Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 4 September 2017 | 11:51 WIB
  • Kekeringan dan Krisis Pangan di Desa Weningalih Jonggol

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Enuy Nuryati
Kekeringan dan Krisis Pangan di Desa Weningalih Jonggol
Photo :
Kekeringan di Desa Weninggalih.

VIVA.co.id – Kekeringan kembali melanda Indonesia. Hujan yang tak kunjung turun mengeringkan semua persawahan yang menjadi mata pencaharian utama daerah-daerah pertanian tadah hujan. Hal itu pun terjadi di Desa Weninggalih, Jonggol, Bogor, yang mengalami kekeringan sejak kemarau melanda desanya.

Warga desa yang notabene adalah buruh tani di persawahan para pengembang ini terpaksa menganggur. Tak sekadar kehilangan mata pencaharian, mereka pun harus kehilangan sumber mata air. Karena yang biasanya pada musim hujan sumur-sumur yang ada di sekitar rumah terisi dengan air melimpah ruah, kini mereka harus mengandalkan satu sumur besar yang diperebutkan oleh satu RW. Bahkan, kampung sebelah pun turut mengantri demi setetes air yang harus mereka dapatkan dengan susah payah menggunakan timbaan katrol.

“Air di sumur akan habis pada jam-jam tertentu. Biasanya, masyarakat mengambil air jam 18.00 hingga jam 20.00. Setelah itu, air akan muncul kembali pada jam 14.00 sampai jam 17.00,” papar Muslihudin, Manajer Pemberdayaan Rumah Yatim area Jakarta yang menyaksikan sendiri kondisi sumur tersebut.

Menurut Muslih, kondisi air tidak cukup baik untuk diminum karena airnya kuning. Namun, karena tidak ada lagi sumber mata air bersih, maka warga terpaksa mengambil air tersebut untuk keperluan sehari-hari mereka.

Keringnya sumber mata air, mengeringkan juga sumber mata pencaharian mereka. Untuk memenuhi kebutuhan, akhirnya warga Weninggalih harus menanam tanaman lain yang cocok ditanam pada saat kemarau, seperti singkong. Sebagian warga memilih menjadi buruh ternak domba dan kambing agar dapur tetap ngebul. “Jika bulan depan kondisi masih kemarau, kemungkinan mereka akan mengalami krisis pangan atau paceklik,” papar Muslih.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Rumah Yatim hadir di garda terdepan untuk meringankan beban mereka dengan menyalurkan 200 paket sembako kepada dua RT, yakni RT13 dan RT14 di RW06. Hal ini sangat disambut antusias oleh warga yang hadir. Karena bagi mereka, bantuan sembako tersebut bisa meringankan beban kebutuhan mereka. Sehingga untuk beberapa hari atau minggu ke depan mereka tak harus memikirkan dari mana mendapatkan beras.

Tak berhenti sampai di situ, melihat kondisi sumur yang menjadi satu-satunya sumber mata air di sana, Rumah Yatim pun ingin membantu meringankan warga yang sudah cukup kelelahan mengambil air dengan menyediakan toren atau penampung air, dan juga mesin jet pump yang bisa menarik air dengan kedalaman di atas 40 meter. “Untuk mendapakan air, masyarakat harus menggali sumur lebih dari 40 meter. Kalau di bawahnya, air tidak akan didapatkan kecuali saat hujan saja,” tutur Muslih.

Muslihudin juga melanjutkan, kalau Rumah Yatim akan berusaha mencari dana untuk membantu masyarakat mendapatkan toren dan jet pump lagi, agar masyarakat Weninggalih dapat mengambil air dengan mudah. “Insyaallah, kami sudah berkoordinasi dengan pihak Pegadaian Jonggol yang sudah bersedia membantu mereka,” papar Muslih. (Tulisan ini dikirim oleh Enuy Nuryati)