Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 11 Juli 2017 | 12:43 WIB
  • Popoy, Si Kucing Kampung Kesayangan

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Ridho Adha Arie
Popoy, Si Kucing Kampung Kesayangan
Photo :
Aku dan Popoy, kucing kesayanganku.

VIVA.co.id – Kucing adalah hewan yang sangat disayang oleh nabi. Menurutku memang benar. Walaupun ada beberapa orang yang alergi dengan kucing, apalagi bulunya. Seperti Kak Ros di kartun Upin dan Ipin.

Orang yang alergi kucing, bisa langsung bersin-bersin bila berdekatan dengannya. Tapi aku belum pernah melihat orang yang alergi dengan kucing sampai bersin-bersin. Kalau yang takut dengan kucing, pernah. Bahkan karena terlalu takutnya, mereka bisa lari ke kamar mandi, lalu mengurung diri. Ada yang buang air di celana, dan bahkan ada juga yang sampai menangis karenanya. Padahal kucing hewan yang lucu dan manis.

Aku menyadarinya ketika aku mulai memelihara kucing sejak kecil. Saat itu guruku mengatakan, “Kucing itu hewan yang sangat disayang oleh nabi. Jadi, kalian jangan pernah membunuh kucing ya,” kata-kata guruku itu membuatku ingin merawat kucing.

Popoy, satu dari tiga kucing kesayanganku. Walaupun sudah banyak kucing yang pernah kurawat, tapi hanya ada tiga yang menjadi kesayanganku. Mungkin mereka yang juga suka dengan kucing pernah merasakan hal yang sama sepertiku. Popoy tidak pernah membuang kotorannya di dalam rumah ataupun dapur tempat ibuku berjualan. Popoy akan pergi ke kamar mandi jika ingin buang air.

Popoy satu dari tiga kucing kesayanganku, karena dua kucingku sebelumnya juga sama-sama penurut. Neon dan Apin juga sama seperti Popoy. Yang lebih hebatnya lagi, Neon, Apin dan Popoy, mereka sama-sama betina, namun mereka kurawat di tahun yang berbeda. Neon ketika masih SD, Apin ketika masih SMK, dan Popoy ketika masih kuliah.

Awalnya, kupikir tidak akan ada yang bisa menggantikan Neon dan Apin yang sudah lama pergi. Karena Neon dan Apin adalah kucing yang sangat penurut. Mereka tidak akan menoleh kalau dipanggil “puuss”. Tapi kalau dipanggil namanya, mereka akan menoleh dan berjalan atau berlari ke arahku. Padahal aku sedang tidak memegang makanan.

Hingga akhirnya, suatu hari adikku menemukan anak kucing. Kucing tersebut terlihat kotor, kampungan, dengan bulu yang berantakan. Adikku sempat ingin membuangnya, tapi aku melarangnya. Aku mengambil tisu, membasahinya dengan sedikit air, lalu kubersihkan bulu dan mata yang ada kotorannya. Setelah bersih, kuberikan dia sedikit ayam yang dijual ibuku. Untung saja ibuku tidak tahu, jadi dia tidak marah. Lalu aku berpesan pada adikku, “Rawat, Bob! Nanti bisa jinak dia,”.

Aku berpesan begitu karena aku akan pergi dan tinggal cukup lama di rumah kakek. Karena jarak dari rumah orang tuaku ke kampus cukup jauh. Kutinggalkan Popoy yang waktu itu belum kuberi nama pada adikku, Bobby.

Enam bulan kemudian, aku berhenti kuliah. Aku menghabiskan waktuku di rumah kakek cukup lama. Hingga akhirnya aku bosan, dan kembali ke rumah orang tuaku. Saat tiba di rumah, aku melihat seekor kucing kampung yang langsung menghampiriku ketika aku baru sampai di warung ibuku. “Bob, kucing siapa nih?” tanyaku pada adikku. “Itu Popoy, kucing yang pernah Bang Arie mandikan,” jawabnya. Aku terkejut dan langsung mengelusnya.

Hingga sekarang, Popoy masih hidup. Sudah dua tahun umurnya, tapi dia belum punya anak. Ketika ada jantan mendekat, dia lari dan menjauh. Karena terlalu sayangnya aku pada Popoy, aku bahkan memasukkannya ke dalam tulisan keduaku yang siap kukirim ke penerbit. (Tulisan ini dikirim oleh Ridho Adha Arie, Pekanbaru)