Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 29 Agustus 2017 | 13:01 WIB
  • Setelah Melarat, Warga Desa Rugemuk Akhirnya Tersenyum

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta Guslia
Setelah Melarat, Warga Desa Rugemuk Akhirnya Tersenyum
Photo :
Bantuan untuk warga Desa Rugemuk.

VIVA.co.id – “Semenjak mereka di sini, kami belum merasakan lagi makna kemerdekaan.” Kutipan di atas merupakan kalimat yang mewakili isi hati warga Rugemuk Dusun II dan III, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang,  Sumatera Utara, saat ditanya mengenai makna kemerdekaan tahun ini.

Warga Rugemuk adalah korban keserakahan kaum kapitalis. Sudah beberapa tahun ini warga Rugemuk hidup melarat dikarenakan pantai tempat mereka mencari rezeki sudah tercemar limbah penambangan pasir dari salah satu perusahaan besar di sana. Sebelum perusahaan tersebut mengeruk pasir Pantai Labu menggunakan alat berat, pantai ini dikenal dengan pemandangannya yang indah. Airnya jernih, bahkan dikenal dengan kekayaan ekosistem biota lautnya.

Namun, setelah para penambang pasir datang dengan alat beratnya, pantai yang awalnya indah kini berubah menjadi pantai dengan air keruh, tak terurus, bahkan tidak terdapat ekosistem biota laut lagi. Terumbu karang rusak, sebagian makhluk laut mati, dan sebagian yang lainnya meninggalkan pantai untuk mencari habitat baru yang lebih baik dari sebelumnya.

Warga yang sebelumnya  bekerja sebagai nelayan dan mampu menangkap ikan yang berlimpah, kini hanya bekerja sebagai pencari kayu bakar, penggembala sapi, dan sebagian kecilnya bekerja di perkebunan sawit. Penghasilan mereka pun sangatlah minim. Lebih minim dibandingkan bekerja sebagai nelayan.

Sungguh miris nasib mereka. Sudah bertahun-tahun mereka hidup melarat di tanah kelahiran yang kaya akan sumber daya alamnya. Semenjak pantai tercemar limbah, yang tersisa hanya jenis kerang saja. Mereka yang tidak mendapatkan uang, terpaksa harus mengambil banyak kerang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Rumah Yatim yang mengetahui hal tersebut dari salah satu relawan, langsung menerjunkan timnya untuk menyalurkan bantuan tunai kepada warga Rugemuk. Namun, bukannya disambut hangat, kedatangan tim Rumah Yatim malah disambut geram warga tersebut. Mereka menyangka tim Rumah Yatim adalah pesuruh dari perusahaan yang telah mengeruk pasir-pasir di Pantai Labu.

Setelah diberi penjelasan yang menghabiskan waktu lama, akhirnya mereka menerima kedatangan tim. Namun, ketika tim meminta fotokopi Kartu Keluarga dan KTP sebagai syarat penerima bantuan, mereka kembali geram. “Kami pun kembali menjelaskan bahwa fotokopi KK dan KTP tersebut ditujukan untuk memenuhi persyaratan penerima bantuan. Dan tidak ada unsur politik dalam kegiatan ini,” kata Jajang.

Menurut Jajang, warga Rugemuk memiliki trauma kepada pendatang baru. Terutama kepada pihak perusahaan yang telah mengeruk pasir pantai. Karena pada beberapa tahun lalu, mereka pernah dibuat terlena oleh janji-janji dari pihak perusahaan yang menjanjikan bantuan kepada mereka.

Pihak perusahaan menjanjikan bantuan jika warga setempat sudah mengumpulkan fotokopi KK dan KTP. Bantuan tersebut telah terealisasi. Tapi sebagai balasannya, mereka menjadikan fotokopi data tersebut sebagai bukti kepada pemerintah setempat bahwa warga Rugemuk menyetujui proyek penambangan pasir di Pantai Labu.

Setelah dijelaskan kembali maksud, tujuan, dan program Rumah Yatim, akhirnya warga Rugemuk tersenyum. Mereka merasa bahagia karena ada sekelompok orang yang menolong mereka dengan tulus tanpa meminta balasan apapun.

“Terima kasih sudah datang ke dusun kami. Beginilah kondisi dusun kami yang seadanya dan dipenuhi debu dari penambangan pasir. Sudah 20 tahun kami tidak mendapat bantuan. Bantuan ini akan sangat berguna untuk kami. Kami akan gunakan uang ini untuk memenuhi kebutuhan pokok,” ungkap salah satu warga Rugemuk. Di momen kemerdekaan ini, Rumah Yatim menyalurkan bantuan tunai peduli sesama, dai, dan biaya hidup kepada warga Rugemuk. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)