Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 8 Juni 2017 | 11:44 WIB
  • Mirisnya Kehidupan Warga Kampung Sinar Labah Lampung

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta dan Enuy
Mirisnya Kehidupan Warga Kampung Sinar Labah Lampung
Photo :
Penyerahan bantuan untuk warga Kampung Sinar Labah, Lampung.

VIVA.co.id – Dia kembali datang ke Rumah Yatim Tanjung Karang Lampung, tetapi bukan untuk dirinya. Dia meminta bantuan untuk warganya, lebih tepatnya para tetangganya yang ada di Kampung Sinar Labah, RT 06 LK 02, Desa Sumur Putri, Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung.

Menurutnya, ada 100 warga tidak mampu di sana yang membutuhkan uluran tangan para aghnia.

Dia adalah Arwani. Seorang pria bersahaja dan sederhana. Hartanya memang tidak mencukupi untuk menolong masyarakat di desanya, namun dia tidak berpangku tangan. Dia berusaha semampunya, salah satunya dengan ilmu yang dia miliki. “Ilmu agama orang-orang di kampung saya masih sangat kurang,” paparnya.

Maka dengan tulus ikhlas dia pun memberanikan mengajar dan terkadang menjadi pemimpin tahlilan warga di sana. Ternyata usahanya tidaklah cukup. Karena bukan hanya lapar rohani, warga di sana pun lapar jasmani. Kondisi perekonomian di sana sangat memprihatinkan, karena kampung itu adalah kampung terisolir dari hiruk-pikuk Ibu Kota Lampung.

Kampung tersebut termasuk kampung yang rawan pangan. Masyarakat di sana hampir semua buruh serabutan, termasuk  Arwani sendiri  yang sehari-hari hanya bekerja sebagai pemulung sampah. “Saya ingin membantu mereka. Saya harap Rumah Yatim tak hanya membantu saya saja, tapi juga membantu warga di kampung saya,” paparnya kepada Welly, Kepala Asrama Tanjung Karang.

Sebenarnya, letak gedung-gedung pemerintahan dan perkantoran, salah satunya kantor gubernur dan kantor pajak sangatlah dekat. Tapi karena jalan menuju ke sana sempit, dan bahkan jika tidak tahu jalan akan tersasar, menjadikan kampung tersebut tak pernah tersentuh. Maka tak heran, jika warga di sana selain miskin juga berpendidikan rendah.

Rumah Yatim sangat menghargai perjuangan beliau dalam upaya membantu warga sekitarnya. Maka bersamaan dengan diadakannya pembagian santunan sembako di Asrama Tanjung Karang, Rumah Yatim pun mengundang warga Sinar Labah untuk datang, meski hanya setengahnya saja yakni 50 orang.

Tak disangka, 50 orang tersebut  datang dengan berjalan kaki padahal jarak antara Rumah Yatim Tanjung Karang dan Kampung Sinar Labah sekitar 1 km. Terlihat nenek-nenek tua berusia 70 tahun menghampiri dan menunggu antrian pembagian sembako. Kondisi yang sangat miris. Jauh-jauh mereka tempuh demi bahan sembako yakni beras, teh, minyak, gula dan lainnya.

Hal tersebut akhirnya menggerakkan hati Welly, Kepala Asrama Rumah Yatim Tanjung Karang untuk berkunjung ke sana dan memberikan bantuan secara langsung. Dari Arwani dan warga, didapat informasi bahwa tak hanya warganya yang terisolir. Namun  sarana dan prasarana umum di sana juga jauh dari kata layak. “Insyaallah kami akan datang ke sana untuk membantu warga dan memberikan bantuan bahan bangunan untuk membangun sarana publik yang harus diperbaiki,” papar Welly. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta dan Enuy)

 

  • Berburu Berkah Ramadan dengan Berbagi Takjil Gratis
    Berburu Berkah Ramadan dengan Berbagi Takjil Gratis
  • Persekusi Bukan Tindakan Agamais
    Persekusi Bukan Tindakan Agamais
  • Televisi dalam Bingkai Ramadan
    Televisi dalam Bingkai Ramadan
  • Susahnya Menjadi Anak Pertama
    Susahnya Menjadi Anak Pertama
  • Silaturahmi dan Buka Bersama Alumni Universitas Andalas
    Silaturahmi dan Buka Bersama Alumni Universitas Andalas
  • Penderita Usus Bocor Ini Akhirnya Menerima Bantuan
    Penderita Usus Bocor Ini Akhirnya Menerima Bantuan