Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 12 Juni 2017 | 16:40 WIB
  • Aku Ingin ke Jakarta

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Ridho Adha Arie
Aku Ingin ke Jakarta
Photo :
  • VIVA.co.id/Eka Permadi
Suasana Monas.

VIVA.co.id – Sudah 21 tahun aku hidup di dunia ini. Sudah 21 tahun juga aku menjadi warga negara Indonesia, tapi belum sekali pun aku pernah menginjak Kota Jakarta. Melihat Monas, Pasar Senen, dan Patung Pancoran pun aku belum pernah. Ingin rasanya aku ke sana dan melihat betapa macet, ribut, dan riuhnya Kota Jakarta.

Dulu ketika baru lulus dari SMK, aku pernah memiliki keinginan untuk pergi ke Jakarta dan kuliah di Universitas Indonesia. Namun, aku menyadari betapa sulitnya ekonomi keluargaku. Bahkan aku masih memiliki empat orang adik yang juga masih sekolah waktu itu. “Apa hanya aku satu-satunya warga negara Indonesia yang sama sekali belum pernah pergi ke Jakarta dan melihat Monas?” Pertanyaan itu selalu muncul di dalam kepalaku.

Hingga suatu hari aku pernah menuliskan cerita tentang keinginanku untuk pergi ke Jakarta dan melihat Monas. Sungguh bodohnya aku saat itu. Bisa-bisanya aku menuliskan cerita khayalan dan dongeng untuk dibaca oleh banyak orang. Mereka pasti tertawa-tawa ketika membacanya. Saat itu aku sangat berharap akan ada orang baik yang mau membiayai perjalananku untuk pergi ke Jakarta. Tapi nyatanya, sampai sekarang belum ada satu pun orang baik yang mau melakukannya.

Jika aku terlahir di keluarga yang kaya dan serba kecukupan, mungkin aku bisa dengan mudah pergi ke Jakarta tanpa harus berjuang mati-matian seperti sekarang. Menulis banyak cerita dan berusaha memenangkan berbagai lomba menulis artikel dan cerpen yang ada di internet, membuat blog dengan berbagai cerita bodoh dan aneh, atau pun menabung tapi uangnya selalu terpakai untuk biaya hidup sehari-hari.

Kini aku tahu apa tujuanku untuk pergi ke Jakarta. Bukan untuk melihat Monas, Patung Pancoran, Pasar Senen ataupun pergi ke Dufan. Tujuanku pergi ke Jakarta adalah untuk mengantarkan naskahku langsung ke penerbit. Mungkin pergi ke tempat-tempat tersebut adalah bonusnya. Sekaligus aku ingin merasakan bagaimana rasanya naik pesawat. Kata salah satu temanku, sama seperti kita sedang naik lift.

Naskah yang ingin kukirim adalah cerita yang sudah kuselesaikan dua bulan yang lalu. Itu merupakan cerita keduaku yang belum aku cetak dan menjadi naskah. Alasannya karena faktor ekonomi dan tidak ada printer. Di tahun 2017 ini, aku sudah menyelesaikan dua cerita. Sekarang, aku sudah masuk ke cerita ketiga. Tapi sayangnya, saat ini aku sedang down dan tidak mood untuk menulis karena ide dan gagasan yang belum cukup bagus.

Cerita pertama sudah kukirim lewat pos dan sekarang hanya tinggal menunggu jawaban dan balasan dari penerbit. Inginnya cerita kedua dan ketiga akan menyusul sembari menunggu jawaban dan balasan dari penerbit, tapi sayang cerita ketiga masih belum selesai.

Aku benar-benar ingin pergi ke Jakarta saat ini. Jika ceritaku hingga Lebaran ini masih belum selesai juga, mungkin hanya cerita kedua saja yang akan kukirim. Kenapa susah sekali ya untuk menjadi seorang penulis? Jika tidak sekarang, mungkin suatu saat. Jika tidak suatu saat, mungkin aku tidak akan pernah menginjak tanah ibu kota dari negara tempat aku tinggal ini. (Tulisan ini dikirim oleh Ridho Adha Arie, Pekanbaru)