Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 19 Mei 2017 | 16:58 WIB
  • Benang Merah antara Agama dan Politik

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Ikhwan Arif
Benang Merah antara Agama dan Politik
Photo :
  • Danar Dono - VIVA.co.id
Massa pendemo di sidang Ahok.

VIVA.co.id – Tolong pisahkan antara agama dan politik. Kalimat ini sering terdengar di ruang publik. Agama dan politik tidak bisa dipisahkan. Harus ada perbedaan posisi dan benang merah antara keduanya. Menurut Willian O’Donal, all is about politic, maksudnya segala sesuatu terkait politik.

Pada kondisi saat ini, ada kerawanan yang mengkhawatirkan dalam dinamika politik demokrasi Indonesia. Yakni ketika agama dikonsumsi dalam praktik politik tanah air atau yang sering disebut politisasi agama. Politisasi agama semakin sering diumbar ketika kondisi sistem politik mulai digoncang oleh isu-isu yang berbau SARA.

Banyaknya tuntutan dan gejolak politik pada kondisi transisi demokrasi Indonesia saat ini bagaikan telur di ujung tanduk. Kekhawatiran ini muncul ketika adanya aksi dan demonstrasi, serta isu-isu yang berbau SARA, serta lain sebagainya yang kerap memengaruhi perilaku politik masyarakat. Dalam konteks ini, agama kerap sekali menjadi satu-satunya senjata dominan yang bisa memobilisasi pilihan politik masyarakat.

Agama digunakan untuk menangguk dukungan suara pada kontestasi politik. Hal ini seiring dengan segmen pemilih yang berdasarkan agama menjadi perilaku politik dan memilih masyarakat, serta ketidakpercayaan terhadap kondisi sistem politik terutama partai politik. Para kader akar rumput dan petinggi partai politik rata-rata tidak laku dalam pilihan masyarakat. Terbukti dalam beberapa kali kontestasi politik, partai politik kocar-kacir mencari calon bukan dari kader partai politik itu sendiri hanya demi meraih kemenangan.

Bahkan ketika agama dijadikan senjata politik dalam keadaan mendesak. Hal ini menggambarkan bahwa tendensi politik yang mengkhawatirkan belakangan ini. Ketika kita melihat agama sering dilakukan dalam kampanye secara tidak langsung. Misalnya dengan mengadakan kegiatan keagamaan menjelang Pilkada, saling mencela kepercayaan agama lain, rutin mengunjungi rumah ibadah, menggelar pengajian dan sebagainya. Ironisnya, ketika Pilkada usai, semuanya sunyi dan senyap serta hilang begitu saja.

Kondisi ini dipertajam ketika secara terang-terangan kandidat lawan diserang dengan simbol-simbol agama. Perbedaan agama dieksploitasi sedemikian hebat dan mengutip ayat-ayat kitab suci untuk meraih dukungan konstituen selama kampanye. Dalam momen ini, tidak heran para petarung Pilkada mendadak religius, alim, dan penuh dengan simbol keagamaan. Tentunya hal ini sudah menjadi sorotan umum dalam konteks demokrasi Indonesia saat ini.

Pada kondisi ini, jika masyarakat tidak berpikir rasional dan tidak mengedepankan prinsip-prinsip kebhinekaan, maka berpotensi merusak keberagaman Indonesia. Tentunya ini akan menimbulkan isu SARA yang berkelanjutan hingga dalam kontestasi Pilkada dan Pilpres. Kondisi bisa semakin sensitif, dan hal ini harus dihentikan oleh semua elemen masyarakat. (Tulisan ini dikirim oleh Ikhwan Arif, Jakarta)