Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 31 Agustus 2017 | 16:42 WIB
  • Haji dan Kurban saat Idul Adha, Momentum Kebahagiaan Bersama

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Deni Yusup
Haji dan Kurban saat Idul Adha, Momentum Kebahagiaan Bersama
Photo :
  • REUTERS/Ahmed Jadallah
Puncak Ibadah Haji, Jutaan Jemaah Memadati Arafah

VIVA.co.id – Ibadah haji adalah momentum untuk meningkatkan keimanan. Umat muslim berbondong-bondong pergi melaksanakan ibadah haji. Sebagai rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan bagi orang  Islam yang mampu untuk berkunjung ke Baitullah.

Orang Indonesia termasuk yang begitu religius dan taat terhadap apa yang diperintahkan oleh agama untuk melaksanakan ibadah haji. Hampir setiap tahun banyak orang yang pergi ke Baitullah. Sampai daftar antrean untuk ibadah haji pun penuh dan harus menunggu beberapa tahun.

Sebagaimana disampaikan dalam firman Allah SWT yang menjelaskan tentang hukum haji yang berbunyi sebagai berikut, “Mengerjakan haji adalah kewajiban bagi manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang  yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesunguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran:97).

Bagi orang yang mampu, bisa menjalankan ibadah haji. Dan bagi umat Islam yang belum mampu, disunahkan untuk melaksanakan salat Idul Adha dan memotong hewan kurban. Makna dalam Idul Adha sendiri adalah meningkatkan keimanan dan ketakwaan seorang muslim dan Hari Raya Idul Adha diharap bisa menjadi spirit dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Keimanan yang kuat yang dilandasi dari keyakinan bahwa Allah adalah yang Maha Kuasa dan Maha Kaya. Sehingga kita dianjurkan untuk berkurban dan menyerahkan diri kepada Allah untuk meningkatkan keimanan kita. Bahwa segala sesuatu barang atau kekayaan yang kita miliki hanya titipan Allah SWT.

Sebagaimana dikisahkan asal mula kita berkurban yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar. Bagaimana Nabi Ibrahim diuji oleh Allah SWT dalam meningkatkan keimanannya. Waktu itu, Nabi Ibrahim adalah seorang yang kaya pada zamannya. Ia memiliki kekayaan yang dikaruniai Allah SWT dengan berlimpahnya hewan ternak.

Melalui mimpi, Nabi Ibrahim diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih putranya yang begitu disayang, yaitu Nabi Ismail. Di sinilah ujian terberat keimanan Nabi Ibrahim. Ia harus berkurban tidak hanya harta, tetapi putra yang dicintainya. Kalau hanya harta, pasti dianggap biasa saja. Tetapi ini harta yang paling berharga dan dicintainya, yaitu putra yang begitu dinanti-nantikannya.

Inilah makna yang bisa diambil dari kisah Nabi Ibrahim yang melandasi saat sekarang kita harus berkurban. Harta benda, putra, dan keluarga hanya titipan semata. Keikhlasan kita beriman dan keyakinan yang kuat terhadap Allah SWT, melebihi apa yang kita dapatkan di dunia ini.

Keikhlasan dan berserah diri kepada Allah SWT memang perlu dilatih dan dipraktikkan. Memang terkadang kita sayang pada harta benda yang sebenarnya fana dan bukan milik kita yang hakiki. Semua hanya sebatas titipan Allah SWT semata. Tapi, dari makna berkurban, kita bisa mengambil hikmahnya untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Di sini kita dilatih untuk mengorbankan harta benda kita dalam berkurban. Substansinya seorang Muslim yang telah memiliki kesempurnaan kurban itu bagian dari dirinya sebagai orang yang bertakwa. Tidak merasa diperintah dan menjadi halangan, tetapi telah menjadi keikhlasan untuk lebih dekat kepada Allah SWT.

Dengan berkurban, tidak hanya meningkatkan keimanan dan ketakwaan seorang muslim semata, tetapi memberikan kegembiraan bagi orang lain. Dengan berkurban, kita bisa berbagi dengan sesama yang tidak mampu, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Hubungan sesama manusia merupakan media untuk saling mempererat hubungan sesama muslim. Sehingga kita bisa ikut merasakan penderitaan apa yang dirasakan oleh sebagian dari kita yang kekurangan. Subtansi dari kurban bisa dimaknai dengan memperbaiki dan meningkatkan hubungan vertikal terhadap Allah SWT dan meningkatkan hubungan horizontal dengan sesama manusia.

Kurban menjadi kebahagiaan bagi semua orang. Kita menginginkan bangsa Indonesia maju ke depan dan memiliki kehidupan sosial yang tertata. Tentunya kita bisa belajar dari makna berkurban ini. Insyaallah, kalau semua orang bisa memaknainya dengan benar, bangsa Indonesia akan memiliki tatanan sosial yang baik dan kemajuan seperti yang dicita-citakan selama ini. (Tulisan ini dikirim oleh Deni Yusup, Peneliti Nusantara Riset)