Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 22 Juni 2017 | 14:22 WIB
  • Kesedihanku di Balik Perginya Bulan Ramadan

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Ridho Adha Arie
Kesedihanku di Balik Perginya Bulan Ramadan
Photo :
  • VIVAnews/Muhamad Solihin
Shalat Idul Fitri.

VIVA.co.id – Lebaran akan segera tiba dan Ramadan akan segera berakhir. Betapa sedihnya para umat Islam ketika bulan Ramadan pergi. Karena bulan Ramadan adalah waktu yang tepat untuk bisa berkumpul bersama keluarga. Tidak heran kenapa bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah.

Ketika bulan Ramadan pergi, tidak ada lagi sahur dan berbuka bersama. Berkumpul bersama pun juga tidak ada lagi. Paling-paling hanya di waktu tertentu saja bisa berkumpul dengan keluarga. Karena sebagian orang sudah memiliki pekerjaan dan rutinitas masing-masing.

Tidak ada bedanya denganku. Saat ini aku masih bisa berkumpul dengan sahabat-sahabatku yang kebetulan sedang pulang ke Pekanbaru karena libur kuliah. Maklum, mereka kuliah di luar kota. Ada yang di Medan, ada juga yang di Solo. Kedua sahabatku hanya punya waktu tiga minggu, karena setelah Lebaran mereka akan kembali ke rutinitas mereka masing-masing. Sedih? Jelas iya. Namun kami harus sama-sama berjuang agar suatu saat bisa menikmati kebersamaan jika sudah sukses dengan usaha kami sendiri.

Mungkin berkumpul dengan keluarga adalah hal yang paling diutamakan oleh banyak orang. Tapi tidak denganku. Keluargaku masih sering berkumpul di hari-hari tertentu selain Lebaran. Jadi sedihnya hanya pada kedua sahabatku tersebut, Anul dan Imam.

Ketika bulan Ramadan pergi, banyak orang yang bersedih. Tapi kesedihan tersebut akan hilang setelah datangnya hari kemenangan, yaitu Hari Raya Idul Fitri. Di hari raya nanti, para tetangga akan datang untuk bersilaturahmi dan keluarga yang jauh pun akan datang. Hingga kesedihan yang baru saja dialami ketika bulan Ramadan pergi akan tergantikan dengan kebahagiaan.

Biasanya, saat bulan Ramadan pergi, umat Islam selalu berdoa dan berharap agar bisa bertemu lagi dengan bulan Ramadan di tahun yang akan datang. Aku pun juga begitu. Aku ingin bertemu lagi dengan bulan Ramadan tahun depan dan berkumpul lagi dengan kedua sahabatku, yang memiliki rutinitas sebagai mahasiswa. Berbeda denganku yang tidak kuliah dan belum mendapat pekerjaan tetap.

Tapi sekarang, aku sudah berubah. Dengan rutinitasku yang disibukkan dengan menulis cerita dan berjuang untuk menjadi seorang penulis terkenal, aku jadi tidak begitu sedih. Aku hanya berharap semoga saja Ramadan tahun depan, aku, keluarga, dan kedua sahabatku selalu diberikan yang terbaik. (Tulisan ini dikirim oleh Ridho Adha Arie, Pekanbaru)