Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 4 Juli 2017 | 12:00 WIB
  • Pernak-pernik Hari Raya Idul Fitri

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • jusriadi05
Pernak-pernik Hari Raya Idul Fitri
Photo :
  • U-Report
ketupat lebaran hari raya

VIVA.co.id – Pasca hari raya, semua orang berbondong-bondong berkunjung ke berbagai sanak saudara. Saling maaf-memaafkan, mengingat berbagai dosa dan kesalahan yang telah berlalu. Idul Fitri memang momentum untuk saling bersilaturahmi. Baik itu bertemu dengan keluarga, teman, sahabat maupun teman tapi mesra alias pacar.

Dalam literasi Islam, Idul Fitri adalah kembali suci. Ibarat bayi yang baru dilahirkan, belum tahu apa-apa, dan masih suci. Artinya, merajut kembali kehidupan baru. Budaya Hari Raya Idul Fitri yang sepertinya tidak akan terkikis oleh waktu adalah budaya balas dendam. Setelah selama kurang lebih satu bulan berpuasa, sekarang saatnya makan aneka makanan sebanyak-banyaknya. Salah satu makanan yang kebanyakan masyarakat sajikan yaitu ketupat.

Saya sendiri terkadang heran dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa bisa ya setiap momentum Hari Raya Idul Fitri ketupat selalu menjadi menu utama yang tersaji di meja makan. Bahkan tidak pernah ketinggalan. Kalau tidak ada hidangan ketupat, rasanya momentum hari raya itu hambar. Ibarat sayur tanpa garam.

Boleh jadi, simbol ketupat yang punya sudut empat mencerminkan bunyi Pancasila yang menjadi landasan di negara kita. Sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa. Bunyi sila pertama selaras dengan merayakan Hari Raya Idul Fitri, dan itu diaplikasikan dengan salat Id sebanyak dua rakaat.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Itu pun sudah kita penuhi dengan membayar zakat fitrah sebelum hari H. Dengan membayar zakat fitrah menjadi salah satu bentuk prikemanusiaan yang dilakukan kepada orang-orang yang kurang mampu tentunya.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Simbol persatuan itu juga bisa kita temui di Hari Raya Idul Fitri. Dengan satu kali seruan Allahu Akbar, orang-orang yang tidak hanya dari Indonesia, bahkan dari belahan dunia manapun, baik itu beda dari segi etnis, ras, budaya dan sosial selagi masih beragama Islam, maka persatuan itu bisa diwujudkan lewat momentum hari raya.

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Sila keempat kita juga sudah berusaha untuk mewujudkannya lewat hari raya. Dengan cara apa? Dengan cara bersilaturahmi ke sanak saudara, teman, sahabat, bahkan pacar. Saling maaf memaafkan salah satu bentuk bahwa kita adalah warga yang merakyat tanpa pandang bulu.

Kalau kita melihat anak muda sibuk menulis status di media sosial, entah itu Facebook, Twitter, BBM, Line, dan semacamnya usai hari raya dengan tulisan, "Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin" beserta gambar yang lucu untuk memberi ucapan kepada siapa saja adalah bentuk komunikasi yang merakyat. Kenapa? Karena yang menyaksikan bukan hanya satu orang, melainkan banyak orang.

Jadi tidak usah heran dengan tingkah laku anak muda sekarang. Karena mereka menginginkan informasi yang lebih dinamis, interaktif, dan ingin tahu lebih banyak dari yang disediakan media konvensional seperti televisi, radio, majalah maupun koran. Dan memang pola komunikasi generasi ini yang terbilang merakyat memang sedikit unik. Yaitu menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.

Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sepertinya untuk menciptakan yang namanya keadilan sosial memang tak semudah apa yang dikatakan. Akan tetapi, momentum hari Lebaran yang dirayakan tepat di hari Minggu, 25 Juni 2017 adalah salah satu bentuk keadilan sosial. Karena momentum hari raya tidak hanya dirasakan oleh umat Islam, akan tetapi bisa dirasakan oleh agama lain seperti umat Kriastiani yang juga beribadah di hari Minggu. Itu membuktikan bahwa keadilan sosial tercermin lewat momentum hari raya. (Tulisan ini dikirim oleh Jusriadi, Gowa, Sulawesi Selatan)