Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 13 Juni 2017 | 12:47 WIB
  • Musala Kecil Para Perantau Muslim di Utrecht Belanda

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Ristiyanti Handayani
Musala Kecil Para Perantau Muslim di Utrecht Belanda
Photo :
Musala kecil di Kota Utrecht, Belanda.

VIVA.co.id – Di setiap bulan suci Ramadan, tempat ini menjadi begitu favorit di kalangan komunitas Muslim Indonesia di Kota Utrecht. Bangunan yang kami jadikan tempat berkumpul, berinteraksi dan menjalankan aktivitas spiritual atau keagamaan.

Memang bukan gedung yang megah. Hanya berupa bangunan sederhana bekas minimarket yang disewa dari uang gotong-royong jemaah. Namun bangunan kecil nan bersahaja itu bagaikan oase sejuk pelepas dahaga di tengah hiruk pikuk ritme kehidupan barat bagi komunitas Muslim Indonesia yang tergabung dalam organisasi Stichting Generasi Baru (SGB-Utrecht) yang diketuai oleh Bapak Supardi Hasanudin.

Musala yang beralamat di Jalan Bazelstraat nomor 31 ini terletak di jantung kota Utrecht. Kota Utrecht dahulu merupakan kota keuskupan lama Belanda. Jadi, tidak mengherankan apabila landmark kota ini adalah domkerk (menara gereja). Utrecht adalah kota terbesar keempat di Belanda setelah Amsterdam, Den Haag, dan Rotterdam. Populasi penduduknya tidak lebih dari 400 ribu orang dengan jumlah penduduk Muslim sekitar 13 ribu orang yang berasal dari Indonesia, Suriname, India, Pakistan, Turki, Maroko, dll.

Bulan Ramadan yang kami nantikan selalu menjadikan musala kecil sewaan kami ini penuh sesak dengan jemaah. Terutama saat acara rutin buka puasa bersama setiap hari Sabtu. Para perantau yang menetap di sini, para pelajar, bahkan para mualaf warga negara Belanda ikut berkumpul untuk melaksanakan iftar, salat magrib, dan salat isya berjemaah.

Beragam agenda kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di musala ini bertujuan untuk menjalin tali silaturahmi dan mempererat semangat persaudaraan. Ada pengajian rutin anak-anak, pengajian rutin ibu-ibu, pengajian rutin khusus bagi para mualaf, dan kegiatan positif lainnya layaknya kegiatan masjid-masjid di Indonesia.

Senantiasa ada kisah indah dan unik yang sulit kami lupakan ketika kami meretas jejak perjalanan ukhuwah lintas etnis, budaya, dan bahasa. Salah satunya adalah tausiah-tausiah yang disampaikan setidaknya dalam tiga bahasa yaitu Belanda, Indonesia, dan Inggris.

Dikarenakan jumlah jemaah yang kian bertambah, maka para pengurus SGB dan seluruh jemaah mulai membangun cita-cita dan harapan untuk memiliki masjid yang lebih representatif. Kami seluruh jemaah berupaya dengan jalan bergotong-royong secara moril dan material lewat penggalangan donasi. Baik dalam bentuk infak, sedekah, maupun wakaf guna mewujudkan impian kami semua akan sebuah masjid Komunitas Muslim Indonesia di Utrecht.

Semoga niat kami memiliki masjid sebagai tempat bagi kami dan anak-anak belajar dan memahami ajaran Alquran mendapatkan rida dari Allah SWT.  (Tulisan ini dikirim oleh Ristiyanti Handayani, Utrecht, Belanda)