Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 10 Agustus 2017 | 17:25 WIB
  • Surami, Wanita Tangguh dari Pringtali Yogyakarta

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta Guslia
Surami, Wanita Tangguh dari Pringtali Yogyakarta
Photo :
Pemberian bantuan untuk warga kurang mampu.

VIVA.co.id – Menjadi orangtua tunggal, di mana harus banting tulang menghidupi anak-anaknya, bukanlah pilihan bagi semua perempuan. Namun, apalah daya jika hal tersebut terjadi. Mereka yang mengalami hal tersebut, terpaksa harus menelan pil pahit kenyataan.

Adalah Surami (54), seorang perempuan tangguh yang sudah tiga tahun menjanda, karena ditinggal meninggal suaminya. Sudah tiga tahun ibu tiga anak ini menjadi tulang punggung keluarga. Ia menghidupi keluarga dengan menjadi seorang buruh tani dengan penghasilan tak menentu dan minim.

Surami tinggal di Dusun Pringtali, RT16 RW06, Kelurahan Kebonharjo, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo, Yogyakarta. Sebuah wilayah yang rawan pangan di DIY. Sutari tinggal bersama anak kedua dan ketiga. Anak pertama Sutari, yakni Wiji sudah berumah tangga dan sudah tinggal terpisah darinya.

Surami adalah perempuan tangguh. Di usianya yang sudah lebih dari setengah abad, dia masih harus mengurusi Sutek (20), anak keduanya yang mengalami keterbelakangan mental. Beruntungnya, ia mempunyai si bungsu Sutari (17), yang selalu membantu ibunya mengurus Sutek, ketika ia bekerja di sawah. Si bungsu pun kadang membantu ibunya di sawah sepulang sekolah.

Surami menuturkan bahwa dirinya selalu merasa bersalah kepada Sutari. Di usianya yang sudah menginjak 17 tahun, Sutari masih duduk di kelas 1 SMP. Sudah lima tahun anak bungsunya itu putus sekolah karena keterbatasan ekonomi. Selama putus sekolah, Sutari membantu ibunya menjadi buruh di sawah.

Meskipun sudah lama putus sekolah, namun semangat si bungsu untuk menuntut ilmu masih tinggi bahkan semakin tinggi. Jarak menuju sekolahnya yakni di SMPN 1 Samigaluh sangatlah jauh, tetapi tidak menyurutkan semangat Sutari bersekolah.

Lokasi Pringtali yang tidak ada angkutan umum membuat Sutari harus berjalan kaki menuju sekolah yang jaraknya sampai 15 kilometer. Sebenarnya ada ojek di wilayah tersebut, namun karena Surami tidak mempunyai dana lebih untuk memberi ongkos pada putrinya, membuat Sutari harus berjalan kaki menelusuri jalan pintas.

“Semenjak bapaknya meninggal, perekonomian keluarga semakin susah. Sutek tidak lagi berobat, karena dana tidak ada. Sutari harus putus sekolah, karena dananya pun tidak ada. Alhamdulillah sekarang Sutari sudah sekolah lagi. Semoga dengan Sutari sekolah bisa memperbaiki kondisi keluarga,” ujar Surami haru.

Menjadi seorang buruh tani, Surami hanya mendapat penghasilan Rp100 ribu sampai Rp150 ribu per bulan, tergantung pesanan. Beruntung, ia tinggal di rumah peninggalan suaminya, jadi ia tidak perlu memutar otak untuk memikirkan biaya sewa rumah.

Rumah Yatim Yogyakarta yang mengetahui informasi tersebut dari salah satu warga bernama Tanijan langsung mengunjungi kediaman Surami. Ketika ditemui tim, terlihat Sutari sedang menemani kakaknya di halaman rumah. Tidak jauh dari mereka, tim melihat Surami sedang membereskan rumah. Surami saat itu sedang tidak bekerja karena tidak menerima pesanan dari petani.

Dalam kunjungannya, Rumah Yatim Yogyakarta memberikan santunan tunai biaya hidup kepada Surami dan anak-anaknya. Rumah Yatim ingin memberikan apresiasi atas ketangguhan Surami dan keluarga. “Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih atas semua kebaikannya. Kami doakan semoga Rumah Yatim semakin maju dan donaturnya dilindungi Allah. Mohon doanya, agar kami diberikan kekuatan dan kesehatan oleh Allah,” kata Surami sambil menangis.

“Saya merasa bersyukur bisa ditemukan dengan keluarga tangguh ini. Dengan melihat keluarga tangguh ini, saya semakin bersyukur dan bersemangat untuk terus membantu Rumah Yatim menyalurkan amanah dari donatur kepada mereka yang berhak menerimanya,” kata Ecep, salah satu tim blusukan Rumah Yatim Yogyakarta.

Alhamdulillah amanah zakat masyarakat Indonesia yang dititipkan melalui Rumah Yatim telah sampai kepada warga kurang mampu di wilayah Pringtali. Selain kepada Bu Surami, amanah dalam bentuk santunan tunai biaya hidup ini pun telah disampaikan kepada sembilan warga kurang mampu lainnya. Semoga amanah yang dititipkan ini bisa menjadi keberkahan untuk pemberi dan penerima.” tutup Ecep. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)