Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 5 Juni 2017 | 12:52 WIB
  • Sepenggal Cerita di Perjalanan Menuju Kampung Halaman

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • jusriadi05
Sepenggal Cerita di Perjalanan Menuju Kampung Halaman
Photo :
  • U-Report
Ilustrasi mudik ke kampung halaman.

VIVA.co.id – Pagi itu dalam perjalanan mudik ke kampung halaman, ada-ada saja kejadian yang bisa disaksikan. Mulai dari keberangkatan, di perjalanan, sampai di tempat tujuan, yaitu kampung halaman. Perjalanan ini dimulai sejak awal menjalani puasa dengan menaiki angkot tujuan Malengkeri.

Terminal Malengkeri adalah salah satu terminal yang berada di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, yang biasa menjadi tempat persinggahan para sopir dan masyarakat sebelum lanjut untuk mencari pengalaman kerja maupun yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ke kota yang dikenal dengan kota megapolitan, yaitu Makassar.

Para penumpang yang datang dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Ada dari Kabupaten Takalar, Jeneponto, Bulukumba, Bone, dan masih banyak lagi lainnya. Menjadikan terminal ini ramai dipadati masyarakat yang ingin mudik ke kampung halaman.

Oh iya, sebelumnya, nama saya Jusriadi. Masih duduk di bangku kuliah semester VI di salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar. Sebagai mahasiswa, siri dalam bahasa Makassar artinya malu, seharusnya tidak ada dalam kamus mahasiswa. Karena tidak punya kendaraan, tanpa pikir panjang akhirnya angkot yang lewat di depan kampus saya tahan, dan seketika langsung berhenti.

“Pak, mau ke terminal ya?” tanya saya dengan paras yang lugu. “Iya, kenapa?” tanya pak sopir itu. “Kebetulan saya mau balik ke kampung, dan saya mau naik mobil di terminal Malengkeri,” ujar saya menjelaskan. “Iya, silahkan naik!” kata si sopir yang akrab disapa Daeng Nyampa (39) itu.

Adanya pemandangan yang lain dari biasanya di dalam angkot yang saya tumpangi, menyebabkan saya mengambil notes atau catatan kecil dan mulai mencatat. Tiga anak pengamen melompat ke dalam angkot. Salah satunya cacat kedua tangan dan kakinya dan berseragam sekolah dasar dengan membawa tas yang bukan berisi buku, tapi gitar.

Ketika gitar sudah digantungkan di leher dan dimainkan, anak yang cacat pun bernyanyi. Setengah jam kemudian, saya sampai di terminal Malengkeri. Saya pun turun dari angkot dengan notes yang beberapa halamannya sudah berisi catatan baru. Reportase dan hasil wawancara dengan si Ical, demikianlah nama anak yang cacat tadi.

“Nama saya Ical. Saya tinggal di Antang Raya, Kelurahan Banggala. Tidak pernah ada seorangpun yang menanyakan tentang asal usul saya ketika saya mengamen. Cita-cita saya hanya satu, menjadi penyanyi. Enggak usah terkenal, tapi cukup didengar. Saya tak pernah sekolah, saya tak bisa membaca dan menulis, tapi kalau berhitung bisa. Ayah saya kuli bangunan di Makassar. Empat tahun lalu saya lari ke Takalar,” ujarnya menceritakan tentang dirinya.

Dua puluh menit setelah wawancara dengan anak pengamen tadi, datanglah Pak Kadir, sopir yang yang mobilnya akan saya tumpangi ke kampung halaman. Kebetulan Pak Kadir ini satu kampung dengan saya. Mengingat pesan orang tua yang meminta saya untuk pulang kampung naik mobil dan melarang naik motor. "Kalau pulangko nanti jangan mako naik motor, naik mobil saja. Nanti ada apa-apa di jalan. Dan kalau tidaka ada ongkos pulangmu, nanti baru dibayar sopirnya," itulah pesan ibu dengan logat Makassarnya.

Karena ini adalah pesan orang tua, sekaligus ongkos di saku celana tidak ada, mengharuskan saya menikmati perjalanan dengan mobil sedan Pak Kadir. Ditemani dengan lima penumpang plus diputarkan musik religi, lapar dan dahaga tidak terasa. Sambil asyik memutar stir mobil ke kiri dan ke kanan, Pak Kadir pun sedikit bercerita seputar diri dan keluarganya.

"Walaupun saya sopir yang harus pulang balik dari daerah ke kota, saya tetap mesti puasa di bulan Ramadan. Kita ini tidak akan hidup selamanya, pasti kita akan mati. Apalagi ini hanya setahun sekali. Jadi tidak ada alasan untuk tidak puasa. Beda dengan perempuan yang serba ribut, punya seribu alasan," katanya.

“Walaupun profesi hanya sebagai sopir, tapi cita-cita saya sangat tinggi untuk menyekolahkan semua anak saya sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Dan sekarang sudah dua yang hampir tamat. Satu masuk SMA, dan satunya lagi baru masuk kuliah," ucap Pak Kadir. Tiga jam kemudian, kami memasuki Kabupaten Bulukumba. Cerita tentang perbaikan jalan rusak yang sempat dilewati menjadi catatan penting di benak saya beserta keempat penumpang lainnya.

Sebelumnya, tepatnya pada tanggal 25 Mei 2017, masyarakat melakukan aksi demonstrasi besar-besaran kepada Andi Sukri Sappewali, selaku Bupati baru yang belum lama menjabat ini. Masyarakat menuntut agar perbaikan jalan cepat dilakukan karena mau memasuki bulan Ramadan. Aksi itu menimbulkan kemacetan sepanjang Jalan Poros Bulukumba.

Sehari setelah aksi, tuntutan masyarakat pun langsung dipenuhi, "Pak Andi Sukri Sappewali usianya sudah 80-an, jadi bisa dimaklumi. Mungkin itu alasan kenapa perbaikan infrastruktur jalan dan pembangunan berjalan di tempat selama masa kepemimpinannya,” kata Pak Kadir dengan sedikit senyuman lucu.

"Kemungkinan lambatnya perbaikan infrastruktur jalan dan pembangunan kota yang lebih maju, bukan karena soal umur. Tapi dia tidak mampu menjalin hubungan atau kerja sama dengan pihak swasta di luar negeri yang mampu mendatangkan modal untuk pembangunan Bulukumba yang lebih baik,“ kata Sulaiman, salah satu penumpang Pak Kadir.

Setelah waktu menunjukkan pukul empat sore, ia berhenti sejenak di Toko Agung. Dia membeli sebungkus rokok untuk persiapan berbuka puasanya. Setelah meninggalkan toko, ia segera melaju dengan cepat agar tidak ketinggalan berbuka puasa di rumah. Setengah jam kemudian, penumpang satu persatu turun di depan rumahnya. Pukul lima sore, akhirnya saya pun tiba di rumah, kampung halaman tercinta. (Tulisan ini dikirim oleh Jusriadi, Gowa, Sulawesi Selatan)