Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 21 Juni 2017 | 15:11 WIB
  • Korupsi Makin Merajalela, Seorang Gubernur Terjerat Lagi

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Deni Yusup
Korupsi Makin Merajalela, Seorang Gubernur Terjerat Lagi
Photo :
  • http://www.blogpakihsati.com
Ilustrasi korupsi.

VIVA.co.id – Kehebohan terjadi lagi soal gubernur Bengkulu dan istri yang terjerat Operasi Tangkap Tangan Komisi Pemberantasan Korupsi. Menjadi mencengangkan, karena ini dilakukan dalam bulan suci Ramadan, di mana semua umat Muslim menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk.

Sebagaimana kita tahu bahwa makna berpuasa salah satunya untuk bisa mengendalikan diri, selain untuk meningkatkan kualitas keimanan seseorang. Seharusnya dalam bulan puasa ini, umat Muslim bisa mengendalikan diri. Minimal bisa menahan hawa nafsunya, untuk tidak melakukan hal yang membatalkan makna-makna puasa.

Korupsi seakan menjadi hal yang lumrah terjadi di kalangan pejabat dan lingkarannya. Tidak mengenal waktu dan tidak mengenal jumlah uang, kapan pun bisa terjadi. Seakan korupsi telah menjadi kebiasaan yang dilakukan kalangan elite untuk memperdagangkan kekuasaan dalam melaksanakan programnya.

Biasanya, orang yang melakukan perbuatan korupsi mengetahui kalau perbuatannya itu salah. Tapi cenderung mengabaikan, karena ada dorongan pragmatis semata yang ada dalam pikirannya. Banyak faktor yang menyebabkan para pejabat melakukan tindakan yang merusak tatanan moralitas. Faktor yang paling dominan yang menyebabkan orang, atau pejabat melakukan korupsi di antaranya adalah karena punya kesempatan.

Faktor lainnya, karena ia tidak bisa mengendalikan diri dalam melihat situasi yang memungkinkan melakukan korupsi. Tidak memiliki prinsip hidup yang kuat yang menggabungkan nilai ilahiah dengan nilai duniawi. Berpikir dengan tidak menggunakan akal sehat, karena yang ada dalam pikiran orang yang melakukan korupsi adalah pragmatis dan cenderung menginginkan sesuatu yang instan. Mereka memilih mendapatkan uang dengan cara mudah karena memiliki kekuasaan, dan tidak peduli sekitar yang dirugikan dengan perbuatannya.

Bulan Ramadan seakan tidak bisa membuat mereka untuk menahan hawa nafsunya. Sebaliknya, malah menjadi dorongan bagi para pejabat untuk melakukan korupsi. Ini menandakan adanya krisis moral yang melanda sebagian pejabat negara kita, yang masih berpikir bias menggunakan kesempatan sebagai pemegang kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan sesaat. Mereka tidak peduli walaupun yang dirugikan adalah masyarakat.

Padahal di sisi lain, masyarakat sudah memberikan amanah suci kepada mereka sebagai pemimpin. Tetapi, apa mau di kata, sebagian pejabat kita banyak yang terseret kasus korupsi. Mereka tidak bisa menjaga integritasnya selaku pejabat negara untuk menjadi pemimpin sekaligus pelayan masyarakat.

Ini menjadi realita yang tidak bisa dipungkiri oleh kita semua, bahwa sebagian pejabat kita memang masih memiliki krisis moral. Sehingga, mereka menjadikan perbuatan korupsi itu biasa saja, dan menumbuhkan korupsi sampai ke jantung pertahanan terdekat, yaitu keluarga. Karena banyaknya kasus yang bukan hanya menjerat sang pejabat, tetapi juga keluarganya.

Hal ini, tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi bangsa ini. Karena kebiasaan korupsi telah menusuk jantung kehidupan paling dasar, yaitu keluarga. Ini menandakan kita harus betul-betul melakukan introspeksi. Karena, keluarga adalah jantung untuk mewujudkan manusia yang berkualitas.

Tatkala keluarga tidak lagi dapat menciptakan kebiasaan yang baik, bagaimana mau mewujudkan dan menciptakan kualitas manusia yang baik? Karena itu, mari kita melakukan introspeksi diri, agar korupsi ini bisa keluar dari kebiasaan yang dilakukan di lingkungan keluarga.

Momentum puasa ini harus dijadikan latihan diri untuk mencoba keluar dari kebiasaan korupsi. Karena korupsi bisa terjadi pada siapa saja yang memiliki jabatan dan kesempatan. Yang terpenting saat ini adalah menciptakan kualitas manusia yang utuh, yang memiliki moralitas yang kuat, tidak melakukan tindakan sesat yang menguntungkan sesaat dan merusak moralitas bangsa.

Kejadian OTT yang banyak dilakukan oleh KPK di bulan puasa ini menjadi hal yang positif untuk ke depannya. Menekan kebiasaan korupsi dengan menjadikan contoh bahwa begitu orang melakukan korupsi maka penegak hukum akan selalu siap untuk melakukan penindakan.

Semoga dengan adanya kejadian OTT ini dapat menekan budaya korupsi. Walaupun kita menyadari bahwa sesuatu yang telah menjadi kebiasaan akan sulit dihilangkan dalam waktu singkat. Tetapi, KPK dan penegak hukum lainnya memiliki komitmen untuk menekan budaya korupsi dan menyelamatkan uang negara dengan terus melakukan pemberantasan korupsi.

Adanya polemik KPK dengan DPR terkait kasus angket KPK oleh DPR, semoga itu menjadikan momentum untuk memperkuat kelembagaan KPK, dan bukan didasari oleh kepentingan untuk melemahkan KPK. Karena, KPK adalah bagian untuk menghilangkan kebiasaan korupsi yang tentu keberadaannya diperlukan oleh bangsa ini. Polemik ini harus secepatnya diselesaikan dan bangsa ini harus terus konsisten dan fokus menekan korupsi agar tidak merajalela.

Indonesia akan semakin maju tatkala budaya korupsi dapat ditekan. Melakukan penguatan mental melalui revolusi mental itu sangat penting. Semoga komitmen semua pejabat dalam pemberantasan korupsi tidak sebatas pencitraan semata. Tapi memang, didasari oleh kesadaran untuk membangun bangsa yang bebas korupsi dan fokus bagaimana membuat masyarakat sejahtera.

Memang tantangan negara kita semakin berat, dilema bangsa ini menjadi kompleks tatkala banyak pejabat yang terjerat korupsi padahal masyarakatnya belum sejahtera. Kontradiksi antara kenyataan dan realita. Semoga ke depan bangsa ini semakin bebas korupsi, sehingga masyarakat sejahtera dan bisa mendapatkan kesempatan hidup yang layak karena pemimpinnya melakukan kerja nyata untuk masyarakat. Ini menjadi harapan semua. (Tulisan ini dikirim oleh Deni Yusup, M.Si, Peneliti Nusantara Riset dan Pengurus Pusat Masika ICMI)