Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 25 Juli 2017 | 11:22 WIB
  • Mereka yang Mengejek adalah Mereka yang Iri

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Ridho Adha Arie
Mereka yang Mengejek adalah Mereka yang Iri
Photo :
  • Pixabay/ wokandapix
Ilustrasi korban bullying.

VIVA.co.id – Anak-anak seumuranku dulu sering mengejekku. Kalau di sekolah, aku sering diejek karena keluguan dan kebodohanku. Sebenarnya aku tidak bodoh-bodoh banget, aku hanya malas dan tidak bisa berbaur.

Di sekolah dulu, aku memiliki satu orang teman laki-laki dan dua orang teman perempuan. Tapi, hingga sekarang sosok mereka sudah jarang kutemui. Mereka sudah sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Sedang dengan anak yang ada di lingkungan tempat tinggalku, aku sering diejek “boyband” dan “Kim Jong Un”. Awalnya, aku tidak mengerti kenapa aku diejek seperti itu oleh mereka. Mereka yang dulunya adalah teman mainku, aku jauhi. Begitu juga dengan mereka, ikut menjauhiku. Malah, mereka yang menjauhiku lebih dulu.

Hingga suatu hari, pernah aku bertekad untuk membuat mereka menyesal karena telah mengejek dan menjauhiku. Suatu hari aku sedang bekerja, yaitu menulis cerita. Karena suasana hatiku mendadak jadi tidak enak, aku putuskan untuk mencari hiburan. Lalu tanpa sengaja, aku bertemu dengan salah satu dari mereka di sebuah pusat perbelanjaan. Karena aku masih punya hati, aku panggil dan aku ajak dia mengobrol.

Niatku untuk mengajak mengobrol sebenarnya hanya karena ingin berteman lagi bersama mereka. Namun, di tengah-tengah obrolan, iseng-iseng aku bertanya padanya, “Ngapa kalian ejek aku ‘boyband’ dan ‘Kim Jong Un’ ? Emangnya aku ada salah sama kalian?” tanyaku. Niat isengku ternyata dibalas dengan tawaan, lalu penyesalan darinya setelah itu.

Setelah mendengar penjelasannya, aku langsung tertawa. Ternyata mereka mengejekku, karena mereka iri denganku. Mereka menjauhiku juga karena mereka merasa aku sudah tidak sejalan lagi dengan mereka. Mereka berpikir apa yang aku suka sudah tidak sama seperti yang mereka suka. Mereka juga iri karena penampilanku yang sudah menjadi seperti anak baik-baik.

Mereka mengejekku dengan sebutan ‘boyband’ karena mereka melihat penampilanku yang sudah tidak sebodoh dulu ketika masih sering dipotong botak. Mereka pikir aku berusaha untuk mengubah penampilanku agar tidak terlihat bodoh. Padahal kalau dipikir-pikir, aku tidak memiliki niat untuk mengubah penampilanku. Itu semua terjadi hanya karena waktu yang semakin berlalu dan tahun yang terus berganti.

Tapi sayang, aku tidak bisa sering berkumpul bersama mereka lagi. Aku sudah terlanjur menjadi seorang introvert dan penyendiri. Aku yang sudah terbiasa sendiri, tidak bisa mengubah kebiasaanku tersebut.

Dari kejadian yang aku alami dulu, aku mendapatkan sebuah pelajaran. Ternyata, mereka yang mengejekku adalah mereka yang iri padaku. Dan dengan cerita ini, aku ingin mereka yang sering diejek, bisa menahan amarah dan tetap sabar dalam menerima ejekan dari orang lain.

Anggap saja mereka malu untuk mengungkapkan dan mengakui kalau mereka itu sebenarnya suka dan iri. Yang penting, ejekan dari orang tersebut jangan dimasukkan ke dalam hati. Tetap tenang dan stay cool saja. Diejek juga tidak mati kok. (Tulisan ini dikirim oleh Ridho Adha Arie, Pekanbaru)