Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 13 Juli 2017 | 17:55 WIB
  • Gemerlap Cahaya Kota Bandung dari Bukit Moko

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • baroezy
Gemerlap Cahaya Kota Bandung dari Bukit Moko
Photo :
  • Topik ANTV
Pemandangan Bukit Moko di malam hari.

VIVA.co.id – Sebenarnya nama Bukit Moko sudah cukup lama saya dengar. Bahkan, jauh sebelum bukit ini menjadi hits di kalangan orang-orang yang suka hunting tempat-tempat instagramable. Tapi, untuk mengunjunginya selalu saja ada kendala. Padahal, dulu saya sempat menjadi warga Bandung selama 6 tahun. Eh, justru setelah pindah dari Bandung, saya baru bisa datang dan menikmati keindahan Bandung dari ketinggian 1500 mdpl.

Bukit Moko terletak di Desa Cimenyan, Bandung. Untuk menuju ke sana, kamu bisa melewati Jalan Padasuka yang cenderung tanjakan hingga mencapai puncak Bukit Moko. Ketika memasuki kawasan Padasuka, sebenarnya ada objek wisata yang tidak kalah menarik yang bisa kamu kunjungi, yaitu Saung Angklung Udjo. Tapi, untuk sementara abaikan yang satu itu, ya.

Malam itu, saya dan teman-teman sebenarnya ingin menikmati sejuknya Kota Bandung di Kawasan Dago Pakar. Tapi, entah kenapa ada rasa jenuh berkunjung ke sana. Mungkin sudah cukup sering mengunjungi kawasan tersebut sehingga tidak ada godaan besar untuk mengunjunginya lagi. Akhirnya, kami mencari alternatif destinasi bagus untuk dikunjungi di malam hari. Dan, muncullah ide ke Bukit Moko. Kami pun langsung tancap gas.

Kami pergi ke Bukit Moko dengan mengendarai motor matic. Saran saya, kalau mau ke Bukit Moko jangan pakai motor atau mobil matic. Karena jalanan banyak yang menanjak. Sedangkan, kendaraan matic sulit menjangkau tanjakan yang terjal jika tidak dibantu dengan adegan dorong mendorong.

Udara malam Kota Bandung lumayan dingin. Suhu di pusat kota mencapai 22 derajat. Tapi, anehnya kami tidak membekali diri dengan pakaian yang bisa menghangatkan badan. Seperti malam itu, saya hanya pakai celana pendek, kemeja flanel dan rompi. Sangat tidak layak dipakai di tempat berudara dingin. Maklum lah, kami tidak punya planning berkunjung ke Bukit Moko. Tapi, karena cuma itu yang ada, jadi terpaksa dipakai seadanya.

Sebenarnya lokasi Bukit Moko tidak terlalu jauh dari pusat Kota Bandung. Mungkin sekitar 30 menit naik motor bisa mencapainya. Melintasi kawasan tersebut, kita melewati beberapa perumahan-perumahan di sekitaran Padasuka. Jadi, kamu tidak perlu ketakutan akan sepinya kawasan tersebut. Bahkan hingga mencapai puncak bukit sekalipun, kamu masih melihat rumah-rumah penduduk. Sesekali saling bertegur sapa dengan warga setempat.

Bukit Moko sebenarnya hanyalah kawasan puncak tertinggi di Kota Bandung. Dari sana, kita bisa melihat hamparan luas Kota Bandung yang dipadati rumah-rumah dan gedung-gedung. Jika berkunjung pada siang hari, kamu hanya akan disuguhkan landscape Kota Bandung yang mirip kotak-kotak puzzle. Tapi, jika kamu datang pada sore menjelang malam hari, sensasinya bisa sangat berbeda.

Kamu bisa melihat taburan cahaya lampu yang begitu luar biasa, ditambah cahaya matahari di langit yang perlahan-lahan akan tenggelam. Indah sekali. Oleh karena itu, momen terbaik berkunjung ke Bukit Moko adalah di saat senja atau malam hari. Karena cahaya lampu-lampu terlihat dengan jelas menyinari Kota Bandung.

Ada juga yang bilang, best moment adalah subuh hari menjelang matahari terbit. Karena Kota Bandung masih ditutupi kabut tebal ditambah taburan cahaya lampu yang masih menyala dan dibantu dengan cahaya matahari yang masih malu-malu menampakkan sinarnya. Sensasi yang berbeda lagi, bukan?

Hanya saja, saya belum merasakan sensasinya di subuh hari. Maklumlah, selain mata masih mengantuk, saya juga tidak tahan udara yang sangat dingin jika nekat datang di subuh hari. Mungkin kamu bisa mencobanya.

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, sekitar 30 menit lebih, saya dan teman-teman akhirnya tiba di puncak Bukit Moko pada pukul 22.00 WIB. Udara semakin dingin. Suhu mencapai 18 derajat. Konon katanya, semakin larut maka suhu udara angkanya akan semakin mengecil alias semakin dingin.

Motor kami parkir di depan Warung Daweung. Satu-satunya warung yang ada di puncak Bukit Moko. Dan kita harus masuk melalui warung tersebut untuk melihat landscape keindahan Kota Bandung. Saat masuk akan dikenakan biaya retribusi sebesar Rp.25 ribu. Dan kita sudah mendapat makanan dan minuman sesuai selera. Malam itu, kami meminta wedang, teh panas, pisang goreng keju, mie goreng, dan sebagainya. Worth it lah untuk biaya segitu.

Warung Daweung adalah sebuah warung yang namanya diambil dari bahasa Sunda yang punya arti warung melamum. Kenapa dinamakan warung melamun? Mungkin dulunya banyak penduduk setempat sering datang ke situ hanya sekadar untuk duduk-duduk dan melamun. Oleh karena itu, sebutan daweung atau melamun begitu melekat. Sehingga dijadikanlah warung tersebut Warung Daweung. Kalau dipikir-pikir, lokasinya memang sangat asyik untuk melamun sih. Asal jangan datang ke situ saat patah hati. Nanti malah berbuat nekat.

Buat kamu yang ingin mengunjungi Bukit Moko, berikut tips yang mungkin akan bermanfaat. Untuk mendapat best moment, sebaiknya datang sebelum matahari terbenam. Tapi, malam hari dan subuh hari juga menjadi rekomendasi untuk mendapatkan momen terbaik.

Pakai kendaraan yang layak. Sebaiknya hindari motor matic karena jalanan yang menanjak dan masih banyak jalan yang rusak alias bebatuan. Tanjakan membuat motor matic sulit mendakinya. Jika memakai mobil juga harus yang bergarda tinggi. Hindari memakai mobil sedan atau ban ceper. Karena kasihan mobilnya akan berbenturan dengan bebatuan di sepanjang perjalanan.

Bawa jaket, kupluk, baju hangat atau pakaian yang bisa menangkal dingin. Datang beramai-ramai jauh lebih seru ketimbang sendirian. Dan ingat, jangan membuang sampah sembarangan ya. Tetap jagalah kebersihan. (Tulisan ini dikirim oleh Very Barus)