Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 1 Agustus 2017 | 12:17 WIB
  • Kisah Hidup Nenek Pemungut Padi Bekas di Pandeglang

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Muhammad Burniat
Kisah Hidup Nenek Pemungut Padi Bekas di Pandeglang
Photo :
Nenek Jumarsih saat menerima bantuan.

VIVA.co.id – Hidup sehari-hari bergantung pada butir-butir padi bekas di sawah tidak membuat seorang Nenek Jumarsih mengeluh dalam menjalani hidup. Kehidupan di Desa Karyasari, Sukaresmi, Pandeglang telah menjadi saksi bisu bagaimana ia harus bertahan.

Mencari makan seorang diri dengan keadaan yang kurang baik. Penglihatannya sudah tidak normal seperti biasa. Bahkan, anak semata wayangnya pun harus menyandarkan hidup padanya, karena keadaan yang sedikit berbeda dari orang normal kebanyakan.

Setiap pagi, Nenek Jumarsih yang sudah berusia 73 tahun itu pergi dari rumah menuju sawah dengan membawa baskom atau panci. Dua benda keramat inilah yang selalu menemani dirinya mengais serpihan-serpihan padi guna mengganjal perut yang kadang menggeram.

Tak jarang, usia yang sudah renta dan lemah tersebut, membuat warga sekitar kadang menyediakan padi-padi bekas untuk Jumarsih. Berangkat dari pukul 6 pagi, dan baru tiba di rumah pada pukul 4 sore, begitu beliau menikmati hari-hari tuanya.

Saat berbincang-bincang, Nenek Jumarsih yang ditemui di kediamannya itu bercerita bahwa sejak sang suami meninggal, 6 tahun yang lalu, pekerjaan kuli pungut padi bekas ini yang menjadi pilihan akhir yang bisa dilakukan. Usia yang tak muda lagi, membuat bekerja untuk orang lain pun tak memungkinkan. Sama sekali tidak ada yang bisa dikerjakan.

Akhirnya, hidup pun bersandar pada alam. Lauk pauk pun seadaanya saja. Dari warga sekitar atau kadang tanaman-tanaman liar yang tak diketahui pemiliknya. Bahkan, Nenek Jumarsih tak pernah memegang uang sepeser pun selama ini. Beliau benar-benar mencoba menikmati segalanya dengan penuh kesyukuran.

Tepat pukul 21.25 WIB, Rumah Yatim menyambangi rumahnya. Berdinding anyaman rotan, dan masih ada sebagian lantai berlapis tanah membuat rumah tersebut begitu sederhana. Kedatangan Rumah Yatim pun disambut hangat oleh semringah wajah Nenek Jumarsih. Dialek Sunda yang begitu lembut, membuat bincang-bincang terasa begitu khidmat. Nenek Jumrsih bahkan berulang kali mengelap mata, rasa haru atas kepedulian Rumah Yatim karena telah memberikan bantuan berupa sembako dan biaya hidup untuk dirinya.

“Terima kasih banyak kepada Rumah Yatim sudah mau main ke rumah saya. Terima kasih juga sudah mau memberikan nenek bantuan sembako dan uang tunai. Saya tidak bisa membalas kebaikan ini, kecuali dengan doa supaya Rumah Yatim dan para pengurusnya sehat terus dan rezekinya lancar,” papar Nenek Jumarsih sekaligus menutup perbincangan malam itu.

Rumah Yatim sendiri selalu berusaha mencanangkan program bulanan yang diperuntukkan wilayah-wilayah terpencil. Tentu saja untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Dari kegiatan itu, tak jarang Rumah Yatim menggali berbagai informasi kehidupan para mustahik guna membangun sebuah pelajaran bagi masyarakat. Terutama kehidupan-kehidupan para saudara kita. Belajar dari nilai-nilai kehidupan, akan membuat kita pun semakin banyak bersyukur atas karunia yang telah Allah SWT berikan. (Tulisan ini dikirim oleh Muhammad Burniat)