Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 2 Juni 2017 | 14:26 WIB
  • Aku Terjepit antara Pulau Ternate dan Sulawesi

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • erwinmutalib
Aku Terjepit antara Pulau Ternate dan Sulawesi
Photo :
  • PIxabay/Hermann
Ilustrasi pria pergi jauh meninggalkan kampung halaman.

VIVA.co.id – Ternate adalah kota yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan yang penuh liku-liku perjalanan hidup. Di Ternate ada begitu banyak catatan pahit, tapi ada juga manis-manisnya. Karena mungkin saya bukan orang yang serba kelebihan materi.

Saya selesaikan SD, SMP, dan SMA di salah satu sekolah ternama di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Dengan kehidupan yang serba kekurangan, tetapi semangat orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah yang berstandar harus terwujud. Pada satu saat, setelah saya tamat SMA, saya pun sudah mulai berpikir bahwa mana mungkin saya dapat melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

Pada saat itu saya berpikir kembali, mana mungkin saya bisa lanjut sekolah dengan kondisi orang tua yang sedang sakit-sakitan. Saya adalah keluarga termiskin urutan kedua di kampung. Namun dengan kemiskinan itu, bukan berarti orang tua saya memberhentikan keinginan saya untuk kuliah keluar kota.

Jarak Kota Ternate dan Sulawesi bukan ditempuh dalam satu atau dua jam perjalanan. Namun, berhari-hari baru bisa sampai di Pulau Sulawesi. Dan sudah tentu harus melewati pegunungan lautan yang sangat jauh daratannya. Saya berkata kepada orang tua, “Pak, tidak usahlah saya lanjut kuliah kalau nantinya kalian akan kesulitan. Karena kuliah butuh waktu yang lama Pak,” ujar saya kala itu.

Namun, mereka menjawab, “Kamu harus kuliah. Kamu harus jadi orang yang berguna untuk nusa dan bangsa. Cukup hanya bapak dan mama yang merasakan kepahitan kehidupan. Tapi kamu harus sekolah, Nak!” katanya. Kemudian orang tua saya meminta saya untuk mendengarkan sebuah cerita, dan saya persilakan mereka untuk menceritakannya. Orang tua saya pun bercerita tentang kisah kerang mutiara.

Pada saat mencari makan, kerang mutiara akan membuka mulutnya dan kemudian menutup mulutnya lagi. Pada suatu saat, kerang mutiara sedang membuka mulutnya, dan kemudian masuklah pasir ke dalamnya. Lalu kerang mutiara itu berteriak, mengeluh sakit kepada ibunya sambil mengeluarkan air mata. Ibunya hanya meminta anaknya untuk bersabar. dan jangan membalas rasa sakit itu dengan kejahatan. Anak kerang mutiara pun mengikuti perkataan sang ibu sambil terus mengeluarkan air mata untuk membungkus pasir tersebut.

Lama kelamaan, rasa sakit itu hilang. Dan pada suatu saat, hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Semua kerang dipanen. Kerang yang ada pasirnya dipisahkan dengan kerang yang tidak ada pasirnya. Ternyata, kerang yang tidak ada pasirnya diobral di jalan. Sedangkan, kerang yang ada pasirnya dijual dengan harga yang mahal karena karang tersebut adalah inti dari mutiara.

Setelah orang tua saya menceritakan kisah tersebut, mereka bertanya mana yang akan saya pilih. Mau jadi kerang mutiara, atau menjadi kerang yang diobral di jalan yang tidak tahan cobaan. Akhirnya, saya memutuskan untuk menjadi kerang mutiara. Kemudian orang tuaku kembali berkata, “Kalau kamu mau jadi kerang mutiara, mulai sekarang kamu harus sekolah. Tidak perlu kamu harus berpikir tentang biaya kuliahmu, Nak,” ujar mereka.

Ilustrasi lulus kuliah.

Ilustrasi lulus kuliah menjadi idaman mahasiswa

Saya pun mulai mengikuti pilihan orang tua saya untuk melanjutkan sekolah. Saya memutuskan untuk kuliah di Makassar, Sulawesi Selatan, sesuai dengan permintaan orang tua saya. Saat akan memulai perjalanan menuju Kota Makassar, orang tua saya mengantarkan saya sampai ke pelabuhan.

Setelah menempuh beberapa hari perjalanan ke Makassar dengan melewati lautan dan daratan, akhirnya saya sampai juga. Sempainya di sana, saya bagaikan orang yang awam yang tidak pernah menginjakkan kaki di kota. Rasa sedih bercampur bangga saya rasakan. Saya menikmati indahnya hidup di kota, walaupun status saya baru saja tiba di kota orang.

Saya pun mulai kuliah di salah satu perguruan tinggi di Kota Makassar, yaitu Universitas Muslim Indonesia. Semester awal begitu nyaman dirasakan. Bertemu beberapa teman dari daerah yang berbeda. Namun, terkadang saya merindukan sosok ibu, ayah, dan adik-adik. Rasa rindu pun mulai semakin membelenggu. Ingin sekali pulang kampung. Tapi saya tidak ingin membebani orang tua untuk yang kesekian kalinya.

Pada suatu saat, tibalah momen Lebaran. Itu adalah Lebaran pertama saya terpisah dengan orang tua. Terkadang saya tidak bisa melepaskan rasa rindu ini. Sangat ingin bertemu dengan mereka. Hanya air mata yang bisa mengetahui, walaupun air mata ini keluar tampa sepengetahuan orang tua saya.

Semester dua sampai semester delapan, suasana ini masih tetap melekat dalam diri saya. Dalam kesendirian dan rasa rindu yang sudah teramat sangat ingin segera bertemu. Namun, belum ada kesempatan untuk bertemu dengan mereka. Padahal menurut pendapat teman-teman saya, waktu Lebaran atau liburan puasa inilah momen yang tepat untuk bersilaturahmi dengan mereka. Karena belum tentu Lebaran berikutnya kita masih bisa bertemu dengan mereka.

Mendengar perkataan dari teman saya ini, saya pun mulai berpikir untuk pulang kampung. Namun, tepat di semester akhir pada saat momen penelitian saya untuk menyelesaikan S1, ibu saya meninggal dunia. Orang yang paling saya cintai dan saya kagumi kesabarannya.

Perasaan saya sudah mulai tidak menentu. Harus bagaimana agar saya bisa pulang. Tapi saya tidak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa. Memang ayah mengatakan kalau saya tidak perlu balik ke kampung, tapi saya mau pulang untuk melihat ibu. Kemudian ayah saya berkata, “Nak, bukannya Ayah tidak mau kamu pulang. Tapi Ayah belum ada uang untuk biaya kamu pulang, Nak,” ujarnya lirih.

Saya terdiam dan berkata dalam hati, “Ya Allah, beginikah nasib orang yang melarat? Hanya untuk mengejar cita-cita sungguh berat rasanya. Meninggalkan orang tua dan adik-adik bagaikan tumbuhan merindukan air,” ujarku.

Saya merantau kurang lebih hampir lima tahun di Kota Makassar. Meninggalkan keluarga dan adik-adik hanya untuk mengejar cita-cita. Sekarang saya dipertemukan kembali di momen bulan Ramadan untuk yang kesekian kalinya. Namun, momen ini saya juga belum bisa meluangkan waktu untuk bertemu ayah dan adik-adik saya.

Doa terbaik untuk ayah, adik-adik, dan keluargaku di kampung. Semoga kita selalu diberikan panjang umur dan sehat selalu. Tetaplah menjaga moto hidup kita, yaitu Allah lagi, Allah lagi, Allah dulu, dan Allah lagi. (Tulisan ini dikirim oleh Erwinmutalib, Makassar)