Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 9 Agustus 2017 | 12:19 WIB
  • Belajar Ikhlas dari Kehidupan Nenek Nuryanah

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Muhammad Burniat
Belajar Ikhlas dari Kehidupan Nenek Nuryanah
Photo :
Nenek Nuryanah menerima bantuan biaya hidup.

VIVA.co.id – Mencari pundi-pundi rupiah dengan mengajar mengaji tanpa mematok bayaran ialah sesuatu yang sangat layak diberikan apreasiasi. Apreasiasi ini sudah semestinya diterima Nenek Nuryanah (67), yang masih punya niatan tulus mengajar. Meskipun harus melawan kerasnya kehidupan kota besar.

Tinggal di Kampung Kejaren, RT.08/RW.03, Jelipang, Serpong Utara, Tangerang Selatan, Banten, Nenek Nuryanah hidup bersama suami dan anak perempuannya. Menjalani hari demi hari dengan penuh kesederhanaan. Rumah petakan berstatus kontrak itu menjadi tempat mereka berteduh.

Saat sore datang, masjid adalah tempat ia menggantungkan harapan hidup. Dan saat siang, ia menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga biasa. Sementara anak dan suaminya, sejak fajar menyingsing, mereka sudah mulai bergegas bekerja hingga sore datang.

Suami Nuryanah sendiri bekerja sebagai pemulung, dan anaknya bekerja sebagai buruh rumah tangga, tukang cuci, dan setrika pakaian. Dari hasil pekerjaan mereka bertiga, keluarga ini bisa mengumpulkan uang sebesar Rp500 ribu lebih per bulan. Namun, dari jumlah rupiah tersebut, tak jarang Nenek Nuryanah masih sempat meminjam uang kepada tetangga untuk menutupi kebutuhan harian yang cukup besar.

Sebelum cucu Nuryanah masuk ke asrama Rumah Yatim, kehidupan keluarga ini sebetulnya sangat memprihatinkan. Selain uang digunakan untuk kebutuhan makan sehari-hari, juga tidak lupa untuk keperluan sekolah Nurhadi, cucu semata wayangnya. Untung saja, Syahid yang merupakan Kepala Asrama Rumah Yatim BSD menarik Nurhadi yang kini duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menengah Pertama untuk tinggal di asrama Rumah Yatim.

Meskipun penghasilan seadanya saja, keluarga kecil ini tak pernah mengeluh. Mereka pun sadar betul atas setiap rezeki yang diberikan tetap harus disyukuri. Besar dan kecil bukan bicara cukup dan tak cukup, melainkan bagaimana kita bisa bertahan dan bersyukur. Mereka juga tidak berhenti mengucapkan terima kasih kepada Rumah Yatim atas kepedulian terhadap keluarganya, salah satunya Nurhadi yang kini sudah bisa sekolah dengan baik.

“Kami sudah tidak bisa berbicara apa-apa kepada Rumah Yatim. Saya yang sudah tua seperti ini masih diperhatikan oleh Rumah Yatim. Cucu saya juga sudah bisa sekolah dan tinggal di asrama. Kami hanya bisa mendoakan supaya Rumah Yatim terus berkembang dan membantu banyak orang. Semua pengurusnya semoga selalu Allah SWT limpahkan kesehatan,” ujar Nuryanah saat didatangi oleh Rumah Yatim sekaligus menerima bantuan biaya hidup. (Tulisan ini dikirim oleh Muhammad Burniat)