Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 26 Juli 2017 | 11:06 WIB
  • Bantuan Biaya Hidup untuk Sang Penggembala Sapi

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Enuy Nuryati
Bantuan Biaya Hidup untuk Sang Penggembala Sapi
Photo :
Bantuan untuk ibu penggembala sapi.

VIVA.co.id – “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Q.S Ar-Ruum; 54)

Menjadi kehendak Allah bahwa kelak ada yang ditakdirkan manusia menjadi lemah kembali dan beruban yang kita definisikan dengan kata tua. Dan, setiap manusia senantiasa memimpikan masa tua yang bahagia. Namun tak sedikit dari kita justru mengalami nasib yang sebaliknya, yakni masa tua yang sengsara. Seperti yang dialami Inaq Minoq (59) dan Her (58) yang mendapatkan santunan biaya hidup dari Rumah Yatim NTB.

Di masa tuanya, Minoq hanya hidup dengan satu anaknya yang tak begitu membantu dirinya. Sedangkan, Her hidup dengan istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Pekerjaan sehari-harinya menggembala sapi milik orang lain dan mencari rumput di sekitar tempat tinggalnya di Dusun Mertamas, Desa Kedaro, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, NTB. Di masa tuanya, mereka harus banting tulang untuk mencari sesuap nasi dari pagi hingga petang hari.

Mirisnya, kehidupan mereka tak berhenti sampai di situ. Di masa tua, mereka tak memiliki tempat tinggal. Her terpaksa tinggal di kandang sapi gembalaannya. Hanya atap kandang yang melindunginya dari panas dan hujan. Namun sekeliling kandang itu tak sedikitpun dilindungi dinding.

Untuk melindungi tubuhnya yang renta dan istri serta anaknya yang masih SD, dia melingkupi kandang itu dengan kain samping. Namun, tetap saja tidak dapat melawan dinginnya malam pegunungan Sekotong. Tak ada kasur untuk merebahkan badannya yang lelah dan lemah. Dia hanya mengandalkan tikar sebagai alas tidurnya.

Sedangkan Minoq, jauh lebih baik. Setidaknya dia tinggal di gubuk, walau hanya berukuran 2x3 meter. Tak ada yang bisa membantu mereka di masa tuanya selain dirinya sendiri. Tetangga di sekitar pun tak mampu menolongnya, karena kondisi mereka pun tak jauh beda yang hanya buruh penggembala dan buruh tani saja.

Maka, kedatangan Rumah Yatim ke tempatnya memberikan kebahagiaan tersendiri. Apalagi, bagi Minoq yang tak berhenti menangis dan terus mengucapkan terima kasih. Karena, ternyata masih ada yang peduli terhadap dirinya yang papa. (Tulisan ini dikirim oleh Enuy Nuryati)