Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 12 Juni 2017 | 11:22 WIB
  • Potret Kemiskinan Seorang Buruh Tani di Aceh

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta dan Enuy
Potret Kemiskinan Seorang Buruh Tani di Aceh
Photo :
Potret kemiskinan seorang buruh tani di Aceh.

VIVA.co.id – Kenangan tentang sosok wanita itu masih tergambar di benak Dewi, ibu asrama Rumah Yatim Aceh. Sosok wanita berpakaian penuh lumpur dengan mata yang letih dan kulit yang terbakar matahari. Dia adalah wanita asal Aceh yang jelita. Tampak dari garis-garis mukanya yang kini disapu oleh lelahnya kehidupan.

Namanya Anisah, tinggal di Gampong Neuheun, Masjid Raya, Aceh Besar. Sehari-harinya dia bekerja sebagai seorang buruh tani dan ibu rumah tangga. Mengurus kelima anaknya dengan telaten dan mengurus rumahnya dengan sangat baik.

Rumah miliknya entah masih layak dikatakan rumah atau tidak. Terlihat atap-atap yang terbuat dari anyaman daun kelapa sudah robek-robek tengahnya. Jika terjadi hujan, ada kemungkinan seisi rumah kebasahan. Dapur yang terlihat rapi itu sangat sederhana. Barang mahal yang dia miliki hanya kompor gas saja, bahkan tak ditemukan sebuah panci pun.

Saat Dewi menemuinya, Anisah mengakui bahwa dirinya belum memiliki beras sedikitpun karena pekerjaannya belum selesai. Untuk mendapatkan beras dua bambu, dia harus bekerja seharian di sawah orang. Dan untuk mendapatkan teman nasi, dia pun harus menunggu suami yakni Rasyidin Basyah pulang. Suaminya bekerja seharian sebagai pengrajin bata dengan upah Rp800 per batanya.

Anak terbesarnya yang berusia 19 tahun terpaksa harus mengadu nasib ke kota Banda Aceh untuk menjadi seorang asisten rumah tangga. Dan darinya pula Rumah Yatim mengetahui keberadaan mamaknya yang hidup bersama ayah dan empat adiknya yang secara tidak langsung bergantung hidup padanya.

Jarak antara anak satu dengan yang lainnya terpaut 2 tahun. Maka bisa kita pastikan putra-putri Anisah semuanya masih kecil-kecil. Namun sayang, meski masih usia sekolah semua anaknya harus putus sekolah dan terpaksa mengenyam pendidikan hanya sampai Sekolah Dasar saja. Maka tak heran putri sulungnya pun hanya mendapat pekerjaan sebagai asisten rumah tangga. Meski begitu, Anisah bersyukur putrinya dapat membantu dirinya dan adik-adiknya.

Mereka adalah potret kehidupan. Potret kemiskinan di Indonesia yang sampai detik ini masih terus diperjuangkan agar semakin sedikit pemilik predikat miskin di Indonesia. Namun, kondisi perekonomian seolah tak memberikan ruang untuk bernapas kepada mereka. mereka terus mengejar sesuap nasi, tanpa punya kesempatan untuk mengejar kehidupan yang lebih baik dengan menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi agar mata rantai kemiskinan dapat terputus.

Tapi apa mau dikata, seperti kata Anisah, “Mau gimana lagi, kami tak punya uang untuk menyekolahkan anak-anak kami”. Harga sekolah memang sudah gratis, namun tak semua atribut yang ada di sekolah itu gratis.

Kehidupan mereka membuat Dewi tertunduk dan memuji kebesaran Allah. Di tengah kota yang besar ini, di tengah gencarnya pemerintah Aceh memberantas kemiskinan, ternyata mereka masih juga belum tersentuh.

Bersyukur Dewi bisa bertemu dan memberikan kebutuhan biaya pokok untuk meringankan beban mereka. Setidaknya Rumah Yatim dengan para donaturnya dapat membantu meringankan beban mereka. Dan Dewi berharap dengan kisah ini banyak orang yang terus peduli terhadap mereka, menyisakan sedikit hartanya agar mereka dapat memenuhi kebutuhannya. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta dan Enuy)