Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 4 September 2017 | 13:59 WIB
  • Pak Parmin, Kisah Penjaga Kampus yang Ditinggal Istrinya

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Andi Kamal
Pak Parmin, Kisah Penjaga Kampus yang Ditinggal Istrinya
Photo :
Pak Parmin, penjaga kampus di Mamuju, Sulawesi Barat.

VIVA.co.id – Bagi para alumni atau mahasiswa/i STIKes ST. Fatimah Mamuju, Sulawesi tentu sangat mengenal sosok lelaki satu ini. Lelaki yang kuat, kreatif, sabar, dan humoris. Ya, namanya Pak Parmin. Sang penjaga gedung kampus STIKes ST. Fatimah Mamuju, Sulawesi Barat.

Pak Parmin adalah sosok yang fenomenal di Kampus STIKes ST. Fatimah. Bagaimana tidak? Hampir 99 persen mahasiswa dan staf mengenalnya, karena Pak Parmin adalah penjaga kampus sekaligus satpam di sana. Pak Parmin sudah selama kurang lebih delapan tahun bekerja di Kampus STIKes ST. Fatimah. Dia sangat mengetahui bagaimana proses perkembangan kampus ini.

“Pertama saya bekerja di kampus ini, saya berdua dengan teman saya. Namun, beberapa bulan kemudian teman saya berhenti bekerja. Sehingga tinggal saya sendiri yang bekerja menjaga gedung, sekaligus satpam di sini,” ujarnya.

Tempat tinggal Pak Parmin di dalam kampus. Kampus menyediakan fasilitas yang cukup layak untuk tempat tinggalnya. Sehingga keseharian Pak Parmin hanya di dalam Kampus saja. Tugasnya adalah merawat, menjaga semua fasilitas kampus, dan mengontrol keamanan sehingga segala aktivitas di dalam kampus dapat berjalan lancar.

“Saya sangat berterima kasih kepada Ketua Yayasan STIKes ST. Fatimah, yakni Bapak H. Arif Dg. Matemmu, SE, M.Kes yang sampai sekarang memberikan kepercayaan kepada saya untuk tetap bekerja di kampus walau usia saya sudah mencapai 50 tahun. Dan saya juga berterimakasih yang sebesar-besarnya kepada pihak kampus yang telah memberikan beasiswa kepada anak saya yang sementara mengambil DIII jurusan Ilmu Keperawatan di sini,” ucapnya.

Pak Parmin adalah ayah tunggal dari satu anak. Istrinya meninggal saat anaknya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. “Setelah istri saya meninggal, saya yang membesarkan seorang diri anak saya. Kami berdua hidup apa adanya. Saya sangat menyayanginya. Sampai sekarang saya masih bekerja keras, semuanya karena anak saya. Dialah motivasi hidup saya,” ceritanya penuh haru.

Pak Parmin sampai sekarang belum memiliki niat untuk menikah lagi, walau anaknya sudah dewasa. Saat ini Pak Parmin hanya fokus pada bagaimana agar anaknya bisa menyelesaikan kuliahnya dan bisa bekerja serta hidup mandiri ke depan. (Tulisan ini dikirim oleh Andi Kamal, Mamuju, Sulawesi Barat)