Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 25 Agustus 2017 | 16:40 WIB
  • Lucunya Bocah Starfish Rayakan Kemerdekaan RI

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Diah Buntari
Lucunya Bocah Starfish Rayakan Kemerdekaan RI
Photo :
Sekolah Starfish rayakan HUT RI ke-72

VIVA.co.id – Belasan bocah berumur 3-5 tahun berbaris rapi. Di hadapan mereka sudah berdiri sepeda-sepeda berhias. Ketika sang guru memberi aba-aba, berduyun-duyun mereka menaiki sepeda. Tak sabar, bahkan ada yang terjatuh. Para guru dan orangtua pun tergelak. Tawa mereka pecah.

Begitulah pemandangan seru, saat murid Sekolah Starfish, yang terletak di Komplek Aeroworld Citra 8, Kalideres, Jakarta Barat merayakan HUT Kemerdekaan RI yang ke-72. Ya, murid sekolah itu mulai dari Nursery hingga Kindergarten merayakan penuh suka cita dengan berbagai lomba. Mulai dari sepeda hias, mengupas telur puyuh, pindah bendera, lomba kelereng, hingga memindahkan ikan. Melihat para bocah yang antusias mengikuti lomba seakan menjadi hiburan tersendiri bagi orangtua yang menyaksikan.

Sekolah Starfish rayakan HUT RI ke-72

Saat lomba mengupas telur, ada seorang murid lucu yang hanya memandangi teman di sampingnya. Mungkin dalam kepalanya, dia berusaha mempelajari bagaimana sahabatnya itu mengupas telur. Mafhum, dia baru genap berusia tiga tahun. Dia baru tersadar ketika diingatkan ibundanya untuk mengupas telur.

Sekolah Starfish rayakan HUT RI ke-72

Keseruan tidak hanya berhenti di situ. Saat lomba pindah bendera dan memindahkan ikan menjadi tontonan menarik juga. Kembali para guru dan orangtua terbahak, melihat para bocah kesulitan menangkap ikan.

Acara yang dimulai sejak pukul 08.00 hingga 11.00 WIB sepekan lalu itu berlangsung meriah. Meski tak menang, tapi mereka bangga, anaknya ambil bagian dari perayaan kemerdekaan. Sebagai bukti penghargaan para calon pemimpin ini atas perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan.

Sekolah Starfish adalah sekolah yang menggunakan konsep homeschooling dimana 3-4 murid ditangani oleh satu guru. Jika muridnya berjumlah 10, maka ada tiga guru yang mengajarkannya. Metodenyan pun menggunakan Cambridge dengan pengantar bahasa Inggris. (Tulisan ini dikirim oleh Diah Buntari, Jakarta)