Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 28 Juli 2017 | 11:56 WIB
  • Mari Merajut Kota Masa Depan

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • jusriadi05
Mari Merajut Kota Masa Depan
Photo :
  • REUTERS/Beawiharta
Ilustrasi Kota Jakarta.

VIVA.co.id – Pernahkah kita menyimak sepintas kisah perjalanan Gulliver? Dalam salah satu kisahnya, Gulliver dipertemukan dengan negeri liliput. Di negeri tersebut, perbedaan Gulliver dan rakyat negeri liliput terlihat sangat nyata. Gulliver besar mengangkasa, sementara penduduk negeri tersebut mini menjengkal bumi.

Tentu saja, dalam dunia nyata, kita tidak akan pernah menemukan dunia Gulliver. Tetapi dalam konteks ketimpangan bisa saja kota-kota di masa depan akan bergerak tak ubahnya seperti dunia khayalan. Dimana yang miskin dan kaya bisa terlihat begitu nyata. Dunia Gulliver bisa saja terjadi di kota-kota masa depan jika fragmentasi kebijakan menjadi tegas berpihak kepada yang berpunya. Tentu ini adalah situasi yang tidak ideal.

Kota masa depan dimodel dengan perencanaan yang matang dan adil. Tidak memihak, tetapi melebur dengan kebutuhan masyarakat kebanyakan. Jika merujuk pada data dari World Urbanization Prospects, saat ini 54 persen dari populasi dunia berada di kota. Dan diproyeksikan pada tahun 2050 nanti, proporsinya akan meningkat 70 persen.

Secara khusus, pertumbuhan populasi kota terbesar 90 persen bersumber dari negara-negara di Asia dan Afrika. Sekarang ini, 70 persen dari total PDB dunia berasal dari kota, dan angkanya terus naik hingga 90 persen di tahun 2050. Dengan demikian, pengelolaan kota secara bijak akan membentuk masa depan dunia.

Lalu, bagaimana potret Indonesia ke depan? Apakah dalam keadaan baik-baik saja atau justru menjelma menjadi dunia Gulliver? Pada tahun 2016, World Economic Forum yang bertempat di Davos sudah menggemakan gong revolusi industri ke empat. Adalah revolusi dimana perkembangan teknologi digital menjadi jenderalnya. Sehingga kota di masa depan mesti tidak akan lepas dari perkembangan dan disrupsi digital.

Sebelum jauh mengkhayalkan bagaimana ke depan, ayo kita bercermin ke sejarah. Pada tahun 1933, Piagam Athena sejatinya telah memberikan petunjuk bagaimana membentuk kota yang ideal. Dalam piagam itu kita melihat bahwa kota harus memiliki lahan hijau, memiliki tempat untuk melakukan aktivitas kreasi dan kebudayaan, membuat jalur-jalur pejalan kaki yang nyaman dengan jalur transportasi yang membentang lancar. Menariknya, prinsip-prinsip ini tak akan lekang oleh zaman.

Masih sangat relevan, namun tentu dengan tantangan membentang lebar. Dalam buku 8 Mighty Megatrends-nya Ander Lindgren, beberapa tantangan tersebut berupa ledakan populasi, urbanisasi yang masif, konsumsi yang tak terkendali, pertumbuhan teknologi yang semakin liar, transformasi digital, konektivitas yang meningkat, degradasi lingkungan, serta pendapatan yang semakin timpang.

Tantangan-tantangan tersebut, jika tidak dijinakkan hanya akan berujung pada dua kemungkinan, dunia Gulliver atau dunia Skynet. Sebelumnya, sudah dijelaskan secara singkat apa itu dunia Gulliver. Tetapi bagaimana dengan Skynet? Saya tidak akan menjelaskannya panjang lebar. Karena bagi Anda yang belum tahu dan penasaran, bisa menonton trilogi film Terminator. Intinya, di masa depan mungkin saja fungsi kemanusiaan akan digantikan dengan mesin. Atau dengan istilah lain, padat modal.

Dengan disrupsi digital yang sudah semakin mengemuka, bagaimana jadinya Indonesia? Bagaimana jadinya kota-kota di masa depan? Bagaimana nasib pekerja kita nantinya? Apakah mesin akan menggantikan mereka? Meski terjadi perluasan ekonomi dan kerja, kondisi lapangan kerja yang informal, yang kerapk ali dikenal sebagai pekerjaan dengan produktivitas dan pendapatan yang rendah serta kegiatan kerja bagi kaum muda (usia 15-24 tahun) pun masih belum berkembang.

Dari data yang ada, memang pengangguran di Indonesia telah mencapai angka yang cukup baik (5,81 persen dan 5,5 persen di tahun 2015 dan 2016). Tetapi jika kita melirik kontribusi pekerja keluarga yang tidak dibayar, data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki jumlah pekerja keluarga yang cukup signifikan yaitu 17 persen dari total pekerja. Dibanding dengan Jerman yaitu 0,6 persen dari total pekerja atau bahkan negara tetangga seperti Singapura yang 0,6 persen dari total pekerja Malaysia dengan 4,4 persen dari total pekerja, dan Filipina dengan 12 persen dari total pekerja.

Hal ini menunjukkan, bahwa masih cukup banyak pekerja di Indonesia yang belum dibayar secara layak. Apa alasannya? saya kira jawabannya cukup jelas, keterbatasan skill. Di Jerman, Federal Employment Agency memiliki anggaran yang besar sehingga bisa didukung oleh 133 ribu orang dibandingkan dengan 1.206 orang yang mendukung Employmnet Service dan Creation Dirjen Bina Penta. Angka ini bahkan lebih buruk ketimbang era sebelum otonomi daerah yang sebesar 2.033 orang.

Selain skill mismatch, perusahaan tampak masih enggan untuk memanfaatkan jasa Employment Service. Mengingat birokrasi perintah yang masih sangat tidak efisien. Dari segi infrasruktur pun tidak kalah mengkhawatirkan. Mengingat peringkat Logistic Performance Index (LPI) Indonesia yang cukup buruk yaitu di peringkat 59 dan di wilayah ASEAN harus berada di bawah Vietnam (peringkat 53), Filipina (peringkat 52), Thailand (peringkat 38), Malaysia (peringkat 29) dan Singapura (peringkat 1).

Pembangunan kota pintar pertama di India.

Pembangunan kota pintar di India 

Kota masa depan adalah kota yang didukung oleh infrastruktur yang memadai. Angka-angka ini tentu bukan hal yang menggembirakan. Jika demikian, masih adakah harapan ke depan? Kota di masa depan dibentuk oleh orang-orangnya. Bagaimana dengan infrastruktur, skill, dan indikator-indikator lainnya? Semua itu adalah syarat cukup.

Orang-orang yang bermukim di kota tersebut adalah syarat perlu, syarat utama. Artinya kita membutuhkan kombinasi Quadruplr Helix yang terdiri dari pemerintah, swasta, universitas dan masyarakat. Disrupsi digital yang menurut Lingren merupakan salah satu tantangan dan rintangan terbesar bisa diberdayakan untuk melakukan sebuah lompatan kuantum untuk membuka kota di masa depan. Tentu dengan berfungsinya Quadruple Helix tersebut.

Terbatasnya infrastruktur fisik bisa dikejar dengan inovasi digital, Project Loon Google misalnya. Tanpa harus menunggu lama, balon google bisa ditempatkan di  wilayah-wilayah terpencil di Indonesia sehingga bisa meningkatkan keterjangkauan. Bagaimana dengan keterbatasan keterampilan pekerja-pekerja di Indonesia? Apakah nantinya akan digantikan oleh mesin? Apalagi dengan era disrupsi digital seperti sekarang. Apakah mereka masih bisa bertahan? Jawabannya, bisa!

Sebagai contoh, pengemudi Gojek. Mayoritas mereka berpendidikan SMA ke bawah, dengan beragam profesi sebelumnya yang hanya membutuhkan skill terbatas. Tetapi bisa dikata, kini mereka menjadi pekerja-pekerja yang tech-savy dan melek teknologi. Contoh lain adalah petani-petani yang diberdayakan oleh I-Grow.

Apa itu I-Grow? Anda tahu game Farmville? Singkatnya, I-Grow adalah Farmville di dunia nyata. Petani-petani yang bekerja di I-Grow kebanyakan hanya lulusan SD. Namun jka melihat keahlian mereka, tentu Anda akan merasa kagum. Petani-petani ini diajarkan membuat pupuk organik dengan metode eksperimen. Dan mereka sangat ahli melakukannya. Suatu hal yang mungkin lulusan IPB saja tidak mungkin melakukannya.

Dengan dukungan pemerintah, swasta, kampus dan komunitas, hadirnya contoh-contoh ini bisa saja ter-scale up ke level nasional. Sebuah lompatan kuantum ini bukan lagi sebuah hal yang utopis. Bagaimana dengan kota-kota di Indonesia yang mayoritas didominasi oleh informalitas? Sekali lagi intinya optimalisasi peran Quadruple Helix.

Sebuah studi yang dilakukan oleh University Of Sydney terhadap kondisi informalitas di pojok kumuh kota Bandung menunjukkan bahwa informalitas ini jika dikelola dengan baik akan mampu menghasilkan sebuah titik keseimbangan baru di masa depan. Membangun dan menyatu dengan masyarakat.

Sehingga, konsep kota masa depan nantinya adalah kota cerdas (smart city) yang mampu meningkatkan koneksi antar warga, berpusat di warga, bekerja untuk warga. Teknologi hanyalah pemanis, sedang warga adalah pusatnya. Mari kita merenung, kota-kota kita di masa depan dibuat untuk siapa? (Tulisan ini dikirim oleh Jusriadi, Gowa, Sulawesi Selatan)