasakannya, tapi juga si perokok pasif (yang terkena asap rokok) dan mereka lebih menderita.

Suatu fenomena yang menarik, bahwa desa kadang identik dengan penduduknya yang perokok, terutama kaum lelakinya. Sangat jarang kita melihat orang dapat menyadari bahaya rokok. Bagi mereka, rokok dapat mendatangkan kepuasan. Bahwa nantinya akan muncul masalah seperti batuk, sesak nafas, sampai lemah syahwat itu persoalan belakang.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa penghentian rokok merupakan suatu hal yang wajib dilakukan. Merokok merupakan salah satu penyebab kematian utama di dunia. Bahkan, sekarang rokok merupakan mesin pembunuh yang legal di dunia ini. Meski kampanye anti rokok terus digencarkan, namun jumlah perokok setiap tahun kian bertambah.

Hasil sebuah penelitian yang dilakukan pada remaja perokok di Yogyakarta, terjadi peningkatan yang signifikan. Penelitian tahun 1995 jumlah perokok pemula pada laki-laki hanya sekitar 45 persen. Sedangkan, penelitian tahun 2000 meningkat menjadi 60 persen. (Tulisan ini dikirim oleh Erwinmutalib)