Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 4 Juli 2017 | 16:56 WIB
  • Kebersamaan yang Hanya Sesaat

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Ridho Adha Arie
Kebersamaan yang Hanya Sesaat
Photo :
  • REUTERS/Henry Romero
Ilustrasi Makan di Hari Lebaran

VIVA.co.id – Puasa selama sebulan penuh sudah kita lalui. Hingga akhirnya kita bisa merayakan Hari Raya Idul Fitri atau yang biasa kita sebut dengan Lebaran. Di hari Lebaran, kita bisa menikmati opor ayam, ketupat, lontong, dan juga rendang. Keluarga yang jauh datang berkunjung untuk meramaikan suasana Lebaran. Para tetangga datang ke rumah, dengan maksud untuk bersilaturahmi.

Di Lebaran tahun ini, aku bisa kembali melihat keluarga yang jauh datang dan menginap di rumah. Untungnya kamar di rumah kakekku masih ada yang kosong. Karena memang di rumah kakek hanya ada dua saudara ibuku yang tinggal. Walaupun saudara ibuku sudah menikah, tapi mereka tinggal di rumah kakek karena kakek sering sakit-sakitan dan membutuhkan bantuan.

Lebaran kali ini, saudara ibuku yang lainnya ikut meramaikan rumah. Mereka menginap untuk waktu yang cukup lama. Dengan adanya saudara ibuku, suasana rumah menjadi lebih ramai. Belum lagi anak-anak mereka yang suka mondar-mandir, bermain ke sana ke mari, dan tertawa atau menangis. Walaupun aku sedikit terganggu karenanya.

Aku yang merupakan tipe orang yang penyendiri, tidak bisa bergaul dan selalu menyembunyikan masalahku hingga orang lain tidak tahu, sangat tidak nyaman dengan suasana yang mengganggu. Apalagi kalau ribut dan sedikit agak riuh. Terkadang sepupuku menangis, tertawa dan mondar-mandir masuk ke dalam kamar. Aku yang disibukkan dengan rutinitas menulis jadi terganggu. Aku memang diam dan tidak mau marah kepada mereka, karena menurutku marah sama sekali tidak ada artinya.

Aku sadar ternyata aku salah karena merasa terganggu. Harusnya aku senang karena ternyata aku ada teman, walaupun hanya anak kecil. Sudah beberapa hari ini aku merasakan kebersamaan. Makan ketupat, lontong, opor dan daging. Tapi, sekarang aku mulai merasakan kesepian. Setelah satu per satu anggota keluarga yang menginap di rumah kakek mulai pergi dan kembali ke kampung mereka masing-masing.

Awalnya aku ingin merasakan kedamaian, ketenteraman dan suasana sunyi. Tapi sekarang aku malah jadi menyesal dan tidak menginginkan itu lagi. Memang aku sudah bisa kembali ke rutinitasku yang biasanya, yaitu menulis. Tapi aku merasa bodoh karena sudah sedikit menyia-nyiakan kebersamaan di Hari Raya Idul Fitri kemarin.

Setelah aku merasakan kesepian, aku pun mendapatkan sebuah pelajaran. Pelajaran yang juga bisa diambil oleh banyak orang. Aku sadar kalau kebersamaan di Hari Raya Idul Fitri hanyalah sementara. Sama seperti kita hidup di dunia ini, hanya sementara. Aku ingin merasakan kebersamaan itu lagi.

Aku ingin tulisanku dikritik oleh saudara ibuku, hingga aku bisa kembali termotivasi untuk terus menulis. Aku ingin merasakan makan ketupat, lontong, opor dan rendang bersama-sama lagi. Rasanya, aku tidak ingin menyia-nyiakan kebersamaan itu. Semoga tahun depan aku masih bisa kembali dipertemukan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. (Tulisan ini dikirim oleh Ridho Adha Arie, Pekanbaru)