Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 13 Juni 2017 | 16:49 WIB
  • Pedagang Otak-otak dan Perpustakaan Gratisnya

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Rachman
Pedagang Otak-otak dan Perpustakaan Gratisnya
Photo :
Anton Wibowo dan perpustakaan gratisnya.

VIVA.co.id – Menumbuhkan minat membaca buku memang tidak gampang, apalagi di era digital seperti sekarang ini. Buku bacaan seperti kehilangan "roh" nya. Namun, ada saja cara untuk menumbuhkan kembali minat membaca khususnya kaum muda, seperti yang satu ini.

Pedagang jajanan otak-otak di Kecamatan Sidareja, Kabupaten Cilacap, selain menjajakan dagangannya ia pun turut menjajakan ratusan buku bacaan berbagai macam genre. Bukan untuk dijual, melainkan untuk dibaca oleh setiap pembeli jajanannya. Bahkan, yang tidak membeli pun dipersilakan membaca.

Anton Wibowo, pria asli Sidareja itu sehari-hari berjualan jajanan otak-otak di area Alun-alun Kecamatan Sidareja. Selain berjiwa wirausaha, ia mengaku sangat gemar membaca. Dia membuat komunitas bernama Gembus (Gerakan Membaca Buku Sidareja). Selain untuk menghimpun orang-orang yang gemar membaca, ia juga berkeinginan menumbuhkan kesadaran membaca bagi kawula muda khususnya.

"Karena keseharian saya berdagang, saya sering melihat anak-anak sekolah sehabis belajar di sekolah terkadang waktunya habis di handphone," ungkap Anton, saat ditemui di Alun-alun Sidareja.

Anton mengatakan, di momen bulan Ramadan tepatnya sehabis salat tarawih, sembari menjajakan dagangannya, ia bersama teman-teman anggota Gembus sengaja menggelar lapak beralaskan karpet untuk memajang koleksi bukunya.

Semacam perpustakaan pada umumnya, namun yang membedakan tidak ada rak buku serta meja bagi pembaca. "Ini gratis, kita malah senang kalau ada yang mau baca," kata Anton.

Bukan hanya membaca di tempat, bahkan, Anton memperbolehkan buku koleksinya untuk dipinjam dan dibaca di rumah. Dengan syarat mengisi daftar identitas peminjam dan diberi waktu satu minggu semenjak tanggal peminjaman.

Menurutnya, budaya membaca di kalangan muda sudah sangat memprihatinkan. Budaya yang seharusnya dapat membuka wawasan itu terkalahkan oleh gadget canggih yang bahkan anak SD pun sudah sangat pintar memainkannya.

"Maka dari itu, saya dan teman-teman punya inisiatif membuat gerakan. Ya ini, gerakan membaca," tambah Anton sembari menggoreng otak-otak dagangannya.

Saat ditanya mengenai koleksi buku, sebagian besar koleksi buku-buku tersebut dari hasil sumbangan dan sebagian memang milik pribadinya. Dia mengharapkan, ke depan orang yang peduli dan hobi membaca dapat ikut bergabung di komunitas Gembus ini. (Tulisan ini dikirim oleh Rachman, Cilacap)