Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 27 Juli 2017 | 10:52 WIB
  • Nenek Rami, Pengidap Kanker Payudara Hidup Seorang Diri

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta Guslia
Nenek Rami, Pengidap Kanker Payudara Hidup Seorang Diri
Photo :
Nenek Rami saat menerima bantuan.

VIVA.co.id – “Bagi kita mungkin itu sampah, tapi baginya itu adalah uang,” ungkap Salma Hasanah, Ibu Asrama Rumah Yatim NTB. Dia menggambarkan kumpulan-kumpulan rongsokan yang mengisi rumah Rami, seorang nenek penderita kanker payudara, saat berkunjung untuk memberikan santunan sembako.

Rumah yang sempat dibedah oleh pemerintah ini hanya berukuran 3x4 meter. Terletak di Jl. Kirab Remaja, Desa Nyurlembang Daye, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Sesaknya rumah bukan dipenuhi oleh barang-barang berharga, namun botol-botol dan gelas plastik bekas yang dibungkus kresek menumpuk di seluruh bagian rumah.

Sejak dia mengidap kanker, pekerjaannya sebagai petani sekaligus tukang pemanggul kayu dari gunung ditinggalkan. Dan kini, ia hanya menjadi pemungut rongsokan. Karena harga rongsokan hanya Rp2.000 per kilogram, maka untuk bisa memenuhi perut kecilnya, dia harus mengumpulkannya terlebih dulu hingga berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan. Untung masih banyak tetangga yang peduli kepadanya dan memberikan rongsokan untuk memenuhi targetnya membeli beras.

Di tengah rasa sakit yang semakin menggerogotinya, Rami terus berjuang sendiri. Karena tak ada seorang pun yang dapat menemaninya di masa tua. Dia tidak pernah menikah hingga usia senjanya. Dia hanya memiliki satu saudara yang nasibnya tak berbeda jauh darinya.

Meski dua tahun lalu dia mendapatkan bantuan operasi kanker payudara, namun hingga kini rasa sakit masih dirasakan. Bahkan payudaranya masih terlihat basah oleh nanah, karena kurang perawatan. Akunya kepada Salma, sejak dioperasi, dia tidak pernah kontrol ke dokter. Maka, tak heran bekas operasi itu masih terlihat basah.

Rami, sosok yang tegar dan kuat. Ujian yang menerpa dirinya, tak lantas membuatnya berpangku tangan, meminta-meminta, dan menggantungkan hidup pada belas kasih orang. Hal tersebut yang membuat Salma mengaggumi dirinya, dan ingin membantu. Salma pun mengajak kepada masyarakat yang peduli untuk memberikan bantuan untuk Rami terutama untuk biaya pengobatannya. Karena Salma melihat kondisi Rami harus mendapatkan penanganan cepat dari dokter.

“Salut kepadanya yang masih bekerja meski dalam kondisi sakit. Saya mengajak kepada masyarakat untuk meringankan sedikit beban hidup Inaq Rami, terutama untuk pengobatan dirinya yang tidak dia perhatikan karena ketidak mampuannya,” imbau Salma. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)